AMBON, cahaya-nusantara.com

Festival Benteng Nieuw Victoria kembali digelar setelah sempat terhenti tahun lalu. Mengusung tema “Merangkai Warisan Budaya dalam Harmoni”, kegiatan pada 7–8 September 2026 di Lapangan Merdeka Ambon ini tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga momentum untuk mendorong Benteng Nieuw Victoria menjadi pusat budaya di Maluku.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX, Dody Wiranto, S.S., M.Hum, mengatakan pihaknya bersyukur festival tersebut dapat kembali dilaksanakan setelah anggarannya berhasil dipertahankan di tengah kebijakan efisiensi.

“Anggaran ini sudah kita perjuangkan sejak tahun kemarin. Puji Tuhan masih bisa kita pertahankan sehingga acara yang sempat berhenti tahun kemarin bisa kita lanjutkan lagi,” kata Dody kepada awak media di Kantor BPK Wilayah XX, Kamis (3/9/2026).

Menurut Dody,benteng nieuw Victoria bukan sekedar bangunan tua.benteng ini merupakan salah satu warisan sejarah penting yang berkaitan dengan perjalanan panjang kota Ambon yang kini berusia 451 tahun .

“Benteng nieuw victoria itu pintu awal kota Ambon .kita punya warisan sejarah ,kuar biasa ,sangat tua sekali,”ujarnya.

Karena itu, BPK ingin Benteng Nieuw Victoria tidak hanya dipandang sebagai bangunan bersejarah, tetapi dapat dioptimalkan sebagai ruang budaya yang memberi manfaat bagi masyarakat.

“Kita ingin memaksimalkan, mengoptimalkan untuk pusat budaya di Maluku. Ambon khususnya belum punya tempat seperti itu,” ujarnya.

Dody membayangkan kawasan tersebut dapat menjadi tempat masyarakat dan wisatawan menikmati sejarah, budaya, musik, kuliner, produk UMKM, hingga suasana pantai dalam satu kawasan. Gagasan itu, kata dia, perlu dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak.

Namun, pengembangan Benteng Nieuw Victoria tetap harus memperhatikan statusnya sebagai cagar budaya nasional dan keberadaan TNI yang saat ini menempati kawasan tersebut. Dody menegaskan, kondisi itu harus disikapi dengan mencari jalan tengah sehingga fungsi kawasan tetap berjalan tanpa mengabaikan upaya pelestarian.

Ia juga mengapresiasi TNI yang selama ini ikut membantu membersihkan dan menjaga kawasan benteng. Menurutnya, personel TNI memahami bahwa bangunan tersebut merupakan cagar budaya yang harus dijaga.

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada TNI karena TNI juga bersih-bersih. Mereka membantu kita,” katanya.

Untuk memastikan pelestarian berjalan sesuai ketentuan, BPK tengah menyiapkan kajian teknis. Dari hasil kajian, ditemukan sejumlah bagian benteng mengalami kerusakan, mulai dari bagian yang patah hingga beberapa bagian yang berpotensi runtuh.

BPK akan melibatkan tenaga ahli cagar budaya nasional, arsitek, dan ahli sipil dalam upaya pemugaran. Dody berharap pemugaran dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran, sehingga kondisi benteng tetap terjaga.

Selain pemugaran fisik, BPK juga akan memanfaatkan teknologi fotogrametri untuk mendokumentasikan kondisi benteng secara detail. Teknologi tersebut memungkinkan masyarakat melihat bagian-bagian benteng dari berbagai sisi melalui platform digital.

Menurut Dody, dokumentasi digital penting sebagai arsip sekaligus sarana edukasi. Jika suatu saat terjadi perubahan atau kerusakan pada bangunan, kondisi sebelumnya tetap dapat diketahui melalui dokumentasi tersebut.

Festival tahun ini juga melibatkan sekitar 30 UMKM. Keterlibatan pelaku usaha lokal menjadi bagian dari upaya BPK mengukur dampak ekonomi dari kegiatan budaya.

Dody mengatakan evaluasi kegiatan sebelumnya menunjukkan festival memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi masyarakat. Bahkan, pihaknya mencatat ada UMKM yang mampu memperoleh omzet sekitar Rp10 juta per hari selama kegiatan berlangsung.

“Kita tidak hanya melihat kegiatan selesai, tetapi kita survei juga ekonomi budayanya. Berapa orang yang terdampak, berapa perputaran uangnya, dan berapa yang datang,” ujarnya.

Ia berharap festival dapat terus digelar secara berkelanjutan dan semakin berkembang. Jika dukungan anggaran meningkat, pelaksanaan festival tidak menutup kemungkinan diperpanjang dari dua menjadi tiga hari dengan melibatkan lebih banyak peserta dan lembaga.

BPK juga membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah, kementerian, komunitas, hingga para raja di Maluku. Kementerian Pariwisata, Kementerian Desa, dan Kementerian Koperasi juga diharapkan dapat terlibat sehingga kegiatan memiliki dukungan lebih luas.

Menurut Dody, kolaborasi tersebut penting agar festival tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk menghidupkan budaya sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, tema “Merangkai Warisan Budaya dalam Harmoni” dipilih karena dinilai sejalan dengan identitas Ambon sebagai Kota Musik. Harmoni tidak hanya dimaknai dalam musik, tetapi juga sebagai semangat mempertemukan berbagai unsur untuk menjaga dan mengembangkan warisan budaya.

Dody berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap Benteng Nieuw Victoria. Menurutnya, pelestarian warisan budaya tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat agar sejarah tidak hilang dari ingatan generasi mendatang.

“Sense of belonging-nya saudara-saudara di Ambon ini juga masih terasa, supaya generasi ke depan tidak melupakan,” pungkas Dody.(CNmy)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *