Ambon, cahaya-nusantara.com
Usai sudah hari-hari melelahkan dari peserta Sinode III Keuskupan Amboina yang datang dari berbagai pelosok Keuskupan Amboina yang terbentang luas di 2 provinsi. Maluku dan Maluku Utara.
Sejak tanggal 9 s.d. 15 September 2019 merupakan hari-hari yang melelahkan tetapi sekaligus hari-hari yang penuh dengan sejarah baru tentang wajah dan perjalanan Keuskupan Amboina ke depan. Mengapa tidak? banyak momen bersejarah terukir dalam satu pekan di bulan September 2019 ini
Hal ini menarik perhatian orang nomor 1 di Keuskupan Amboina Mgr P.C. Mandagi MSC yang pada acara penutupannya merasa perlu menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada peserta Sinode III Keuskupan Amboina, atas kerja keras dan upaya yang telah dilakukan selama sepekan yang telah membuah hasil.
“Terima kasih, terima kasih dan terima kasih banyak, dan ini hasil kerja keras umat Keuskupan Amboina, yang meliputi Maluku dan Maluku Utara,” Ungkap Mandagi, setelah menerima hasil Sidang Sinode III Keuskupan Amboina, yang diserahkan oleh Ketua Stearing Komite Pastor Benhard Rahawarin pada Penutupan Sinode III Keuskupan Amboina yang berlangsung di Gozalo Veloso Ambon Minggu (15/09/2019).
Menurut Bapa Uskup Mandagi, hasil Sinode III Keuskupan Amboina tentunya tidak disimpan sebagai sebuah catatan sejarah belaka, tapi sebaliknya akan diimplementasikan dan dibukti nyatakan, sehingga Sinode ini sungguh – sungguh menjadi alat dan sarana Gereja Katolik, dalam mencapai tujuan yakni Gereja yang sejati
Menurut Pimpinan tertinggi Keuskupan Amboina ini, implementasi hasil Sinode III Keuskupan Amboina, sesuai rencana akan dilaksanakan pada 3 November 2019 mendatang, bertepatan dengan peringatan Santu Fransiscus Xaverius, Rasul besar Maluku dan Gereja Keuskupan Amboina.
Uskup Mandagi selanjutnya mengatakan hasil Sinode III Keuskupan Amboina yang diperoleh, bukan karena kekuatan dan kepintaran yang dimiliki, melainkan adanya kekuatan Roh Kudus yang bekerja melalui Sinode, dengan kata lain, menjadi gereja yang mandiri dan dewasa harus kuat dalam hal kononia, pengelolaan tata gereja dan hadirnya para imam dan biarawan, biarawati. Namun di sisi lain lanjut Mandagi, ada syarat gereja yakni mewartakan pertobatan, melalui pembaharuan diri.
Untuk itu pada kesempatan tersebut Mandagi mengajak, seluruh umat katolik di Maluku dan Maluku Utara, selalu mendengar Yesus, dengan jalan bertobat, “karena dengan pertobatan kita bisa mencapai gereja yang sejati,” ujar Bapa Uskup Mandagi,(CN-03)

