AMBON, cahaya-nusantara.com
Setelah mengheningkan diri dan menjejaki tapak ziarah 25 tahun sebagai religius MSC saya menemukan bahwa pusat perayaan terletak bukan pada diri saya bukan sejumlah karya dan tugas perutusan yang sementara dijalani melainkan momentum tunduk di hadapan Allah, mengungkapkan Betapa besar kasih setiaNya. Bersama pemazmur saya mengidungkan “Kasih setia Tuhan dari selama lamanya hingga selama lamanya”.
Demikian antara lain penegasan RP. Amandus Jemy Balubun MSC dalam sambutannya pada perayaan syukur 25 tahun hidup membiara dan HUT paroki Hati Kudus Yesus Batu Gantung Ambon tempat bertugas saat ini. Minggu, 11/9/2022.
Dikatakan, 25 tahun lalu 44 orang muda memulai masa pembinaan di Novisiat MSC Karanganyar. 25 tahun kemudian tepatnya 10 agustus 2022 masih tersisa 8 orang terdiri dari 4 imam dan 4 bruder. (P Anis salaki, jack renrusun, hermas ansumbi, Anton Rurume, Kisman, Wiliy, dan Yani Wati)
Menurutnya, ada yang bertanya kepadanya, kemana 36 orang lain, iapun mengatakan mereka telah memilih jalan yang benar dimana Allah juga tetap setia bersama mereka. Mereka telah membangun hidup keluarga yang mulia dan suci.
“Kesetiaan Allah tak terbatas. kesetiaan Allah itu sungguh dirasakan, dialami oleh setiap orang. Wajah Allah itu tampak secara terang benderang dalam diri Yesus PuteraNya. Allah yang setia itu menjadi Gembala yang baik. Dalam refleksi bersama teman teman kami menyatakan kegembiraan atas panggilan Tuhan ini.
Energy positif mewarnai refleksi dan permenungan kami. Kami diajak untuk mencecap dan mengendapkan kebaikan kebaikan Allah. Pada setiap masa dan tahun kehidupan panggilan kami di sana Allah selalu menunjukan kebaikanNya.Allah telah berbicara dan memulai karyaNya bahkan sejak kami di dalam Rahim ibu. “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau , dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. (Yer 1:5).” Ujar Yubilaris.
Menurut RP. Balubun, Warta gembira itu mereka amini lewat iman yang sederhana, bahwa Allah memiliki rencana yang indah bagi mereka. Diakuinya Itulah rahmat dari Allah. Rahmat besar yang patut dirawat, dijaga dan disyukuri terus menerus. Rahmat ini mengandung tanggungjawab.
Selanjutnya menurut sang Yubilaris, mereka juga menyadari sungguh bahwa acap kali mereka mengikuti jalan nereka sendiri, mengikuti keinginan mereka sendiri. dan karenanya mereka perlu untuk terus menyadari bahwa rahmat atau harta besar itu mereka bawa dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah limpah itu.
Ia menambahkan, 9Orang Kristen adalah “bejana-bejana tanah liat” yang kadang-kadang mengalami kesedihan, air mata, kesusahan, kebingungan, kelemahan, dan ketakutan (bd. 2Kor 1:4,8-9; 7:5). Namun, oleh karena “harta” sorgawi yang dalam diri mereka, maka mereka tidak dikalahkan. Kekristenan bukan hal menyingkirkan kelemahan, bukan juga semata-mata lmanifestasi kuasa ilahi. Tetapi, kekristenan adalah manifestasi kuasa ilahi melalui kelemahan manusia (2Kor 12:9). Ini berarti bahwa:
Satu. Dalam setiap penderitaan, kita bisa menjadi lebih daripada pemenang oleh karena kuasa dan kasih Allah (Rom 8:37), dan
Dua. Kelemahan, kesusahan, dan penderitaan kita membuka peluang untuk menerima kasih karunia Kristus yang berlimpah-limpah dan mengizinkan kehidupan-Nya dinyatakan dalam diri kita.
Gembala baik yang terus menerus mencari yang tersesat menyatakan betapa Rahmat ilahi ada bukan untuk dirinya sendiri tetapi rahmat itu terus menerus mengalir bagi dunia, gereje dan siapa saja. Sama seperti Dari dalam hatiNya mengalir aliran aliran air hidup bagi mereka yang haus, lelah, sedih, takut. Demikian pula hidup membiara yang dibaktikan bukan bagi dirinya sendiri melainkan persembahan untuk Tuhan dan sesama. Persembahan diri agar orang lain memiliki hidup dan memilikinya dalam segala kelimpahan. Singkatnya adalah kehadiran yang membawa suka cita dan kegembiraan bagi orang orang lain. Inilah hakekat dari hidup membiara atau hidup yang dibaktikan.
“Saya bersyukur karena ada banyak orang ikut berpartisipasi sepanjang ziarah panggilan saya. Keluarga, orang tua, adik kaka, para konfrater, Sahabat dan kenalan, rekan kerja dan para mitra. Secara istimewa umat paroki HKY yang pada tanggal 8 september kemarin meryakan HUT paroki yang ke 24.” Menurutnya, sebagai imam dirinya tentu bersyukur karena pada momen 25 tahun hidup membiara dirinya berada di paroki di tengah-tengah umat. merasakan, mengalami dan berjalan bersama dengan umat paroki. Hadir bersama dengan anak dan remaja, orang muda, orang tua serta keluarga keluarga.
Adapun Tema HUT adalah Paroki Hati Kudus yang semakin mengasihi, peduli dan berpengharapan. Paroki HKY dengan segala dinamiknya telah menjadi rumah iman dan kehidupan bagi setiap orang dari pelbagi latar belakang. Menurutnya, dirinya mengalami umat HKY terus menerus berupaya untuk meneladan Hati Kudus Yesus. Hati yang mengasihi dalam lingkup keluarga dan umat. Hati yang peduli dalam pelbagai pelayaan sosia, hati yang berpengharapan di tengah tengah ketidakpastian hidup, tantangan dan kesulitan hari ini.
“Saya pantas mengucpakan banyak terima kasih kepada Bapa Uskup Amboina, Mgr. Seno Ngutra”tutupnya. (CN-01)

