Kota Ambon, cahaya-nusantara.com
26 Anak dari Stasi Santo Antonius Halong, kecamatan Baguala Kota Ambon diantar oleh kedua orang tua dan wali masing-masing untuk pertama kalinya menerima tubuh Tuhan dalam dirinya melalui Komunio pertama yang berlangsung di gereja Santo Antonius Lantamal Halong, Minggu 18/04/2021.
Pastor Paroki , RD. Thio Refwutu yang menerimakan Sakramen Komuni pertama dalam khotbah-nya antara lain mengatakan, sungguh berbahagia karna Tuhan telah memperkenankan ke-26 anak pada hari ini untuk memasuki ruang perjamuanNya yang kudus.
Menurut pastor Paroki, bagi gereja Katolik Sakramen Ekaristi adalah salah satu dari Tiga Sakramen Inisiasi yang menandakan kekatolikan seseorang. Sebagaimana di ketahui tiga Sakramen itu adalah Sakramen Baptis, Ekaristi dan Sakramen Krisma. Disebutkan, mereka sudah mendapat Sakramen Baptis dan sekarang masuk pada Sakramen yang kedua yakni Ekaristi atau yang sering disebut komuni pertama, selangkah lagi mereka maju untuk menyatakan imam kekatolikan mereka kepada Yesus.
Selanjutnya menurut pastor Thio bagi gereja katolik Sakramen Ekaristi adalah sumber dan puncak beriman seseorang. Oleh karena itu kalau seorang katolik tidak menerima Sakramen Ekaristi maka hidupnya seolah-olah, seakan-akan tidak lengkap. “Sakramen ini menjadi sumber iman dan sekaligus juga menjadi puncak iman kita kepada Tuhan. Sakramen ini senantiasa memberikan kekuatan kepada kita, pada mereka yang datang dan menerima kekuatan, kekuatan itu pula yang menjadikan gereja katolik berdiri kokoh sampai saat ini dengan jumlah pengikutnya sekitar 1 milyar orang di dunia” ujarnya.
Menurutnya, Sakramen ini menjadi sumber kekuatan sekaligus juga mau menyatakan kepada dunia bahwa yang percaya kepada Yesus bukan hanya sekedar angan-angan tetapi Yesus yang sudah hadir dua ribu tahun yang lalu tetapi setiap merayakan Ekaristi Yesus kristus dihadirkan, setiap merayakan Ekaristi Yesus hadir untuk menyatakan bahwa Ia tidak pernah meninggalkan gereja-Nya berjalan sendiri, Ia senantiasa hadir ketika Ekarisiti dirayakan ; “Jadi ini menjadi kekuatan bagi orang katolik dan setiap orang katolik harus menyadari hal ini, bahwa Ekaristi itu bukan perayaan abal-abal ; ujarnya sambil menegaskan oleh karena itu jangan heran orang katolik dituntut untuk sungguh-sungguh merayakan perayaan Ekaristi dengan baik dan benar.
Selanjutnya pastor Thio mengatakan seringkali orang katolik merasa bahwa perayaan Ekaristi itu membosankan dimana dari dulu sampai sekarang perayaannya begitu-bagitu saja. Tetapi perlu diingat ini adalah perayaan mulia, perayaan dimana hadirnya Tuhan Yesus Kristus dalam kehidupan umat manusia, bukan perayaan biasa yang bisa dikurangi dan ditambah begitu saja.
Selanjutnya secara khusus pastorpun menasehati para peserta komuni Baru untuk merubah sikap dan perilakunya, dari yang sebelumnya malas-malasan mengikuti ibadah menjadi harus rajin berkat kehadiran Tuhan Yesus dalam diri anak-anak, berubah dari sikap nakal kepada orangtua menjadi dengar-dengaran, berubah dari sifat malas belajar di sekolah menjadi rajin dan juga berubah dari sikap membuang-buang waktu percuma dengan banyak bermain menjadi rajin dan tahu mengatur waktu karena jika sebelumnya belum ada Yesus di dalam diri namun sekarang dengan menerima Tubuh dan Darah Yesus melalui Sakramen Ekaristi maka pantaslah anak-anak harus merubah sifat dan perilaku seturut teladan Tuhan Yesus yang hari ini untuk pertama kalinya hadir di dalam diri anak-anak peserta komuni pertama.
Pastor berharap dalam jangka satu tahun mendatang dengan bantuan para pembina, orangtua serta orangtua serani ke-26 anak ini akan menerima lagi Sakramen inisiasi ketiga yakni Sakramen Krisma.
Sementara itu Koordinator perayaan Komuni Pertama Stasi Halong Bapak Tupa Tampubolon usai perayaan Komuni pertama bagi ke-26 anak mengatakan dirinya sangat bersyukur kepada Tuhan karena tidak gampang mempersiapkan ke-26 anak ini untuk menyambut Tuhan Yesus pertama kali dalam hidupnya mengingat kondisi pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk kota Ambon dengan berbagai pembatasan Kesehatan.
Meskipun demikian berbagai kesulitan bisa teratasi bahkan umtuk membangun komunikasi dengan para orangtua dan pembina harus melalui WA karena banyak kali harus menghindari adanya kerumunan serta benar-benar-harus memperhatikan protokol kesehatan.
Senada dengan Tampubolon, Ketua Dewan Stasi Santu Antonius Halong, Londar mengatakan perayaan yang terjadi minggu kemarin merupakan sebuah anugerah dan campur tangan Tuhan semata mengingat seyogianya perayaan Komuni pertama ini telah berlangsung pada tahun 2019 silam karena mereka telah mengikuti pembinaan sejak.Oktober 2019 akan tetapi wabah Covid-19 yang mengglobal termasuk juga di Ambon akhirnya mengalami penundaan sampai.minggu, 18/04/2021 ini.
Londar berharap setelah menyambut Yesus dalam diri anak-anak haruslah lebih rajin mengikuti perayaan Ekaristi dan dirinya juga berharap orangtua menjadi panutan bagi anak-anak sampai mereka dapat menerima sakramen Krisma di tahun depan bahkan ia berharap anak-anak haruslah menjadi pengikut Kristus yang setia dalam gereja Katolik yang kudus dan apostolik.
Sementara itu sebagai bukti ke-26 anak telah mengikuti Komuni pertama, usai Perayaan Ekaristi mereka menerima sebuah sertifikat yang diserahkan oleh Pastor paroki sebagai kenang-kenangan.
Perayaan Ekaristi pertama bagi ke-26 anak ini akhirnya ditutup dan dipuncaki dengan santap siang bersama.(CN-02)

