Ambon,cahayanusantara12.com
Oikumene (IAKO) BIndonesia Timur (INTIM) Ambon, Pdt. Prof. Dr(HC). S.D. Nuniary, M.Min mengatakan,
berbicara tentang kebutuhan dasar garam berarati bahan dasarnya adalah air laut. Oleh sebab itu air laut
yang standarnya memenuhi kriteria untuk
dijadikan garam cuman air laut di
Maluku yang karena kandungan yodium garamnya tinggi. Demikian antara lain penegasan Nuniary kepada wartawan
seusai memimpin sidang senat
terbuka dalam rangka Dies Natalisnya yang ke-XXXIII dan Wisuda Sarjana Satu (S1) dan Sarjana Dua (S2), Senin,
28/9. Dikatakan, hingga saat ini Indonesia
masih mengimpor garam, sementara bahan
dasar untuk pembuatan garam itu berlimpah ruah di Indonesia
Timur, khususnya di Maluku. Dari mana baru
Indonesia masih mengimpor garam?
Sedangkan dia punya bahan baku terbesar ada di Indonesia Timur, Maluku ini”. Kata Nuniary sambil menambahkan maksud
dirinya menjadikan tambang terbesar
di dunia adanya di Maluku ini. Menurutnya
jika pemerintah berkeinginan untuk menghentikan kegiatan impor garam maka sudah saatnya pemerintah berusaha
menanamkan investasi di Maluku untuk
mengolah laut Maluku yang terhampar luas ini dengan bisa menggunakan tenaga surya ataupun tenaga
listrik untuk mendapatkan garam
yang banyak dengan kualitas garam yang terbaik mengingat kandungan yodium garam pada air laut di
Maluku sangat tinggi.
Lebih jauh Nuniary mengatakan jika dibandingkan
dengan pengolahan garam di Jawa
diolah di dalam sawah di dalam tambak-tambah tanah, sementara di Maluku lautnya yang luas ini memungkinkan
garamnya sangat banyak.(CN-01)
Oikumene (IAKO) BIndonesia Timur (INTIM) Ambon, Pdt. Prof. Dr(HC). S.D. Nuniary, M.Min mengatakan,
berbicara tentang kebutuhan dasar garam berarati bahan dasarnya adalah air laut. Oleh sebab itu air laut
yang standarnya memenuhi kriteria untuk
dijadikan garam cuman air laut di
Maluku yang karena kandungan yodium garamnya tinggi. Demikian antara lain penegasan Nuniary kepada wartawan
seusai memimpin sidang senat
terbuka dalam rangka Dies Natalisnya yang ke-XXXIII dan Wisuda Sarjana Satu (S1) dan Sarjana Dua (S2), Senin,
28/9. Dikatakan, hingga saat ini Indonesia
masih mengimpor garam, sementara bahan
dasar untuk pembuatan garam itu berlimpah ruah di Indonesia
Timur, khususnya di Maluku. Dari mana baru
Indonesia masih mengimpor garam?
Sedangkan dia punya bahan baku terbesar ada di Indonesia Timur, Maluku ini”. Kata Nuniary sambil menambahkan maksud
dirinya menjadikan tambang terbesar
di dunia adanya di Maluku ini. Menurutnya
jika pemerintah berkeinginan untuk menghentikan kegiatan impor garam maka sudah saatnya pemerintah berusaha
menanamkan investasi di Maluku untuk
mengolah laut Maluku yang terhampar luas ini dengan bisa menggunakan tenaga surya ataupun tenaga
listrik untuk mendapatkan garam
yang banyak dengan kualitas garam yang terbaik mengingat kandungan yodium garam pada air laut di
Maluku sangat tinggi.
Lebih jauh Nuniary mengatakan jika dibandingkan
dengan pengolahan garam di Jawa
diolah di dalam sawah di dalam tambak-tambah tanah, sementara di Maluku lautnya yang luas ini memungkinkan
garamnya sangat banyak.(CN-01)
