Ambon, cahaya-nusantara.com


Sekretaris Jenderal Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI, Dr. Alorna Sarumaha, M.Si, kemarin pagi, Rabu, 16/10 berkenan membuka penyelenggaraan Dialog Interen Umat Beragama Katolik di lantai 2 Pacifik Hotel.


Sebelum membuka dengan resmi pelaksanaan dialog, Sarumaha dalam sambutan arahannya mengatakan, semakin dewasa seseorang  semakin mengenali potensi khususnya yang dapat mengganggu relasi; semakin berkurang tingkat konflik maka semakin nyaman, semakin tenang suatu masyarakat, baik pada tingkat orang perorang maupun kelompok.

Ia mencontohkan ketika peserta dialog berada dalam ruangan yang nyaman, maka akan tenang dan berpikir enak untuk mengikuti kegiatan kecuali agak terganggu dengan kondisi alam yakni Gempa yang masih mengguncang Ambon.


Selanjutnya menurut Alorna berbicara tentang  dialog mengingatkan sosok Alamsyah Ratuprawira Negara, mantan Menteri Agama di era Orde Baru. yang mencanangkan 3 kerukunan yakni kerukunan Intern umat beragama, Kerukunan Antar umat Beragama dan Kerukunan  umat beragama dengan Pemerintah.


Meskipun demikian ia mengakui dalam perjalanan sejarah kemudian istilah-istilah itu tenggelam.begitu saja, entah karena situasi ataupun kondisi yang menyebabkannya akan tetapi semangat 3 kerukunan itu terus menyala.


Menurutnya berbicara dialog mengandaikan para pihak berada pada iklim yang relatif sama, mempunyai tujuan yang sama, dialog ini dimungkinkan jika disetujui, jika yang lain tidak setuju maka yang jalan hanyalah sorotan mata yang tajam sementara tangan sudah meraba-raba, ada yang meraba pisau, ada yang meraba parang, ada yang meraba pistol dan sebagainya.


Selanjutnya menurut orang nomor dua di lingkup Ditjen Bimas Katolik ini, berbicara mengenai dialog dalam ajaran gereja katolik selalu mengisyaratkan adanya cinta yang tulus yang menempatkan sesama manusia sebagai rekan kerja dimana di dalam agama disebut sebagai rekan kerja Tuhan untuk menciptakan dunia yang baru. Sekjen kemudian menunjuk apa yang tertera dalam Kitab Kejadian Bab 1 ayat 26, Ketika Tuhan mengatakan mari kita menciptakan manusia.


Disebutkan kata “kita dalam ayat tersebut menggambarkan dialog. Selanjutnya secara panjang lebar Sekjen menjelaskan tentang betapa pentingnya dialog baik secara intern gereja maupun antar umat beraga serta antara umat beragama dengan pemerintah.

Nampak sekali di kesempatan itu antusiasme peserta terhadap pemaparan Sekjen sehingga dua babakan pertanyaan rasanya belum cukup bagi peserta yang berlomba-lomba mengajukan pertanyaan dan diakhiri dengan adanya harapan agar pertemuan semacam ini boleh dilakukan lagi di waktu-waKtu mendatang.(CN-03)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *