AMBON, cahaya-nusantara.com
Sekretaris Umum ( Sekum) Keuskupan Amboina, RD. Agustinus Arbol melalui pesan WA, Selasa, 6/9/2022 antara lain menjelaskan tentang kunjungan Mgr.Seno Ngutra ke Yalahatan- Tamilouw, Wilayah Bersejarah Santo Fransiskus Xaverius (476thn Silam)
Disebutkan, Yalahatan secara teritorial berada pada kawasan Pulau Seram bagian Selatan dan merupakan 1 dari 7 dusun di bawah desa Tamilouw, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah.
Dusun Yalahatan menjadi tempat sejarah penting gereja Katolik karena hanya berjarak 1 kaena dari tempat terjadinya mujizat yang dialami Santo Fransiskus Xaverius 476 tahun silam. Pada saat itu angin merenggut salib crucifix yang sedang dipegang Fransiskus di atas kepalanya, dan crucifix itu jatuh ke tengah laut. Tapi ketika kapal Fransiskus sampai dengan selamat ke darat, seekor kepiting besar muncul dari laut dan membawa salib crucifix itu dengan posisi tegak,dengan capitnya.
Pada tanggal 5-6 September 2022, Uskup Diosis Amboina Mgr. Seno Ngutra mengadakan kunjungan kanoniknya di tempat yang menjadi awal pewartaan Injil bagi gereja katolik wilayah Seram.
Bapak Thomas Rahawarin adalah missionaris awam yang menikah dengan Ibu Paula Paleta, wanita suku asli Naulu yang menjadi orang katolik pertama di kampung Yalahatan. Selanjutnya ibu Sisilia Waleuru masuk katolik setelah menikah dengan Bapak Silvester Rahayaan. Dengan demikian telah ada 3 marga asli Naulu yang masuk Katolik yaitu Waleuru, Marahina, Soloweno.
Sedangkan pria suku asli Naulu yang pertama masuk Katolik di dusun Yalahatan yaitu Antonius Waleuru (anak tuan tanah) setelah menikah dengan Helena Sebenan; selanjutnya Bonefasius Waleuru dan Fransiska (Jawa-Islam masuk Katolik), Thobias Waleuru & Oni tewuwayo (Orang Terhoru- Protestan), Dominikus Waleuru dan Florentine Sarkol serta Kristian Waleuru dan Theresia Rahayaan.
Untuk mengembangkan iman umat yg baru masuk Katolik, mereka harus beribadah berpindah – pindah karena belum adanya bangunan gereja yang permanen. Dalam kurun waktu Yang lama rumah Bapak Silvester dijadikan sebagai tempat ibadah.
Kurang Lebih pada tahun 1982 Ibu Saliyama Waleuru menyerahkan tanahnya ke keuskupan untuk dibangun gedung gereja.
Namun pada tahun 1999/2000 terjadi tragedi kerusuhan sosial yang mengakibatkan gedung gereja katolik, goa Maria dan salib tempat tanda kehadiran santo Fransiskus Xaverius dibongkar/dihancurkan.
Pada tahun 2006 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja Santo Fransiskus Xaverius yang baru oleh pastor rekanan paroki Masohi Pastor Alfons Hayon, SVD.
Menurutnya, saat ini, ketika dikunjungi Mgr. Seno Ngutra, uskup Diosis Amboina, jumlah umat katolik di stasi ini 275 jiwa dari 54 KK yg sebagain besar suku asli Naulu.
Pertama. Bakal membangun Tugu patung Santo Fransiskus Xaverius di Pantai Tamilouw.
Kedua. Bakal meresmikan monumen Fransiskus dan gedung Gereja serta Pastoran pada tanggal 3 Desember 2024 mendatang.
Ketiga. Mengajak keluarga-keluarga untuk memprioritaskan pendidikan anak-anak mereka.
Keempat Bakal embantu biaya sekolah dan Kuliah mahasiswa-I yang hendak Kuliah di STPAK Ambon.
Kelima. Memberi Santunan bagi keluarga-keluarga yg tidak mampu atau yatim piatu di Panti Asuhan Santa Maria Waisarisa-Seram Bagian Barat. (CN-01)


