AMBON, cahayanusantara12.com
Uskup Diosis Amboina mengatakan dewasa ini Banyak
sekali anak yang terlibat dalam kekerasan yang bertolak dari
kebodohan-kebodohan, kebodohan intelektual, tetapi juga kebodohan spiritual.
Banyak anak termasuk para guru mengalami krisis. Akibat dari kebodohan
intelektual maka tidak heran banyak sekali kekerasan yang terjadi yang
dilakukan oleh anak-anak. Uskup mencontohkan seorang anak yang Minggu kemarin melakukan
kekerasan pembunuhan terhadap mantan kekasihnya di Jakarta.
sekali anak yang terlibat dalam kekerasan yang bertolak dari
kebodohan-kebodohan, kebodohan intelektual, tetapi juga kebodohan spiritual.
Banyak anak termasuk para guru mengalami krisis. Akibat dari kebodohan
intelektual maka tidak heran banyak sekali kekerasan yang terjadi yang
dilakukan oleh anak-anak. Uskup mencontohkan seorang anak yang Minggu kemarin melakukan
kekerasan pembunuhan terhadap mantan kekasihnya di Jakarta.
Demikian antara lain penegasan Uskup Mandagi dalam
khotbahnya saat memimpin Misa pembukaan Lokakarya PAUD Nasional-TK
Katolik. Selanjutnya pemimpin spiritual umat Katolik Keuskupan Amboina ini kemudian
menyoroti tentang berbagai kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak, termasuk di
Ambon dimana sering terjadi anak-anak muda sering nongkrong di jalan jalan
meskipun pada waktu seharusnya masuk ke gereja. Bahkan banyak sekali anak
muda di Ambon juga menjadi begal di jalan-jalan. Hal ini menurut Uskup akibat
dari kegagalan orangtua di rumah dalam pembinaan terhadap anak dan berimplikasi
juga pada kegagalan guru di sekolah dalam mendidik anak-anak tersebut. Meski demikian,
menurut Uskup bertolak dari ungkapan Petrus dalam Kitab Suci khususnya
dalam teks bacaan tentang penjala manusia, Uskup berpesan kepada para guru
untuk tidak selalu terpaku pada apa yang selama ini mereka jalankan tetapi lebih
dari itu harus berubah dalam karakter dan pola pembinaan terhadap siswa.
khotbahnya saat memimpin Misa pembukaan Lokakarya PAUD Nasional-TK
Katolik. Selanjutnya pemimpin spiritual umat Katolik Keuskupan Amboina ini kemudian
menyoroti tentang berbagai kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak, termasuk di
Ambon dimana sering terjadi anak-anak muda sering nongkrong di jalan jalan
meskipun pada waktu seharusnya masuk ke gereja. Bahkan banyak sekali anak
muda di Ambon juga menjadi begal di jalan-jalan. Hal ini menurut Uskup akibat
dari kegagalan orangtua di rumah dalam pembinaan terhadap anak dan berimplikasi
juga pada kegagalan guru di sekolah dalam mendidik anak-anak tersebut. Meski demikian,
menurut Uskup bertolak dari ungkapan Petrus dalam Kitab Suci khususnya
dalam teks bacaan tentang penjala manusia, Uskup berpesan kepada para guru
untuk tidak selalu terpaku pada apa yang selama ini mereka jalankan tetapi lebih
dari itu harus berubah dalam karakter dan pola pembinaan terhadap siswa.
Menurut Uskup, dalam peristiwa kisah Petrus
yang diutus sebagai penjala manusia di Danau setelah menangkap ikan yang banyak
sampai jalanya koyak, ia mengikuti perintah dari Tuhan Yesus yakni bertolak
lebih dalam lagi kemudian menebarkan jalanya dan apa yang terjadi kemudian
adalah banyak sekali tangkapannya, meskipun sebelumnya tidak ada tangkapan
meskipun telah berusaha semalam suntuk yang berlangsung di Gereja Katedral
Ambon, Kamis, 3 September 2015.
yang diutus sebagai penjala manusia di Danau setelah menangkap ikan yang banyak
sampai jalanya koyak, ia mengikuti perintah dari Tuhan Yesus yakni bertolak
lebih dalam lagi kemudian menebarkan jalanya dan apa yang terjadi kemudian
adalah banyak sekali tangkapannya, meskipun sebelumnya tidak ada tangkapan
meskipun telah berusaha semalam suntuk yang berlangsung di Gereja Katedral
Ambon, Kamis, 3 September 2015.
Menurut Uskup kebodohan dan kekerasan yang
dilakukan oleh anak-anak pasti bisa dieliminir dengan adanya kerja keras dari
para guru dan orangtua jika para guru mau berubah dalam perayaan pembukaan
Lokakarya tersebut Uskup bahkan mengutip pesan Paus Fransiskus saat pertama
kali memimpin misa kepada para kardinal di Fatikan saat dirinya ditahbiskan
menjadi Paus sambil mengatakan “Berjalanlah Terus”, artinya menurut Uskup, Paus
mengajak semua segenap pembantunya dan juaga seluruh umat sejagat untuk tetap berjalan
dan melakukan perubahan serta mencoba untuk menjaga kemurnian diri
masing-masing karena tiba saatnya ketika orang tidak bisa bergerak lagi maka
yang ada hanyalah mempertanggungjawabkan hidup dan perbuatannya di hadapan
Tuhan.(CN-03)
dilakukan oleh anak-anak pasti bisa dieliminir dengan adanya kerja keras dari
para guru dan orangtua jika para guru mau berubah dalam perayaan pembukaan
Lokakarya tersebut Uskup bahkan mengutip pesan Paus Fransiskus saat pertama
kali memimpin misa kepada para kardinal di Fatikan saat dirinya ditahbiskan
menjadi Paus sambil mengatakan “Berjalanlah Terus”, artinya menurut Uskup, Paus
mengajak semua segenap pembantunya dan juaga seluruh umat sejagat untuk tetap berjalan
dan melakukan perubahan serta mencoba untuk menjaga kemurnian diri
masing-masing karena tiba saatnya ketika orang tidak bisa bergerak lagi maka
yang ada hanyalah mempertanggungjawabkan hidup dan perbuatannya di hadapan
Tuhan.(CN-03)

