Ambon,
cahaya-nusantara.co.id
Kuliah atau belajar di Sekolah Tinggi
Pendidikan Agama Katolik (STPAK) St. Yohannes Vianney Ambon sangat jauh berbeda
dengan belajar pada Perguruan Tinggi lainya dengan kampus-kampus yang lainnya
mengingat di STPAK Ambon tidak hanya mengajarkan pengetahuan bagi mahasiswanya
melainkan lebih dari itu yang sangat ditekankan adalah soal iman dan moral
mahasiswa.
Demikian antara lain penegasan salah
satu wisudawan STPAK yang dilepas secara resmi oleh almamater STPAK Pada hari
Jumat, 1/12/2017.
Menurutnya belajar di STPAK selama kurun
waktu lebih dari empat tahun menggeluti pendidikan pada lembaga perguruan
tinggi Pendidikan Agama Katolik tersebut bukan hanya soal pengetahuan semata
yang diraihnya tetapi bagaimana lembaga itu mempersiapkan mahasiswa yang bakal
menjadi pimpinan itu dengan sejumlah 
etika moral dan juga tercermin dalam persiapan iman yang kuat menjadi
ciri khas tersendiri, maka tidak mengherankan kalau pada dosen di kampus ini
mayoritasnya para pastor dengan Ketua Tingginya adalah seorang Pastor. 
Selanjutnya kepada wartawan Mario Namsa,
anak seorang Kepala SD di Kabupaten Kepulauan Aru menuturkan tentang suka duka
belajar di STPAK St. Yohannes Vianey Ambon yang menurutnya lebih banyak duka
dibandingkan suka, meskipun demikian menurutnya anak kedua dari pasangan Bapak
Simon Namsa dan Afra Yeeh ini yang memberikan kekuatan bagi dirinya untuk terus
berjuang menyelesaikan studinya di STPAK adalah sebuah obsesi atau impiannya
untuk memperbaiki peranan seorang guru di kelas. Oleh sebab itu ia kemudian memilih
judul skripsinya “Peranan guru PAK  Dalam
Pengelolaan Kelas Pada Pembelajaran PAK”.
Kepada wartawan Mario mengatakan
tertarik untuk menulis judul ini  karena
adanya pengamatan bahwa banyak guru dewasa ini dalam mengajar hanya
memperhatikan soal materi yang diajarkan semata dengan mengabaikan pengelolaan
kelas, pada hal di sisi lain pengelolaan kelas sangat penting karena di
dalamnya peserta didik betul-betul diajarkan untuk bersikap yang baik dalam
menerima materi”, ujar Mario.
Sementara itu di tempat yang sama
orangtua Mario, Ny. Afra Namsa sembari meneteskan air mata keharuannya
mengucapkan syukur kepada Tuhan atas sukses yang diraih oleh putranya sambil
mengatakan jika dibandingkan dengan pendapatan suaminya yang hanya sebagai
seorang kepala sekolah dasar di tempat terpencil seperti di Aru dimana untuk
membiayai kehidupan keluarga yang masih terasa kurang akan tetapi putranya bisa
bertanggungjawab mengelola uang kiriman orangtuanya yang meskipun sedikit dan
tidak cukup membiayai studi dan kehidupannya di kota Ambon akan tetapi bisa
sampai pada puncak perjuangan yang ditandai dengan wisuda sarjana bersama 28
rekannya yang lain.
Sementara itu, mantan Pembimas Katolik
Kanwil Kemenag Provinsi Maluku, Drs. Sil Duarmas, M.Si lewat ponsel
mengharapkan apa yang telah diraih oleh STPAK St. Yohannes Vianey Ambon agar
terus ditingkatkan lagi.
Selaku pejabat yang bersama sama dengan
pihak Keuskupan Amboina ikut mendirikan STPAK Ambon, Duarmas berharap pihak
Keuskupan Amboina agar terus berupaya membuka diri bagi kemungkinan penegrian
STPAK Ambon mengingat jika hal itu terjadi maka STPAK akan sangat terbantu
dengan anggaran sepenuhnya dari APBN yang dengannya akan memungkinkan sekolah
Tinggi itu terus berkembang dengan melebarkan sayapnya dengan menambah sejumlah
prodi lain sehingga tidak statis dengan hanya mengandalkan satu prodi saja
yakni Pendidikan Agama Katolik.
Duarmas sedikit menyayangkan karena di
saat dirinya masih menjabat selaku Pembimas Katolik di Kanwil Kemang Provinsi
Maluku justru sekolah tinggi itu telah diwacanakan oleh Kemenang untuk
dinegerikan sehingga dana-dana yang bersumber dari APBN dalam bentuk Daftar
Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang memiliki nilai bukan jutaan rupiah
melainkan milyaran rupiah,
Menurutnya pada tahun 2011 lampu hijau
untuk sekolah tinggi itu mendapatkan anggaran tersebut telah terbuka lebar akan
tetapi karena belum mendapatkan restu dari pihak Keuskupan Amboina sehingga
peluang tersebut kemudian ditangkap oleh Kalimantan Barat yang akhirnya
memperolehnya.
Duarmas menambahkan jika saja peluang
direspons secara baik oleh Keuskupan Amboina maka seluruh pembinaan baik secara
teknis maupun hal yang prinsipil di sekolah tinggi itu menjadi tanggungjawab
dari negara yang dibebankan pada APBN. Sebagai contoh, kata Duarmas di tahun
2017 ini saja Sekolah Tingggi Agama Katolik di Kalbar itu telah mendapat DIPA
sebesar 30 milyar rupiah untuk membiayai hal teknis dan prinsipil di sekolah
tinggi tersebut.

“Sangat disayangkan Gereja Katolik Maluku
tidak mau membuka diri untuk dibiayai 100 % oleh Negara. Dengan kata lain
Gereja Katolik Maluku menutup pintu untuk negara hadir guna memberi jaminan dan
perlindungan penuh kepada Gereja sesuai arah regulasi di Republik ini”, ujar
Duarmas.(CN-02)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *