Ambon, cahaya-nusantara.com
Kakanwil Kemenag Provinsi Maluku, Fesal Musaad, SP, M.Pd mengatakan adanya dialog umat beragama baik intern umat beragama maupun antar umat beragama serta antar umat beragama dengan pemerintah itu dilaksanakan agar masyarakat Indonesia taat beragama.
Demikian antara lain penegasan Kakanwil dalam sambutan dan arahannya pada acara dialog intern umat beragama katolik yang digelar di Pasifik Hotel pada Rabu, 16/10.
Dikatakan, setiap tahun kementerian Agama melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk mendorong kerukunan dan perdamaian umat beragama terutama di provinsi Maluku. Oleh sebab itu maka menurut Kakanwil ada kegiatan kerukunan intern umat beragama dimana bukan hanya dialog intern umat katolik akan tetapi juga ada kegiatan dialog intern umat Agama Islam, kemudian intern umat kristen, intern umat agama Hindu, Budha, dan lain sebagainya. dan juga ada dialog antar umat beragama.
Selanjutnya menurut Kakanwil mengapa kegiatan dialog itu perlu dilaksanakan. Hal ini disebabkan karena pemerintah itu menginginkan agar masyarakat Indonesia itu taat beragama, kemudian rukun, cerdas, kemudian sejahtera lahir bathin dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaulat dan berkepribadian berlandaskan gotong royong.
Hal ini sangat penting menurut Kakanwil karena menurutnya di dunia ini tidak ada karya yang lebih penting dari pada mengusahakan masyarakat yang rukun dan damai.
Kakanwil kemudian mengisahkan tentang sejarah keberhasilan provinsi Maluku yang sukses dalam kehidupan umat beragama yang ditandai dengan suksesnya penyelenggaraan MTQ Nasional, Pesparawi Tingkat Nasional dan juga Pesparani Nasional pertama di Maluku yang memang dicanangkan dari Maluku untuk Indonesia.
Juga disebutkan tentang keberhasilan masyarakat Maluku merajut kebersamaan dan toleransi beragama yang mencapai level tertinggi sehingga menyebabkan di tahun 2019 Provinsi Maluku menerima pemghargaan dari Menteri Agama bersama dua provinsi lainnya yang menurut Kakanwil sebuah penghargaan yang memiliki nilai lebih dibandingkan dengan semua penghargaan yang pernah diterima.
Kakanwil menilai semua keberhasilan ini juga tidak terlepas dari adanya lomal wisdom yang dimiliki oleh masyarakat Maluku dengan budaya, sagu selempeng dibagi dua, potong di kuku rasa di daging, Kalwedo, ain ni ain, Manut In mehe tilur, Vuut in mehe Ngivuun yang menurutnya cukup memiliki perekat dan dasar terciptanya kerukunan umat beragama di provinsi Maluku yang menyebabkan meskipun profokator pernah memperdaya masyarakat Maluku yang sempat bertikai akan tetapi berkat budaya yang kuat serta terciptanya kerukunan umat beragama yang baik akhirnya mengalahkan sejarah kelam yang pernah memporakporandakan persaudaraan di Maluku. Hal ini menurut Kakanwil menyebabkan sejumlah negara asing pernah datang dan belajar di Maluku tentang kehidupan umat beragama di Maluku.(CN-03)

