Ambon, cahayanusantara.com

Uskup Diosis Amboina Mgr. P.C. MandagI MSC mengatakan dalam minggu depan Keuskupan Amboina melaksanakan Sidang Sinode dalam arti Umat Keuskupan Amboina bersama Uskup dan kaum awam,  biarawan-biarawati para imam mau berjalan bersama untuk melihat kembali keadaan dari Gereja Katolik Keuskupan Amboina di tahun-tahun yang lampau sesudah sinode yang kedua yang berlangsung pada tahun 2004. Demikian antara lain penegasan Uskup Mandagi kepada wartawan di Keuskupan Amboina, Jumat, 6/9 dalam sebuah konferensi pers.

Dikatakan,Gereja Keuskupan Amboina harus melihat kembali supaya jangan sombong karena mesti diakui dalam perjalanan selama ini ada keberhasilan akan tetapi ada pula hambatan dan tantangan sehingga dengan pengalaman yang ada,Gereja membaharui diri untuk maju ke depan.      

Disebutkan tema dari Sinode adalah inti dari hidup kekristenan yakni pembaharuan diri.”Kalau Gereja tidak membaharui diri itu bukan Gereja”ujar Uskup sambil menambahkan Gereja harus terus membaharui diri karena memang Gereja itu cuma merupakan tanda keselamatan Allah bagi dunia, mengungkapkan kehadiran Allah tetapi Gereja juga tidak sempurna dalam mengungkapkan kehadiran Allah karena banyak cacad.

Selanjutnya Uskup Mandagi menguraikan tentang apa saja yang harus diperbaharui antara lain tentang persaudaraan.

Uskup mengakui selama ini persaudaraan yang ada dalam Gereja katolik sudah bagus dan sebagai Uskup selama 25 tahun dirinya boleh bangga akan hal itu karena selama 25 tahun dirinya melihat persaudaraan antar umat, antara umat dengan para pastor, antara umat dengan Biarawan-biarawati, juga persaudaraan dengan umat beragama lain dan umat dengan pemerintah sudah bagus dan dirinya berbangga  sebagai Uskup. Uskup Mandagi mengakui bahwa hal itu juga bukan atas jasanya melainkan perjuangan umat Keuskupan Amboina dan semata-mata adalah jasa dari Roh Kudus yang senantiasa mendampingi Gereja dan umat-Nya.

Selain Persaudaraan Uskup juga menyebutkan Gereja Keuskupan Amboina sekarang  ini sudah bisa beribadah dan merayakan ekaristi dengan banyak karena sekarang ini sudah ada banyak imam sehingga dimana-mana bisa merayakan ekaristi karena awam bisa memimpin ibadah akan tetapi perayaan ekaristi hanya bisa dipimpin oleh imam atau pastor dimana saat dirinya ditahbiskan jadi Uskup hanya ada 33 pastor di Maluku, saat ini sudah menjadi 150 pastor, artinya perayaan ekaristi sudah bisa dirayakan dimana-mana kata Uskup.”juga saya betul-betul bangga bahwa sudah banyak orang katolik, termasuk umat dari agama lain juga betul-betul menjadi saksi dan kebaikan Allah di Tengah-Tengah masyarakat,membela perdamaian,membela keadilan, saksi di tengah-tengah masyarakat untuk memperjuangkan hak-hak asasimanusia.

Uskup juga menyatakan kebanggaannya karena banyak keluarga katolik yang hidupnya baik, tidak menyeleweng dalam hidup keluarga memegang teguh ikatan perkawinan dan tidak menambah istri maupun suami tetapi setia dalam hidup berkeluarga yang menurut uskup itu luar biasa. Tetapi juga yang dilihat dan dirasakan Uskup sesudah Sinode Keuskupan Amboina yang kedua tahun 2004 ialah soal pengorbanan dimana menurut pimpinan Spiritual Gereja Katolik Keuskupan Amboina ini percuma jika tidak ada semangat berkorban, karena pada dasarnya kekristenan tanpa pengorbanan itu sama saja dengan omong kosong. Karena sebagai pengikut Yesus umat dituntut untuk selalu berkorban bahkan rela berkorban seperti Yesus yang demi umat manusia rela mati di kayu salib.(CN-02)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *