Ambon,Cahayanusantara12.com
Rektor Institut Agama dan Keagamaan Oikumene (IAKO)
Indonesia Timur (Intim) Ambon, Pdt.Prof Dr.(HC) S.D. Nuniary. M.Min di Kampus
IAKO Kamis (24/9) mengajak semua pihak baik Pemerintah dan swasta lebih-lebih lembaga
pendidikan tinggi untuk bersama maju Jadikan Maluku lumbung Ikan Nasional. Menurutnya,
kelembagaan yang ada di Maluku  seharusnya memiliki konsep operasional
tentang bagaimana masing-masing pihak mewujudkan Maluku lumbung ikan nasional.
Berbicara terkait dengan Maluku Lumbung Ikan Nasional,
menurutnya  ada dua istilah besar di situ,  yaitu lumbung dan Ikan.
Kalau Lumbung, berarti siapa saja yang butuh akan disuplai dari lumbung
tersebut.
Sementara untuk Ikan menurut Nuniary, dalam arti yang
luas adalah semua jenis ikan, seperti Ikan dasar, ikan layang termasuk kerang-kerangan
yang habitatnya di Maluku itu justru memiliki posisi yang sangat strategis,
karena laut di Maluku banyak menyimpan makanan ikan berupa plankton-plankton.
:jadi Plankton itu bisa ada di permukaan, tengah air  dan di dasar air
laut. Dan ini makanan utama untuk ikan”, kata Nuniary menjelaskan.
Lebih lanjut Nuniary maksud dari dirinya mengajak
masing-masing kelembagaan untuk maju sama-sama dan lebih spesifik Lembaga yang dipimpinnya
yakni IAKO  dimana sejak awal tahun 2015 sudah menggagaskan Lokakarya
Implementasi Maluku lumbung ikan nasional dan pihak  Pemerintah Pusat
sudah merespons dengan surat sedangkan yang tidak merespons adalah Pemerintah
Daerah ini, kata Nuniary sambil menambahkan pihaknya masih mempertanyakan 
Pemerintah daerah masih menganggap IAKO Intim Ambon adalah sebuah Lembaga yang
tidak masuk nominasi, sehingga desakan-desakan dan usul-usul yang disampaikan
IAKO kepada pemerintah daerah, khususnya  gubernur tidak pernah merespons baik
lisan maupun tulisan sampai hari ini.
Namun bagi IAKO menurut Nuniary bukanlah menjadi masalah
yang besar sebaliknya bagi IAKO konsep dan program yang sudah dirancang tetap berjalan,
dengan ketentuan sangat dibutuhkan peraturan pemerintah tentang Maluku lumbung
ikan nasional. Menurutnya peraturan ini sangat penting, kalau belum ada maka
yang pasti akan terjadi keos dalam peran serta masyarakat dan lembaga-lembaga
Pemerintah maupun non pemerintah dalam berpartisipasi membangun Maluku lumbung
ikan nasional.
,”Jadi kalau Pemerintah pusat belum menurunkan itu
(peraturan,red) maka ini adalah sebuah keaiban yang besar, biarpun itu belum
ada tetapi IAKO sudah mencanangkan programnya yang secara kasak mata bisa dilihat
ialah menangkap ikan  di pesisir pantar di Maluku yang sesuai dengan 
DPRDprovinsi Maluku adalah ada 12 gugus pulau yang merupakan wilayah
pengembangan yang berkaitan dengan pengolahan maupun berkaitan dengan budi
daya,”ungkap Nuniary.
Menurutnya, bagi IAKO budi daya berhubungan dengan
kemaritiman bukanlah kelautan karena kelautan berbeda dengan maritim. Jadi
menurut Profesor Nuniary, kemaritiman itu menyangkut apa yang ada di atas air,
apa yang ada di tengah air laut dan apa yang ada di dasar air laut. Itu berarti
yang harus disiapkan oleh pemerintah, kata Dia, adalah insfrastruktur di atas
air laut berupa kapal-kapal tangkap yang memenuhi syarat, sedangkan di tengah
air menurut Nuniary, adalah teknologi menangkap, dan IAKO memiliki alternatif
menangkap ikan antara kedalaman 3 meter sampai 100 meter dengan menggunakan
alat tangkap Bubu.
Adapun Alat tangkap bubu, menurut Rektor IAKO, secara
turun-temurun sudah ada di Maluku dan perlu dihidupkan atau diinovasi lagi
untuk masyarakat secara spontan dan terorganisasi melakukan, memelihara dan mengembangkan
isi apa saja yang ada di laut. Untuk itu dalam Dies natalis IAKO ke 33 tanggal
27 September dijadikan momentum yang pelaksanaan kegiatannya jatuh pada tanggal
28 hari Senin, dalam wisuda sarjana I dan sarjana II dan juga sekaligus mewisuda
beberapa spesialis ahli teknologi pembuatan Bubu dalam arti ahli merekayasa
bubu dan ahli juga dalam menangkap ikan dengan Bubu, dengan tema yang diangkat
adalah Yesus Tanase Maluku Lumbung Ikan Nasional.
Dikatakan, Judul ini diangkat menurut  karena cerita
dalam Alkitab sangat jelas dibaca oleh siapa saja bahwa Yesus benar-benar dalam
lingkungan Kelautan adalah Tanase Unggulan yang memberi komando kepada para
nelayan untuk mengerjakan teknologi penangkapan yang sesuai dengan ilmu
kemaritiman, ilmu laut pada saat Yesus datang dan melihat mereka yang sementara
secara operasional rutin melakukan penangkapan ikan.
Intinya menurut Nuniary adalah ajaran-ajaran kitab suci
yang diangkat baik dari Alkitab maupun Al-Quran itu yang mengilhami dan
mendorong semua pihak untuk benar-benar menyukseskan Maluku Lumbung Ikan Nasional;
yang pada saatnya Maluku ini bukan saja lumbung ikan itu berguna untuk nasional
akan tetapi bisa go Internasional, sebab apabila dipelajari peta kelautan Maluku
ini, menurut Nuniary  92 sekian persen , adalah laut sementara Pulau hanya
7 persen saja, tegas Nuniary.
Dengan demikian Maluku bukan saja nanti isi dalam arti Biotanya saja menjadi
andalan Maluku Lumbung Ikan Nasional, tetapi air laut Maluku ini harus menjadi
air laut yang dikelola menjadi Garam yang punya kualitas prima untuk disuplai
dunia. Hal ini menurutnya belum dilirik oleh Pemerintah, karena untuk membuat pabrik
yang menghasilkan garam yang unggul harus mengolah air laut Maluku.
Untuk itu IAKO dengan Program ini sudah mendirikan
Akademi Teknologi untuk mengolah hasil-hasil Biota Laut dan akademi teknologi
Bubu ini dibangun untuk mendidik anak-anak Maluku Tamatan SD , SMP, SMA Perguruan
tinggi maupun pengangguran . Akademi ini bisa menjadi konsep dasar Maluku Eksis
ke depan menjadi Lumbung Ikan Nasional, dan ini hanya dibatasi dari pesisir
pantai sampai 100 meter ke laut.(CN-03)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *