
AMBON, cahaya-nusantara.com
Perayaan Sannipata Waisak 2569 BE/2025 yang digelar oleh Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Provinsi Maluku berlangsung penuh khidmat dan meriah di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, Selasa (20/5/2025). Acara ini menjadi momentum istimewa karena dihadiri langsung oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Permabudhi Indonesia, Prof. Dr. Philip K. Widjaja.
Hadir pula dalam kegiatan ini Wakil Gubernur Maluku, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Maluku, unsur Forkopimda, Staf Ahli Pemkot Ambon, tokoh-tokoh lintas agama, serta umat Buddha dari berbagai wilayah di Maluku, termasuk dari komunitas pedalaman.
Dalam sambutannya, Prof. Philip K. Widjaja menegaskan bahwa ini adalah satu-satunya perayaan Sannipata Waisak di Indonesia yang ia hadiri secara langsung tahun ini.
“Saya memilih Maluku karena kepemimpinan Permabudhi di sini dipegang oleh seorang ibu tangguh, yang dengan semangat luar biasa menjangkau pelosok demi menyebarkan ajaran Buddha. Apa yang beliau lakukan sangat sulit dibayangkan dan layak mendapatkan apresiasi tinggi,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi antara umat Buddha dan pemerintah, khususnya Kementerian Agama, dalam mengimplementasikan program-program keagamaan dan sosial. Ia juga menjelaskan bahwa bulan Waisak merupakan Bulan Bakti Permabudhi, momen untuk memperdalam ajaran Buddha, menunjukkan kepedulian terhadap sesama, serta melestarikan lingkungan.
“Permabudhi telah hadir di 37 provinsi di Indonesia dan terus berupaya menjaga kerukunan, tidak hanya antarsesama umat Buddha, tetapi juga antarumat beragama. Kami ingin menjadi bagian aktif dalam membangun Indonesia yang damai, rukun, dan bermartabat,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Sannipata Waisak Provinsi Maluku, Tjoa Tinnie Pinontoan, yang juga merupakan Ketua Permabudhi Maluku, dalam laporannya menjelaskan bahwa Sannipata merupakan puncak dari rangkaian perayaan Waisak. Tema tahun ini adalah “Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan untuk Mewujudkan Perdamaian Dunia, Menjaga Sila dan Membangun Keluhuran Bangsa”.
“Kami mengundang umat dari berbagai wilayah termasuk komunitas terpencil di pegunungan dan hutan, yang bahkan harus berjalan kaki belasan jam untuk bisa hadir. Hal ini menunjukkan semangat kebersamaan dan cinta ajaran Buddha yang luar biasa,” kata Tinnie.
Rangkaian kegiatan Waisak di Maluku diisi dengan berbagai aktivitas spiritual dan sosial seperti pembacaan Paritta, meditasi, pindapata, pelepasan hewan, penanaman pohon, bersih lingkungan, hingga ziarah ke Taman Makam Pahlawan. Semua ini, menurut panitia, bertujuan memperkuat penghayatan nilai-nilai Buddhis dalam kehidupan bermasyarakat.

Puncak perayaan ditandai dengan ceramah Dhamma oleh Yang Mulia Bhikkhu Dhammasubho Mahathera, serta penampilan seni budaya dari umat Buddha perwakilan daerah, termasuk tarian anak-anak muda dari Pulau Buru dan Alifuru dari Seram Bagian Barat. Kehadiran unsur budaya lokal tersebut memperkuat identitas kebangsaan dalam balutan kebhinekaan.
Acara diakhiri dengan pemberian cenderamata dan sesi foto bersama. Panitia menyampaikan terima kasih mendalam kepada Kemenag Maluku, para donatur, simpatisan, dan relawan lintas agama yang telah berkontribusi menyukseskan acara ini.
“Melalui Sannipata Waisak, kita belajar bahwa Waisak bukan sekadar perayaan, melainkan panggilan untuk memperkuat welas asih, empati, dan kepedulian kepada sesama. Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi bagi seluruh umat dalam membangun kehidupan yang lebih bijaksana dan damai,” pungkas Tinnie.(CN-02)
