AMBON, cahaya-nusantara.com

Gedung Auditorium Universitas Pattimura (Unpatti) menjadi saksi diskusi menarik tentang kebudayaan Maluku. Acara ini membahas hasil residensi penelitian di Belanda, khususnya tentang museum dan warisan sejarah, termasuk tayangan video yang menggambarkan kisah Thomas Matulessy alias Pattimura.

Agung Sumarwan, Koordinator Penelitian, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar menyampaikan laporan kepada kementerian, tetapi juga bertujuan memberikan manfaat bagi masyarakat Maluku.

“Kami merasa memiliki beban moral untuk menyebarluaskan hasil penelitian kami agar masyarakat dapat memetik manfaatnya, termasuk untuk memotivasi mereka melakukan penelitian dan melanjutkan kajian tentang museum dan budaya Maluku,” ujarnya.

Penelitian ini mencatat adanya lebih dari 13.000 koleksi yang terkait dengan Maluku di Belanda. Koleksi tersebut menjadi peluang untuk dijadikan database atau usulan repatriasi.

“Kami ingin masyarakat memahami nilai sejarahnya dan memanfaatkannya untuk kebangkitan budaya Maluku,” tambahnya.

Diskusi juga mengangkat ragam versi cerita Pattimura.
Menurut Agung, perbedaan ini tidak mengurangi makna perjuangan, tetapi justru memperkaya semangat Maluku.

“Semangat ini harus diwariskan kepada generasi muda. Tidak perlu berdebat soal asal-usul Pattimura, yang penting adalah semangat perjuangan yang dibawa,” tegasnya.

Agung juga menyoroti koleksi museum Maluku yang ada di Belanda. Meski belum ada usulan resmi untuk repatriasi, ada banyak koleksi bernilai tinggi yang layak dibawa pulang, termasuk tongkat yang diyakini sebagai milik Pattimura.

“Sayangnya, belum ada pihak berwenang dari Maluku yang mengusulkan hal ini. Kami berharap ada yang berani mengajukan usulan berbasis kajian mendalam,” kata Agung.

Namun, ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan daerah untuk merawat koleksi tersebut.

“Kita tidak ingin barang-barang ini rusak setelah dipulangkan. Harus ada Workshop dan perawatan yang memadai,” tambahnya.

Dalam kegiatan ini, tim penelitian juga mengungkap rencana kolaborasi dengan Lembaga Latupati, Museum Siwalima, dan Molukas Historisch Museum di Belanda. Kolaborasi ini bertujuan untuk menghidupkan kembali kajian budaya dan melibatkan generasi muda melalui program-program di Unpatti.

“Kami ingin memotivasi masyarakat Maluku untuk lebih aktif berbicara dan bertindak dalam pelestarian budaya,” tegas Agung.

Dana Indonesiana, Peluang Besar untuk Anak Maluku

Agung menekankan bahwa tim peneliti tidak menggunakan dana APBD atau APBN Maluku, melainkan memanfaatkan program pendanaan dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana. Ia mendorong masyarakat Maluku, terutama generasi muda, untuk memanfaatkan peluang ini.

“Ini adalah kesempatan besar untuk mengeksplorasi budaya. Silakan mendaftar dan manfaatkan dana ini untuk kemajuan budaya Maluku,” ajaknya.

Kegiatan ini menjadi momen penting untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pelestarian sejarah dan budaya.

Harapannya, semangat yang ditanamkan akan terus menyala dan mendorong kebangkitan budaya Maluku di masa depan.(CN02)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *