
AMBON, cahaya-nusantara.com
Target jadi sekolah rujukan google pertama di Maluku, kepala sekolah gencar temui Alumni.
Baru 50 hari menjabat, Kepala SMA Negeri 1 Ambon Dra. E. Laturiuw, M.Si, langsung memacu perubahan besar ,dari pembenahan visi,digitalisasi pembelajaran hingga aturan ketat “HP masuk loker”, semuanya diarahkan untuk mewujudkan SMANSA Smart Digital sebagai sekolah digital pertama di Maluku dan meraih predikat Sekolah Rujukan Google.
“Kalau SMA ini ikon pendidikan di Maluku, maka kita harus tampil sebagai ikon. Itu artinya kita siap menuju Smansa smart digital,” tegas Laturiuw saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (8/8/2025).
Sejak tiba di SMAN 1 Ambon pada 25 Juni 2025, Laturiuw langsung menelaah visi dan program kerja sekolah. Hasilnya, ia menilai belum ada program yang benar benar menonjolkan keunggulan SMAN 1 Ambon.
Ia pun menetapkan digitalisasi sebagai prioritas, sejalan dengan arahan Kementerian Pendidikan.
“Kami mulai dari pelatihan guru,guru guru diminta mengikuti sertifikasi level satu, aktivasi akun belajar.id untuk siswa dan guru, perbaikan jaringan internet, hingga pelatihan ESDM. Semua untuk menuju SMANSA Smart Digital itu yang utama itu,” ungkapnya.
Jadi Solusi
Laturiuw menerapkan kebijakan tegas: siswa dilarang menggunakan ponsel saat belajar.
“HP semua masuk loker. Chromebook lebih aman dan efektif karena bisa dikontrol aksesnya hanya untuk pembelajaran,” jelasnya.
Dengan Chromebook, guru dapat memantau aktivitas siswa di kelas.
“Kalau HP, mereka bisa saja buka YouTube atau aplikasi lain tanpa pengawasan. Sementara Chromebook kuncinya hanya pada akun belajar,” tambahnya.
60 Chromebook Awal, Alumni Diharapkan Turut Bantu.
Target jangka pendeknya adalah menyediakan 60 Chromebook untuk dua kelas, sebagai syarat awal menuju sekolah rujukan Google. Laturiuw mengajak alumni dan orang tua siswa ikut mendukung.
“SMA ini punya ribuan alumni sejak 1960-an. Kalau satu orang menyumbang Rp100 ribu, satu unit Chromebook langsung terbeli,” ujarnya optimis.
Dengan akreditasi A, SMAN 1 Ambon memiliki laboratorium, ruang komputer, dan perpustakaan yang memadai. Namun, bangunan yang berdiri sejak 1990-an membutuhkan perbaikan di beberapa bagian.
“Banyak plafon yang bocor. Tapi itu bukan penghalang. Fokus kami tetap pada peningkatan SDM dan kualitas pembelajaran,” katanya.
Untuk memperkuat budaya literasi, Laturiuw menambahkan pojok baca di seluruh 24 ruang kelas. Program
“Pagi Ceria” yang digelar setiap pagi berisi doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan membaca buku atau e-book.
“Literasi dan numerasi tetap nomor satu. Kami kombinasikan dengan teknologi supaya siswa terbiasa membaca digital,” ucapnya.
Selain digitalisasi, prestasi akademik dan non-akademik tetap menjadi fokus. Sebanyak 12 siswa SMAN 1 Ambon lolos Olimpiade Sains tingkat kota/kabupaten dan kini dibina untuk bertarung di tingkat provinsi.
SMAN 1 Ambon juga menerima dana BOS Kinerja Prestasi yang digunakan sepenuhnya untuk pembinaan siswa.
“Prestasi penting, tapi karakter juga harus sejalan. Pintar saja tidak cukup,” tegas Laturiuw.
Dengan strategi ini, Laturiuw optimistis SMAN 1 Ambon dapat mempertahankan status sekolah unggulan sekaligus menjadi simbol kemajuan pendidikan digital di Maluku.
“Kalau semua pihak bersinergi, saya yakin ini bisa terwujud,” pungkasnya.(CN-02)
