AMBON,
cahayanusantara12.blospot.com
Pasar Tagalaya yang nampak dari depan seperti sebuah
Mall akan tetapi jika masuk di dalamnya seperti layaknya Molenk, begitulah
sindiran sejumlah pedagang Kali Lima (PKL) di Pasar Tagalaya yang ikut
merasakan keanehan penanganan Pemerintah Kota terhadap Pembangunan Pasar
tersebut yang terkesan menghamburkan dana jutaan bahkan mencapai milyaran
rupiah akan tetapi tidak memecahkan problem PKL bahkan saat ini ada lagi upaya
Pemkot untuk menambah penghamburan dana bagi pembangunan pasar tersebut.
Demikian antara lain penegasan salah seorang pengamat
pembangunan sekaligus aktivis, RB, di kota Ambon yang enggan menyebutkan
namanya,
Menurutnya Pemerintah Kota sebaiknya berpikir
bagaimana caranya memperoleh lahan lainnya untuk membangun sebuah pasar yang
representatif bagi para PKL di Kecamatan Nusaniwe ketimbang memaksakan diri
untuk membangun pasar Tagalaya yang dinilai tidak cocok bagi aktivitas sebuah
pasar, apalagi saat ini pemerintah kota bagaikan menampar muka sendiri dengan
mengalihkan lagi jalur kendaraan dari Kudamati, Airsalobar dan Amahusu ke jalur
lain dimana semula pada jaman pemerintahan Walikota Ambon dikendalikan oleh
Drs. Jacob Papilaya dan Sekda Dr. Nona Huliselan telah mengatur sedemikian rupa
agar kendaraan jalur Kudamati dan Airsalobar melintasi depan Pasar Tagalaya
sehingga memungkinkan para pembeli dari jurusan Benteng dan Kudamati memperoleh
kemudahan berbelanja ke tempat itu, akan tetapi di Jaman Walikota sekarang
telah memaksakan kedua jalur kendaraan itu ke jalur lain yang menyebabkan para
pembeli tidak berkesempatan berbelanja ke tempat itu dan pasar pun menjadi
sepei kembali.
Sementara itu, sesuai pantauan, pasar Tagalaya
seakan-akan dijadikan lahan tetap bagi pengusaha dan pejabat tertentu dari
Pemkot Ambon untuk meraup keuntungan dari waktu ke waktu tanpa memperdulikan
kepentingan dari para PKL di pasar Tagala. Mengapa tidak kontraktor MR yang
menangani pekerjaan pasar Tagalaya diketahui pada tahun 2013 telah mengerjakan
pembangunan Renovasi di Pasar itu dengan menggunakan dana APBD Kota Ambon
dengan besaran ratusan juta rupiah yang diperkirakan mencapai 300 sampai 400
juta rupiah akan tetapi pasar tersebut belum menghasilkan sesuatu yang berarti
bagi Kota Ambon, kembali dalam tahun 2014, jadi hanya berselang satu tahun
kemudian pasar tersebut sudah dikerjakan lagi oleh kontraktor yang sama bahkan
kali ini dengan biaya bukan ratusan juta akan tetapi dalam jumlah milyaran
rupiah. Bahkan jumlahnya mencapai 4,679 milyar, tetapi anehnya dengan jumlah
sebesar itu pembangunan fisik di pasar itu tidak juga selesai, sehingga  terdengar kabar saat ini pemerintah kota
bahkan mengusulkan lagi dana dari APBD Kota Ambon sebesar 500 juta untuk
melanjutkan pembangunan pasar tersebut dan tidak mustahul konco berat oknum
Pejabat Pemkot Ambon, yakni kontraktor MR bakal kepercik keuntungan lagi dengan
menangani pekerjaan lanjutan bermotif penghamburan uang rakyat tersebut.
Sementara itu, di tempat terpisah PKL Valantine,  Max Ruhupatty mengatakan menjadi Harga Mati
bagi Pedagang Pasar Valentine untuk tidak Tempati pasar Tagalaya Batu Gantung,
karena dinilai tidak layak untuk dipergunakan.
 Menurutnya
kalau para pedagang pasar Valentine bukan baru pertama menempati pasar tersebut,
sudah pernah mengalami kegagalan saat berada di sana maka mereka memilih untuk
kembali lagi ke pasar Valentine.
Hal ini dikarenakan lokasi untuk menjadi pasar di
Tagalaya tidaklah mendukung atau strategis, walaupun pada saat kepemimpinan
Walikota Papilaya di mana jalur kendaraan sudah diubah, apalagi saat ini jalur
lalu lintas dialihkan lagi.
Ia menambahkan kalau pemerintah tidak pernah mau
tanggapi aspirasi  para pedagang malah
tetap saja memaksa untuk dipindahkan, dan apabila para pedagang ditempatkan di
sana maka nantinya anak-anak mereka akan putus sekolah
. (CN-02)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *