Ambon,
cahaya-nusantara.co.id
cahaya-nusantara.co.id
Kepala Badan Pusat
Statistik (BPS) Provinsi Maluku, Dumangar Hutauruk mengatakan, Nilai Tukar
Petani (NTP) Provinsi Maluku pada Februari 2018 adalah sebesar 100,90, atau
turun sebesar 0,51 persen dibanding Januari 2018 yang tercatat sebesar 101,42.
Penurunan ini terjadi karena indeks tahunan mengalami penurunan sebesar 0,57
persen, lebih tinggi dari penurunan indeks bulanan yang tercatat sebesar 0,06
persen. Demikian antara lain penegasan Hutauruk dalam konferensi pers yang
berlangsung di kantor BPS Maluku, Kamis, 1/3. Dikatakan, 4 (empat)
subsektor penyumbang penurunan NTP : subsektor tanaman pangan (0,07%),
subsektor tanaman hortikultura (0,75%), subsektor tanaman perkebunan rakyat
(0,52%), subsektor perikanan (1,87%).
Statistik (BPS) Provinsi Maluku, Dumangar Hutauruk mengatakan, Nilai Tukar
Petani (NTP) Provinsi Maluku pada Februari 2018 adalah sebesar 100,90, atau
turun sebesar 0,51 persen dibanding Januari 2018 yang tercatat sebesar 101,42.
Penurunan ini terjadi karena indeks tahunan mengalami penurunan sebesar 0,57
persen, lebih tinggi dari penurunan indeks bulanan yang tercatat sebesar 0,06
persen. Demikian antara lain penegasan Hutauruk dalam konferensi pers yang
berlangsung di kantor BPS Maluku, Kamis, 1/3. Dikatakan, 4 (empat)
subsektor penyumbang penurunan NTP : subsektor tanaman pangan (0,07%),
subsektor tanaman hortikultura (0,75%), subsektor tanaman perkebunan rakyat
(0,52%), subsektor perikanan (1,87%).
Memurutnya, Beberapa
komoditas yang mengalami penurunan harga/penyumbang penurunan it : subsektor
tanaman pangan keetala pohon, kacang tanah, ubi jalar; subsektor tanaman
hortikultura : cabai rawit, cabai merah, kacang panjang, terung panjang,
ketimun; subsektor tanaman perkebunan rakyat : Kakau, pala biji, cengkeh, dan
kopi; Subsektor perikanan tangkap : ikan tongkol, tembang, kembung,
kuwe/bebera, dan cakalang. Selanjutnya menurut Hutauruk, Deflasi perdesaan
Maluku sebesar 0,11 persen disebabkan turunnya Indeks Komoditi Rumah Tangga
(IKRT) kelompok bahan makanan (0,44%). Kelompok yang mengalami inflasi:
Kesehatan (0,48%), Sandang (0,23%), Makanan jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau
(0,22%), Perumahan (0,16%), Transportasi dan Komunikasi (0,02%). Komunitas
dengan andil terbesar terhadap deflasi perdesaan Maluku : Ikan Layang, Cabai
Rawit, Ikan Tembang, Ikan Terri, Ikan Selar, Bawang Merah, Kacang Panjang, Ikan
Baronang, Bawang Putih, Cabe Merah. NTUP Maluku : 121, 52,
turun 0,82 persen.(CN-03)
komoditas yang mengalami penurunan harga/penyumbang penurunan it : subsektor
tanaman pangan keetala pohon, kacang tanah, ubi jalar; subsektor tanaman
hortikultura : cabai rawit, cabai merah, kacang panjang, terung panjang,
ketimun; subsektor tanaman perkebunan rakyat : Kakau, pala biji, cengkeh, dan
kopi; Subsektor perikanan tangkap : ikan tongkol, tembang, kembung,
kuwe/bebera, dan cakalang. Selanjutnya menurut Hutauruk, Deflasi perdesaan
Maluku sebesar 0,11 persen disebabkan turunnya Indeks Komoditi Rumah Tangga
(IKRT) kelompok bahan makanan (0,44%). Kelompok yang mengalami inflasi:
Kesehatan (0,48%), Sandang (0,23%), Makanan jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau
(0,22%), Perumahan (0,16%), Transportasi dan Komunikasi (0,02%). Komunitas
dengan andil terbesar terhadap deflasi perdesaan Maluku : Ikan Layang, Cabai
Rawit, Ikan Tembang, Ikan Terri, Ikan Selar, Bawang Merah, Kacang Panjang, Ikan
Baronang, Bawang Putih, Cabe Merah. NTUP Maluku : 121, 52,
turun 0,82 persen.(CN-03)
