Ambon, Cahayanusantara12.com
Pendeta D. Leunupun, S.Th. M.Th, mengajak seluruh warga
P. Wetang di kota Ambon untuk hidup saling berbagi kasih sebagaimana Yesus yang
karena kasih Allah Bapa dihadirkan di dalam dunia dalam diri bayi Natal yang
dirayakan kelahirannya di malam natal yang suci. Demikian antara lain refleksi
malam Natal keluarga besar Wetang Kabupaten MBD di Ambon yang
penyelenggaraannya dilaksanakan di gedung
gereja Maranatha Ambon, Senin malam, 7 Desember 2015. Dikatakan, berbagi kasih
sebetulnya punya cakupan yang luas, bias berbagai kasih dalam kaitan berbagi pengetahuan
berbagi kasih dalam pengharapan , berbagi kasih dalam sukacita, bahkan berbagi
kasih dalam dukacita sekalipun, dan berbagi kasih dalam semua aspek kehidupan. Menurutnya,
berbagi kasih itu khususnya bagi orang wetang adalah hidup yang
“bernyolilieta”, Dengan demikian berbagi kasih intinya adalah hidup yang
bernyolilieta itu, sebab bagi orang Wetang, hidup bernyolilieta itu
adalah hidup yang dilandasi oleh cinta kasih sehingga orang Wetang itu dimana pun
dia berada maka jati dirinya adalah ‘nyolilieta itu”. “Jadi orang wetang tidak
mungkin hidup tanpa “nyolilieta”, kata Leunupun, sambil menambahkan jati diri
orang Wetang adalah “Nyolilieta”
Menurutnmya Yesus menghendaki supaya orang Wetang harus hidup seperti itu
dimanapun mereka berada maka nyolilieta harus mereka tampilkan sebagai wujud
dari cinta kasih. “Jadi laeng biking bae laeng, laeng sayang laeng” yang dalam
bahasa Wetang disebut sebagai “itme ni pes pes it me, it me namai it me”, kata
Leunupun sambil menjelaskan dengan hidup bernyolilieta itu maka suasana hidup
persaudaraan itu betul-betul dinikmati, karena dalam hidup persaudaraan yang
sejati itu yang dikenal pula dengan sebuatan pamuli-payala suasana hidup “kalwedo”
(sama dengan syaloom, atau juga menjadi sapaan khas MBD) betul-betul dirasakan,
ada suasana damai.
Selanjutnya, Leunubun mengatakan sering orang mengartikan “kalwedo” itu dengan
sopi, padahal menurutnya “kalwedo” itu adalah ungkapan selamat. “jadi kalau
orang Ibrani mengatakan syaloom, maka orang Wetang mengatakan “kalwedo”, kata
Leunupun sambil menambahkan ketika mereka mengatakan “kalwedo” itu berarti
mereka berada dalam sebuah suasana damai, suasana sejahtera, suasana bahagia,
baik secara rohani maupun jasmani. Oleh sebab itu, lanjut Leunupun dalam
refleksi
natalnya dirinya mengatakan Yesus yang hadir dalam kehidupan orang Wetang
adalah Yesus yang bernyililieta, artinya Yesus yang menghadirkan diri sebagai
Yesus yang penuh Cinta Kasih.
P. Wetang di kota Ambon untuk hidup saling berbagi kasih sebagaimana Yesus yang
karena kasih Allah Bapa dihadirkan di dalam dunia dalam diri bayi Natal yang
dirayakan kelahirannya di malam natal yang suci. Demikian antara lain refleksi
malam Natal keluarga besar Wetang Kabupaten MBD di Ambon yang
penyelenggaraannya dilaksanakan di gedung
gereja Maranatha Ambon, Senin malam, 7 Desember 2015. Dikatakan, berbagi kasih
sebetulnya punya cakupan yang luas, bias berbagai kasih dalam kaitan berbagi pengetahuan
berbagi kasih dalam pengharapan , berbagi kasih dalam sukacita, bahkan berbagi
kasih dalam dukacita sekalipun, dan berbagi kasih dalam semua aspek kehidupan. Menurutnya,
berbagi kasih itu khususnya bagi orang wetang adalah hidup yang
“bernyolilieta”, Dengan demikian berbagi kasih intinya adalah hidup yang
bernyolilieta itu, sebab bagi orang Wetang, hidup bernyolilieta itu
adalah hidup yang dilandasi oleh cinta kasih sehingga orang Wetang itu dimana pun
dia berada maka jati dirinya adalah ‘nyolilieta itu”. “Jadi orang wetang tidak
mungkin hidup tanpa “nyolilieta”, kata Leunupun, sambil menambahkan jati diri
orang Wetang adalah “Nyolilieta”
Menurutnmya Yesus menghendaki supaya orang Wetang harus hidup seperti itu
dimanapun mereka berada maka nyolilieta harus mereka tampilkan sebagai wujud
dari cinta kasih. “Jadi laeng biking bae laeng, laeng sayang laeng” yang dalam
bahasa Wetang disebut sebagai “itme ni pes pes it me, it me namai it me”, kata
Leunupun sambil menjelaskan dengan hidup bernyolilieta itu maka suasana hidup
persaudaraan itu betul-betul dinikmati, karena dalam hidup persaudaraan yang
sejati itu yang dikenal pula dengan sebuatan pamuli-payala suasana hidup “kalwedo”
(sama dengan syaloom, atau juga menjadi sapaan khas MBD) betul-betul dirasakan,
ada suasana damai.
Selanjutnya, Leunubun mengatakan sering orang mengartikan “kalwedo” itu dengan
sopi, padahal menurutnya “kalwedo” itu adalah ungkapan selamat. “jadi kalau
orang Ibrani mengatakan syaloom, maka orang Wetang mengatakan “kalwedo”, kata
Leunupun sambil menambahkan ketika mereka mengatakan “kalwedo” itu berarti
mereka berada dalam sebuah suasana damai, suasana sejahtera, suasana bahagia,
baik secara rohani maupun jasmani. Oleh sebab itu, lanjut Leunupun dalam
refleksi
natalnya dirinya mengatakan Yesus yang hadir dalam kehidupan orang Wetang
adalah Yesus yang bernyililieta, artinya Yesus yang menghadirkan diri sebagai
Yesus yang penuh Cinta Kasih.
Sementara itu, pembina organisasi Pelajar-Mahasiswa
Wetang (GEMPPARNA) Gusti Rumalewang mengatakan sebagai orang Wetang yang berada
di kota Ambon dan khususnya di dalam organisasi GEMPPARNA yang memiliki satu budaya
yang sama akan tetapi di dalam diri masing-masing orang terdapat
perbedaan-perbedaan sebagai khas manusia, namun ia berharap perbedaan yang ada
tidak serta merta memisahkan persatuan GEMPPARNA bahkan orang Wetang
seluruhnya, sebaliknya perbedaan yang ada harus menjadi sebuah kekuatan untuk
membesarkan organisasi mahasiswa pelajar Wetang secara khusus dan warga Wetang
secara umum di Ambon. “Jika perbedaan itu tidak diakomodir dengan baik maka
pasti akan menjadi bumerang bagi orang Wetang bahkan bagi persekutuan GEMPPARNA
yang ada di Ambon ini”, kata Rumahlewang. Meskipun demikian selaku Pembina Rumahlewang
mengatakan dirinya bersyukur karena orang Wetang telah mempunyaiu dasar yakni
hidup “nyolilieta”.
Wetang (GEMPPARNA) Gusti Rumalewang mengatakan sebagai orang Wetang yang berada
di kota Ambon dan khususnya di dalam organisasi GEMPPARNA yang memiliki satu budaya
yang sama akan tetapi di dalam diri masing-masing orang terdapat
perbedaan-perbedaan sebagai khas manusia, namun ia berharap perbedaan yang ada
tidak serta merta memisahkan persatuan GEMPPARNA bahkan orang Wetang
seluruhnya, sebaliknya perbedaan yang ada harus menjadi sebuah kekuatan untuk
membesarkan organisasi mahasiswa pelajar Wetang secara khusus dan warga Wetang
secara umum di Ambon. “Jika perbedaan itu tidak diakomodir dengan baik maka
pasti akan menjadi bumerang bagi orang Wetang bahkan bagi persekutuan GEMPPARNA
yang ada di Ambon ini”, kata Rumahlewang. Meskipun demikian selaku Pembina Rumahlewang
mengatakan dirinya bersyukur karena orang Wetang telah mempunyaiu dasar yakni
hidup “nyolilieta”.
Sementara itu di tempat yang sama, Ketaua GEMPPARNA,
Simon Rumahlewang mengatakan. Tujuan dari pelaksanaan malam Natal warga
Wetang adalah pertama-tama menyukuri kasih Tuhan untuk organisasi
GEMPPARNA, bagaimana menyambut kedatangan Juruselamat yang lahir di
tengah-tengah
dunia ini dan terispirasi oleh kejadian Kelahiran Juruselamat selaku persekutuan
GEMPPAR berupaya untuk menghimpun seluruh masyarakat Wetang yang berada di
Ambon agar lebih erat persaudaraan dan persatuan di tanah rantau. Menurutnya
seiring dengan perkembangan jaman maka terkadang terjadi pergeseran dalam
nilai-nilai budaya maka pihaknya senantiasa berkumpul dengan organisasinya
untuk mendiskusikan berbagai hal untuk mengeliminir pergeseran-pergeseran nilai
yang mempengaruhi masyarakat Wetang di Ambon termasuk melaksanakan ibadah
secara rutin demi terciptanya persatuan dan persaudaraan di antara warga Wetang
umumnya dan GEMPPARNA khususnya.(CN-06)
Simon Rumahlewang mengatakan. Tujuan dari pelaksanaan malam Natal warga
Wetang adalah pertama-tama menyukuri kasih Tuhan untuk organisasi
GEMPPARNA, bagaimana menyambut kedatangan Juruselamat yang lahir di
tengah-tengah
dunia ini dan terispirasi oleh kejadian Kelahiran Juruselamat selaku persekutuan
GEMPPAR berupaya untuk menghimpun seluruh masyarakat Wetang yang berada di
Ambon agar lebih erat persaudaraan dan persatuan di tanah rantau. Menurutnya
seiring dengan perkembangan jaman maka terkadang terjadi pergeseran dalam
nilai-nilai budaya maka pihaknya senantiasa berkumpul dengan organisasinya
untuk mendiskusikan berbagai hal untuk mengeliminir pergeseran-pergeseran nilai
yang mempengaruhi masyarakat Wetang di Ambon termasuk melaksanakan ibadah
secara rutin demi terciptanya persatuan dan persaudaraan di antara warga Wetang
umumnya dan GEMPPARNA khususnya.(CN-06)

