Ambon, Cahayanusantara12.com

Masyarakat Sangihe, Sitaro, Talaud (SANSITAL) Sabtu, 6 Februari
2016 melakukan ritual penutupan Tahun
2015 di pantai Natsepa dalam suasana meriah dan dipuncaki dengan
pemotongan kue Adat Tamo yang diawali dengan
prosesi kue Adat Tamo
memasuki
ruangan. Ketua Organisasi Sansital Ambon, Otang Tahupea
mengatakan setiap daerah memiliki budaya
masing-masing, demikian juga
dengan
daerah Sangihe/Sanger. Menurutnya daerah di ujung utara dari
Sulawesi itu memiliki berbagai budaya yang unik dan
menarik di
antaranya upacara
Tulude. Dikatakan, Tulude yang berasal dari kata
:Suhude”secara harafiah berarti tolak atau mendorong
hingga secara
luas dapat diartikan
sebagai orang Sangihe menolak untuk terus
bergantung pada hal-hal di tahun yang lampau dan siap menyongsong
kehidupan yang baru di tahun yang baru.
Menurutnya Tulude pada
hakikatnya adalah kegiatan upacara pengucapan
syukur kepada Mawu RuataGhenggonaLangi
( Tuhan Yang Maha Kuasa) atas berkat-berkat-Nya
kepada umat manusia selama setahun yang lalu.
Dijelaskan, upacara
masyarakat
Nusa utara Tulude dahulunya dilaksanakan pada tanggal 31
Desember akan tetapi setelah agama Kristen masuk ke
daerah Sangihe
pada abad ke-19
pelaksanaannya diubah menjadi tanggal 31 Januari,
upacara ini diubah tanggal pelaksanaannya agar supaya
tidak mengganggu
perayaan Natal
dan Tahun Baru Kristen. Selanjutnya menurut Tahupia,
upacara Talude telah menjadi agenda tahunan warga
Sangihe khususnya
dan masyarakat
Nusa Utara pada umumnya dan lebih dari itu saat ini
upacara Tulude tidak hanya dilaksanakan di Sangihe
akan tetapi
dilaksanakan di
berbagai tempat yang didiami oleh masyarakat berdarah
Nusa Utara seperti Manado, Bitung hingga Bolang
Mongondow selain
daerah Sangihe.
Pelaksanaan Tulude Sabtu kemarin diawali dengan ibadah
yang dipimpin oleh pdt. Jempormias kemudian
dilanjutkan dengan prosesi
kue
Adat Tamo masuk ke tempat upacara kemudian dilanjutkan dengan
ritual pemotongan kue oleh Ketua Organisasi sebelum
makan siang
bersama dan diakhiri
dengan bergoyang bersama yang memperlihatkan
budaya Sagihe terutama bagaimana kehidupan para ibu
dan bapak keluarga
di Sangihe yang
sewaktu-waktu rela untuk ditinggalkan oleh suami
ataupun istri untuk pergi mencari nafkah. (CN-01)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *