
AMBON, cahaya-nusantara.com
Upaya Pemerintah Kota Ambon dalam menekan angka stunting menunjukkan hasil yang menggembirakan. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting di Kota Ambon kini berada pada angka sekitar 19 persen atau telah berada di bawah ambang batas 20 persen.
Meski demikian, Pemerintah Kota Ambon masih menghadapi tantangan dalam hal sinkronisasi data pelaporan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Persoalan tersebut dinilai penting untuk segera dibenahi guna memastikan seluruh capaian penanganan stunting dapat terdata secara akurat.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Ambon, Welly Patty, mengatakan seluruh data yang menjadi tanggung jawab daerah telah dilaporkan secara berkala melalui sistem monitoring. Namun, data yang muncul pada sistem pemerintah pusat masih ditemukan perbedaan dengan laporan yang dikirim dari daerah.
“Semua data yang menjadi tugas kami sudah dilaporkan melalui sistem monitoring. Namun, data yang muncul di pusat tidak sama dengan yang kami laporkan. Karena itu perlu pengawalan bersama agar data daerah dan pusat bisa sinkron,” kata Welly Patty kepada wartawan usai mengikuti Upacara Hari Lahir Pancasila di Balai Kota Ambon, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, koordinasi dan pengawasan pelaporan penanganan stunting berada di bawah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Ambon sebagai leading sector. Seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait menyampaikan laporan sesuai bidang tugas masing-masing yang kemudian dihimpun dan dikoordinasikan melalui Bappeda.
Welly menjelaskan, penanganan stunting merupakan program lintas sektor yang melibatkan berbagai instansi. Dinas Kesehatan bertanggung jawab terhadap intervensi spesifik yang berkaitan langsung dengan kesehatan ibu dan anak, sementara intervensi sensitif dijalankan oleh sejumlah OPD lainnya, seperti DPPKB, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Pendidikan, sektor pertanian, serta instansi terkait lainnya.
Seluruh hasil pelaksanaan program tersebut kemudian dievaluasi dalam rapat koordinasi guna memastikan target penurunan stunting dapat tercapai secara optimal.
Di tengah persoalan sinkronisasi data yang masih dihadapi, Welly menegaskan bahwa capaian penurunan stunting di Kota Ambon patut diapresiasi. Berdasarkan data SKI, angka stunting yang telah berada di kisaran 19 persen menunjukkan tren yang positif dan menjadi indikator keberhasilan kerja bersama seluruh pihak.
“Kalau sudah di bawah 20 persen berarti progresnya baik. Sekarang yang perlu terus diperkuat adalah edukasi dan sosialisasi pola asuh kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pola asuh anak masih menjadi faktor penting dalam upaya percepatan penurunan stunting. Karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan pemahaman keluarga mengenai pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pola pengasuhan yang tepat sejak dini.
“Pola asuh sangat berpengaruh. Bukan hanya soal makan sampai kenyang, tetapi bagaimana memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi dengan baik,” pungkasnya.(CNmy)
