Provinsi Maluku, cahaya-nusantara.com – Kamis, 20 Mei 2021 Taman Budaya provinsi Maluku melaksanakan gelar teater melibatkan para sastrawan dari 2 sanggar yakni Sanggar Cakadidi dan Bengkel Sastra Batu Karang yang disiarkan secara langsung dari kanal YouTube Taman Budaya provinsi Maluku

Kepada wartawan di ruang kerjanya kepala Taman Budaya provinsi Maluku Drs. Semi Toisuta mengatakan dengan digelarnya kegiatan teater ini pihaknya berharap adanya pertumbuhan teater di Maluku karena memang diakui Toisuta bahwa dalam realitanya pertumbuhan teater di Maluku  agak lambat,  oleh karena itu Taman Budaya provinsi Maluku selalu memberikan ruang untuk sanggar-sanggar yang menggeluti teater  bisa berekspresi dan karya-karya serta kreativitas mereka bisa ditampilkan.

Hal dimaksudkan agar  pertumbuhan teater di Maluku ini nantinya selevel dengan perkembangan teater di provinsi provinsi lain di Indonesia.

Toisuta mengakui memang dari sisi peralatan dan perangkat Taman Budaya provinsi Maluku mengalami kekurangan jika dibandingkan dengan di provinsi-provinsi lain yang memiliki production house dan banyak Studio serta banyak tempat tempat pertunjukan teater sementara di Ambon memiliki kekurangan oleh karena itu Taman Budaya dalam upaya untuk menjawab apa yang diharapkan oleh pemerintah provinsi Maluku pak Gubernur dalam visi dan misinya terutama dalam pembangunan kebudayaan.

Selanjutnya menurut Toisuta  diharapkan dengan kegiatan ini yakni dengan memperhatikan salah satu fungsi dari teater yakni menyampaikan pesan-pesan moral. Apakah itu disampaikan dalam bahasa-, konsep-konsep  verbal yang sifatnya berupa nasihat tetapi juga pesan moral yang disampaikan juga dalam bentuk kritik kritik kepada masyarakat umum juga bisa saja kepada pemerintah dalam pesan-pesan sastranya, dalam konsep verbalnya seperti misalnya yang ditampilkan oleh sanggar Cakadidi dengan karya dari Farid Lati, seorang penulis, seorang sastrawan  yang menulis tentang “Lautan Lupa” dimana makna yang mau disampaikan kepada publik,  kepada pemerintah kepada negara sesungguhnya bahwa laut Maluku itu kaya,  orang Maluku tidak boleh miskin;  kalau laut Maluku itu kaya berarti kontrasnya orang Maluku tidak boleh miskin tetapi karena lupa garapannya maka nelayan-nelayan menjadi miskin.  Bahkan dalam karyanya Latif dia menulis bahwa kapal-kapal berbendera Indonesia awaknya negara lain prospek lain dari itu adalah lumbung ikan artinya pesan yang mau disampaikan lewat teater itu adalah laut memberi harapan.

Dalam konteks sekarang ini Maluku sebagai lumbung ikan maka harapan terbesarnya orang Maluku ke depan adalah sejahtera

Di sisi lain pesan moral bagi masyarakat yang disampaikan oleh Bengkel Sastra Batu Karang tentang identitas orang Maluku 

“Kita ini alifuru,  orang-orang yang mengangkat Sumpah dan pegang sumpah betul bahkan di dalamnya dia mengatakan kalau bukan anak adat maka tidak mengerti tentang sumpah. Nah sumpah kita itu yang mana sumpah kita itu Pela Gandong;  sumpah kita itu adalah kekuatan yang meniadakan pertumpahan darah Sumpah itu ditulis oleh Dominggus Welem Syaranamual. Sastrawan besar asali Maluku  yang kemudian  ditranspos ke dalam bahasa daerah oleh para.

sastrawan di Bengkel Sastra Batu Karang dan mereka  memainkan dalam perspektif manusia Maluku, manusia alifuru itu.

Nah Apa pesan yang mau disampaikan “katong musti jaga katong punya eksistensi diri”.  itu harus dijaga supaya menjadi perekat yang tidak boleh dilupakan supaya tidak boleh tercerai-berai.

Menurut Toisuta pesan yang disampaikan oleh teater kali ini luar biasa. Artinya masyarakat Maluku sudah berada di zaman milenial dan anak-anak Maluku harus mengerti tentang Siapa orang Maluku sesungguhnya.

Selaku pimpinan Taman Budaya provinsi Maluku selanjutnya Toisuta mengatakan dengan kegiatan ini pihaknya berharap ada produktivitas, adanya peningkatan produksi kesenian dari sanggar-sanggar kelompok-kelompok kesenian. “Ada peningkatan produksi, ada peningkatan Karya Jadi kita tidak stagnan” sebutnya.

Taman Budaya provinsi Maluku Tetap berharap bahwa ketika Taman Budaya menyediakan panggung bagi mereka maka mereka harus kreatif melahirkan karya-karya baru Apakah itu teater, musik,Tari di mana karya-karya baru ini yang membuat masyarakat Maluku kaya dalam berkesenian.

Tidak dari itu ke itu saja tetapi kaya untuk pasar ekonomi kreatif.

Pada bagian akhir yang merupakan penutup kegiatan virtual gelar sastra seni dan kebudayaan Taman Budaya provinsi Maluku tahun 2021 ini menampilkan lagu persembahan dari Fandro Louhenapessy yang mendendangkan lagu berjudul “Aniong Mama”.

Adapun kegiatann Gelar Teater Taman Budaya Provinsi Maluku tahun 2021 ini seluruhnya dibiayaai oleh dana Alokasi khusus (DAK) non fisik BOP Taman Budaya dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan  kebudayaan RI.(CN-02)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *