AMBON, cahaya-nusantara.com

Pernyataan istri Direktur PT Sumber Rejeki, Ronny Rambitan alias Kiat, menuai kecaman dari para pemilik kapal yang menjadi korban dalam insiden kebakaran di Pelabuhan pada 2019 silam.

Dalam pernyataannya kepada wartawan, istri Kiat menyebut tragedi tersebut sebagai “musibah” dan meminta para korban untuk tidak menuntut ganti rugi, melainkan “takut akan Tuhan”.

“Anggap saja rumah terbakar lalu ikut membakar rumah tetangga. Masa kita ganti rumah tetangga? Namanya juga musibah. Jangan cari-cari masalah. Kalau sekarang baru mengungkit, itu dosa,” ucapnya santai melalui sambungan telepon.

Pernyataan itu langsung menimbulkan reaksi keras dari para korban, termasuk Hamidu Marua, SH—pemilik KM Delta King, dan Yohanis Hattu, ST—pemilik KM Ampry, yang kapal mereka ikut ludes terbakar bersama KM Taman Pelita milik PT Sumber Rejeki.Rabu,(28/5/2025)

“Yang harus takut Tuhan itu justru Ibu Kiat. Api itu bukan turun dari langit. Itu karena kelalaian manusia,” ujar Hamidu dengan nada geram.

Hamidu menegaskan, sejak kejadian pada 4 Oktober 2019 pukul 19.00 WIT, pihak korban telah berupaya menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Namun upaya itu selalu ditanggapi dengan penolakan.

“Kami diam bukan karena takut. Kami berharap ada itikad baik. Tapi yang kami terima justru ancaman dan sikap arogan,” lanjutnya.

Hamidu juga membantah tudingan bahwa korban hanya memanfaatkan situasi untuk “buat masalah”.

“Kebakaran ini bukan bencana alam, melainkan murni kelalaian. Maka sudah sepatutnya ada pihak yang bertanggung jawab. Kalau penyelesaian kekeluargaan tak lagi mungkin, kami akan ambil langkah hukum,” tegasnya.

Senada dengan Hamidu, Yohanis Hattu menyampaikan kekecewaannya terhadap sikap PT Sumber Rejeki yang dianggap tidak menunjukkan empati terhadap nasib para korban, terutama para nelayan kecil.

“Pernyataan istri Kiat seakan menggampangkan penderitaan ratusan nelayan yang kehilangan sumber penghidupan. Ini bukan sekadar kapal yang terbakar, ini soal mata pencaharian. Justru pernyataan seperti itu yang menunjukkan siapa yang sebenarnya tidak takut Tuhan,” ungkap Hattu.

Menurut Hattu, sejak peristiwa itu terjadi lima tahun lalu, belum ada satu pun upaya nyata dari perusahaan untuk bertanggung jawab atau menjalin komunikasi secara damai.

“Yang kami harapkan adalah penyelesaian kekeluargaan. Tapi yang kami dapat justru ancaman agar kami tidak macam-macam,” tambahnya kecewa.

Ia juga mengungkapkan bahwa sejak insiden itu, banyak nelayan kehilangan pekerjaan karena kapal yang biasa mereka operasikan sudah tidak ada.

“Ini bukan soal harta semata, tapi soal masa depan keluarga para nelayan. Hanya karena kami bukan orang berkuasa, bukan berarti suara kami tak penting,” tegas Hattu.

Para korban kini menyatakan siap menempuh jalur hukum. Mereka menolak anggapan bahwa karena insiden sudah lama terjadi maka hak menuntut telah gugur. Menurut mereka, diam selama ini bukan karena menyerah, melainkan karena masih membuka ruang bagi penyelesaian damai—yang kini mereka nilai sudah tertutup.

Kasus ini berpotensi membuka pintu penyelidikan lebih lanjut terkait dugaan kelalaian perusahaan serta pentingnya perlindungan hukum terhadap para nelayan kecil sebagai bagian dari keadilan sosial.(CN)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *