AMBON, cahaya-nusantara.com

Pengamat masalah sosial Masyarakat Provinsi Maluku, Drs. Herman Siamiloy mengatakan sudah kurang lebih dalam 4 bulan terakhir Perusahaan Pelayaran PT. Dharma Indah melakukan pembohongan (Parlente) kepada masyarakat Maluku Barat Daya (MBD) dengan cara mengoperasikan kapal lain tetapi menggunakan blanko tiket kapal lain.

Demikian antara lain penyampaian Siamiloy kepada wartawan di Ambon, Sabtu, 03/08/2024.

Dikatakan, sekitar 4 bulan lalu sampai hari ini, ternyata PT. Pelayaran Dharma Indah itu sudah melakukan pembohongan atau bahasa Ambon bilang “parlente” masyarakat MBD karena kapalnya lain tetapi tiket yang dijual tiket kapal lain.

Kepada wartawan Siamiloy mencontohkan bisakah membeli tiket pesawat Lion Air tetapi bisakah naik pesawat Garuda? Kan tidak mungkin karena tiket yang dibelikan sesuai dengan kapal atau pesawat yang kita tumpangi.

Selain itu, kepada wartawan Siamiloy mengatakan, sebelum civid-19 harga tiket harga tiket Kapal Cepat itu Rp.350 ribu dan pada saat Covid-19 harga tiket melejit sampai di angka 600-san bahkan sekarang sudah stagnan di angka 582 ribu untuk penumpang dari dan ke Moa di MBD.

“Nah pertanyaannya  apakah sampai hari ini masih ada Corona?”ujar Siamiloy.

Selanjutnya Siamiloy juga menyoroti tentang  jam tempuh kapal cepat yang dioperasikan oleh PT. Dharma Indah.

Menurutnya yang namanya kapal cepat itu berarti jarak tempuhnya sudah disesuaikan antara satu pulau dengan pulau yang lain akan tetapi dirinya tidak melihat hal itu ada pada yang namanya kapal cepat yang dioperasikan oleh PT. Dharma Indah saat ini. Di mana sebagai contoh dari P. Damer ke Moa yang biasanya rata-rata ditempuh dalam waktu 6 jam akan tetapi per hari ini (saat ini) rata-rata 10 jam.

Menurutnya waktu tempuh yang sengaja diperlambat ini rupanya ada kaitannya dengan praktek bisnis di kapal.

“Saya minum di kantin dan saya perhatikan mereka masak air itu pada setengah delapan pagi dimana penumpangnya sudah antri di kantin tapi airnya belum mendidih. Kita duduk sampai beberapa menit kemudian baru airnya mendidih. Dan setelah airnya masak dan disuguhkan teh atau kopi bahkan susu sesuai permintaan penumpang di kantin.”sebut Siamiloy sambil menambahkan mestinya petugas kantin itu memasak airnya sekaligus dalam jumlah yang banyak sehingga pengunjung kantin tidak perlu antri berulang-ulang.

“Mestinya sekali masak air itu untuk sekian banyak orang akan tetapi pada saat masak pertama hanya untuk sekitar 20-an orang saja dan setelah itubbaru masak lagi untuk 20-an orang berikutnya.

Jadi saya termasuk jatah 20-an. Jadi yang masak pertama kita yang 20-an itu yang dapat jatah dulu. Kemudian ketika yang lain datang mau minum teh lagi maka jawaban mereka sama dengan yang pertama tadi bahwa air belum mendidih atau belum masak . Terpaksa yang lain itu tunggu lagi sampai air kedua itu.mendidih laginbaru mereka minum”.terangnya sembari menambahkan perbuatan ABK Kapal cepat seperti itu bagaikan penjajahan terhadap penumpang kapal. Padahal mestinya satu kali masak air itu sudah diperkirakan untuk kebutuhan seluruh penumpang atau setidaknya untuk sebagian besar penumpang yang sudah dipastikan bakal menggunakan jasa kantin kapal itu.

Menariknya menurut Siamiloy perlakuan ABK sedemikian diduga  karena peminat kantin ini masih banyak sehingga laju kapal sengaja diperlambat agar barang jajanan mereka semakin laku karena jika laju kapal dipercepat maka jajanan di kantin tentu saja tidak laris.

Menariknya lagi menurut Siamiloy waktu tempuh kapal cepat antara P.Damer ke Ambon PP selama ini diketahui 18 jam akan tetapi dalam pelayaran di akhir Juli kemarin waktu berlayar mencari 24 jam.

Menurutnya jika molor satu jam atau setengah jam itu wajar akan tetapi sudah lebih dari 5 jam bahkan 6 jam itu sebuah unsur kesengajaan yang tidak normal lagi.

“Jadi jarak Damer-Moa itu 6 jam, sekarang menjadi 10 jam. Damer Ambon, Ambon Damer itu 18 jam, sekarang menjadi 24 jam”.tandasnya.

Ditanya apakah mungkin  kapal cepat yang saat ini berlayar dari Ambon Moa PP ini lebih kecil dari yang sebelumnya, Siamiloy mengatakan tidak juga akan tetapi diduga ada unsur kesengajaannya. Karena mestinya jika dalam keadaan gelombang laut itu berkurang bahkan lautnya teduh maka harusnya kecepatan kapal itu ditingkatkan akan tetapi hal itu tidak dilakukan karena dugaan ingin melarikan jualan di kantin kapal sehingga laju kapal sengaja diperlambat. (CN-03)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *