
AMBON, cahaya-nusantara.com
Rapat Paripurna Istimewa dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-451 Kota Ambon, Jumat (4/9/2026), berubah menjadi momen yang sangat menyentuh. Di tengah pidatonya, Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, tak mampu menahan gejolak emosi dan meneteskan air mata saat mengenang perjalanan dua tahun kepemimpinannya bersama Wakil Wali Kota Ely Toisutta.
Suasana ruang paripurna yang awalnya formal mendadak hening dan penuh khidmat. Bagi Bodewin, momen ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan cerminan dari lika-liku perjuangan membangun ibu kota Provinsi Maluku.
Dalam sambutannya, Bodewin secara terbuka mengakui bahwa memimpin Kota Ambon bukanlah tugas yang ringan. Ia harus berhadapan dengan berbagai tantangan kompleks, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga tuntutan masyarakat yang terus meningkat.
“Saya akui, perjalanan ini berat. Tidak jarang saya dan Pak Wawali (Ely Toisutta) harus memberikan teguran keras kepada kepala dinas atau jajaran OPD ketika kinerja mereka dianggap belum optimal,” ungkap Bodewin dengan suara sedikit bergetar.
Namun, ia menegaskan bahwa ketegasan tersebut lahir dari niat tulus untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan. Teguran itu bukan bentuk kebencian, melainkan upaya kolaboratif agar roda pelayanan publik bisa berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.
Di balik teguran-teguran tersebut, Bodewin menyimpan rasa bangga yang mendalam. Ia menekankan bahwa setiap capaian pembangunan dan inovasi pelayanan selama dua tahun terakhir adalah hasil kerja kolektif, bukan prestasi individu.
“Ini luar biasa,” ucapnya singkat namun bermakna, sambil mengusap air matanya. Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pimpinan dan staf di lingkungan Pemkot Ambon yang telah banting tulang melayani masyarakat, meski sering kali menghadapi tekanan tinggi.
Meski dihiasi suasana haru, pesan politik Bodewin tetap tajam. Ia mengingatkan seluruh aparatur sipil negara (ASN) untuk tidak terlena oleh pujian atau keberhasilan sesaat. Momentum HUT ke-451 Kota Ambon harus dijadikan titik tolak untuk evaluasi diri yang lebih jujur.
“Kita tidak boleh cepat puas. Masih banyak kekurangan yang harus kita benahi. Mari kita sempurnakan kerja-kerja kita dengan sungguh-sungguh, agar Kota Ambon semakin maju dan warganya semakin sejahtera,” tegasnya menutup pidato.
Momen menangisnya Wali Kota Bodewin Wattimena menjadi simbol kedewasaan kepemimpinan yang mengedepankan empati dan refleksi. Di usia kota yang kian matang, diharapkan sinergi antara pemimpin dan jajaran birokrasi semakin kuat untuk menghadirkan Ambon yang lebih baik. (CNmy)
