Ambon,Cahayanusantara12.com

Pdt. Prof. Dr.(HC). S.D. Nuniary, M.Min
mengatakan, berawal dari konsep membarukan teknologi tradisional yang ada dari datuk-datuk
orang Maluku di mana pada awalnya menangkap ikan itu dengan menggunakan
teknologi alat tangkap yang namanya “Bubu”, yang apabila jika mau diangkat
untuk turut  menyumbang bagi terwujudnya Maluku sebagai lumbung ikan nasional
maka IAKA dalam konsep Lokakarya Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional itui
menomorsatukan teknologi pembuatan bubu sebagai alat tangkap dan teknologi
penangkapan ikan dengan bubu.
Demikian antara lain penegasan Nuniary
kepada wartawan di Kampus IAKO Intim Ambon, Sabtu, 22/08. Dikatakan,
penerapannya secara praktis yakni yang dilakukan pertama-tama adalah melakukan inventarisasi
terlebih dahulu  tentang potensi kemampuan masyarakat Maluku yang dari
moyangnya sampai saat ini itu menangkap ikan dengan bubu. Dengan demikian data
yang coba diambil adalah  data tentang dua jenis bubu, masing-masing bubu
jenis tindis dan  dan jenis bubu buang.
Menurutnya, bubu Tindis ini berada di kedalaman
3 – 4 meter, sedangkan bubu buang berada di kedalaman 10 – 15 meter. Selanjutnya
menurut Nuniary pihaknya telah pula merekrut sejumlah tenaga ahli di bidang
pembuatan sekaligus penangkapan ikan dengan menggunakan teknologi bubu. “ahli
dalam arti teknologi membuat, ahli dalam arti teknologi menangkap:, kata Nuniary
sambil menambahkan mereka itu akan diangkatnya  sebagai tenaga ahli
vokasional khusus untuk bubu di IAKO Intim Ambon sebagai staf ahli.
Selanjutnya menurut Profesor yang
berlatar belakang pendidikan Theologi ini, bahwa perekrutan  tenaga ahli
itu akan dilakukan dari 12 gugus pulau di Maluku, dan untuk sementara yang
telah direkrut adalah dari gugus pulau 7 yakni gugus pulau Ambon dan PP. Lease
dengan pusat pelayanan di kota Ambon Selanjutnya menurut Nuniary pihaknya
akan  merekrut lagi ahli dari pusat gugus dua yakni Seram Bagian Barat
dengan pusat pelayanannya di Piru dan Kairatu.
Kepada wartawan Nuniary mengatakan dirinya akan mencoba terlebih dahulu dengan
dua gugus pulau tersebut menjelang digelarnya Lokakarya Implementasi Maluku
sebagai Lumbung Ikan Nasional oleh IAKO sesudah PP RI Tentang Maluku sebagai
Lumbung Ikan Nasional itu disahkan oleh pemerintah.
Nuniary mengatakan banyak harapan dari masyarakat
Maluku bahwa kiranya dalam momen Pesparawi Nasional nanti di Maluku Preseden
Jokowi telah menyerahkan PP yang telah ditetapkan karena hal itu sangat berarti
bagi Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional yang memenuhi standar di mana
regulasinya betul dan  dan konstitusi nasionalnya pun betul adanya.
Selanjutnya menurut Rektor Kampus Merah Putih ini, dari data yang telah
diwawancaranya khusus untuk guygus Pulau Ambon dan PP. Lease, diprediksi untuk
12 Gugus Pulau minimal masing-masing gugus 20 buah bubu saja maka untuk 12
gugus akan memperoleh 240 buah  bubu yang adalah bubu tanam dan bubu
buang, dimana analisanya diprediksi dari 240 bubu menghasilkan 100 kg yang
berarti totalnya mencapai 24 ton per bulan. Itu berarti dalam satu tahunnya
akan mencapai 288 ton ikan dengan harga jual Rp.35 ribu rupiah sehingga
totalnya mencapai 10 milyar lebih. Kepada wartawan Nuniary mengatakan dengan
estimasi yang ada pihaknya segera melakukan simulasi pembuatan bubu kemudian
dilanjutkan dengan uji coba atau simulasi penanaman  dan penangkapan ikan
dengan menggunakan bubu.
Lebih jauh Nuniary mengatakan  uji coba penangkapan ikan di dua tempat ini
penting untuk mengetahui dan mendapatkan data valid tentang berapa banyak ikan yang
dihasilkan perhari dan per Minggunya.(CN-03)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *