
AMBON, cahaya-nusantara.com
Perjalanan 30 pelajar SMA, SMK, dan SLB di Kota Ambon dari ruang workshop hingga ruang pamer berbuah 203 karya seni. Karya-karya tersebut kini dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa dan Kriya Pelajar Tingkat SMA/SMK/SLB Tahun 2026 di Galeri Lia Lia, Taman Budaya Provinsi Maluku, yang berlangsung 11–15 Agustus 2026 dengan tema Harmoni Talenta Beta.

Pameran dibuka secara langsung oleh Plh Kepala Taman budaya provinsi Maluku Fentje Mandaku,S.Pd.,M.Pd. pada Selasa (11/8/2026) dan menjadi ruang bagi para pelajar untuk menunjukkan hasil proses belajar sekaligus memperkenalkan potensi seni generasi muda Maluku kepada masyarakat.
Kepala Seksi Penyajian Apresiatif Seni dan Budaya Taman Budaya Provinsi Maluku, Prihe Letlora, S.S., M.Hum, mengatakan pameran ini tidak sekadar menjadi tempat untuk memajang karya, tetapi juga menjadi ruang untuk melihat tumbuhnya talenta seni di kalangan generasi muda.
“Hari ini kita tidak hanya membuka sebuah pameran, tetapi kita sedang membuka sebuah ruang untuk melihat masa depan,” kata Prihe saat menyampaikan laporan pada pembukaan pameran, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, di balik setiap karya yang terpajang di Galeri Lia Lia terdapat proses panjang yang dilalui para pelajar. Mereka belajar mengenal diri, menemukan potensi, mengasah keterampilan, hingga memiliki keberanian untuk menunjukkan hasil karya kepada publik.
Pameran ini merupakan kelanjutan dari Workshop Seni Rupa dan Kriya yang telah dilaksanakan pada 8–12 Juni 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan Manajemen Talenta Nasional di bidang seni dan budaya melalui dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik/BOP Taman Budaya dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Dari 30 peserta yang mengikuti rangkaian workshop hingga pameran, sebanyak 203 karya berhasil dihasilkan. Karya tersebut terdiri atas 110 lukisan kanvas, 60 karya kriya, dan 33 lukisan digital.
Prihe menjelaskan, karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil dari proses pembinaan yang tidak berhenti pada pelaksanaan workshop. Para peserta terus mengembangkan karya hingga memasuki tahap persiapan pameran, sehingga proses yang mereka jalani berlangsung selama kurang lebih dua bulan.
“Setiap talenta membutuhkan ruang, membutuhkan proses, membutuhkan pendampingan, dan membutuhkan panggung untuk diperlihatkan,” ujarnya.
Menurut Prihe, ruang bagi generasi muda untuk berkesenian menjadi semakin penting di tengah perkembangan zaman yang bergerak cepat. Digitalisasi, perkembangan teknologi, hingga kehadiran kecerdasan buatan telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.
Dalam kondisi tersebut, seni memiliki peran penting dalam membangun kreativitas sekaligus kepekaan generasi muda.
“Seni mengajarkan kita untuk melihat sesuatu yang tidak selalu terlihat dan merasakan sesuatu yang tidak selalu dapat dijelaskan,” katanya.
Melalui Taman Budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku terus berupaya menghadirkan ruang publik bagi generasi muda untuk berekspresi, belajar, bereksperimen, dan mengembangkan talentanya.
Prihe menegaskan, Manajemen Talenta Nasional bukan hanya tentang mencari siapa yang paling unggul. Lebih dari itu, program tersebut harus mampu menemukan potensi, mengembangkan kemampuan, memberikan kesempatan, dan menghadirkan ruang apresiasi.
Ia juga menyoroti karya para pelajar dengan keterbatasan yang ikut dipamerkan. Menurutnya, keterbatasan bukan alasan untuk menghilangkan kesempatan seseorang dalam berkarya.
“Jangan pernah menganggap diam mereka sebagai ketiadaan suara. Mereka sesungguhnya berbicara melalui karya,” tegasnya.
Karena itu, menurut Prihe, karya yang dipamerkan di Galeri Lia Lia tidak seharusnya hanya dilihat sebagai lukisan, kriya, atau karya seni rupa semata. Di balik karya tersebut terdapat keberanian, ketekunan, proses, potensi, dan talenta yang sedang tumbuh.
Ia berharap pameran tersebut menjadi langkah awal bagi para pelajar untuk terus mengembangkan kemampuan dan membawa karya mereka ke ruang yang lebih besar, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Karya kalian mungkin belum sempurna, tetapi jangan berhenti. Seorang seniman tidak lahir dari satu karya saja. Seorang talenta tidak terbentuk dalam satu kegiatan, tetapi tumbuh melalui proses yang panjang,” ujarnya.
Taman Budaya Provinsi Maluku menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia atas dukungan melalui DAK Nonfisik/BOP Taman Budaya. Apresiasi juga disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pimpinan Taman Budaya Provinsi Maluku, kepala sekolah, guru pendamping, instruktur, narasumber, seniman, budayawan, panitia, serta seluruh pihak yang mendukung rangkaian kegiatan tersebut.
Bagi Taman Budaya Maluku, perjalanan para pelajar dari workshop hingga pameran bukanlah akhir. Pameran ini diharapkan menjadi titik awal bagi mereka untuk terus berkarya dan berkembang sebagai seniman, kriyawan, maupun pekerja kreatif.
Dari sebuah workshop dan ruang pamer di Taman Budaya Maluku, para pelajar itu diharapkan kelak mampu membawa karya mereka menuju panggung seni yang lebih besar, termasuk ruang-ruang seni di tingkat nasional dan dunia.(CNmy)
