
AMBON, cahaya-nusantara.com
Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, menegaskan bahwa Rapor Pendidikan bukan sekadar deretan angka atau formalitas administratif belaka. Lebih dari itu, instrumen ini harus menjadi alat diagnosa utama bagi kepala sekolah untuk menemukan akar masalah mutu pendidikan dan merancang solusi yang tepat sasaran.
Penegasan ini disampaikan Wattimena saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Evaluasi dan Peningkatan Rapor Pendidikan bagi Kepala Sekolah SD dan SMP se-Kota Ambon, di Lantai 5 Manise Hotel, Kamis (24/9/2026).
“Kita tidak bisa lagi bekerja berdasarkan asumsi atau ‘kira-kira’. Jika ingin mutu pendidikan naik, kita harus punya data akurat. Rapor pendidikan adalah peta kita. Tugas Bapak Ibu kepala sekolah adalah membaca peta itu, menemukan di mana letak ‘penyakitnya’, lalu mengobati akarnya,” ujar Wattimena di hadapan ratusan peserta bimtek.
Capaian SPM Naik, Tantangan Masih Ada
Wattimena mengapresiasi capaian Kota Ambon dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) atau indikator “Tuntas Pertama” yang mengalami kenaikan signifikan dalam empat tahun terakhir, dari kisaran 60-an menjadi 75,1 pada tahun 2025. Namun, ia mengingatkan agar aparatur tidak terlena.
Masih adanya indikator berwarna merah dan kuning di beberapa satuan pendidikan menuntut evaluasi mendalam. Ia meminta kepala sekolah untuk tidak puas dengan status “kuning”, tetapi harus berjuang keras mengubahnya menjadi “hijau”.
“Mempertahankan prestasi itu lebih sulit daripada merebutnya. Jangan sampai tahun depan capaian kita malah turun. Saya ingin Bapak Ibu menjadi pelaku sejarah yang mencatatkan peningkatan mutu, bukan justru menurunkan standar yang sudah kita bangun,” tegasnya.
Ambisi Besar: Kurikulum Musik di Semua Sekolah & Rekor Dunia
Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota juga mengungkapkan rencana strategis untuk memperkuat identitas Ambon sebagai UNESCO Creative City of Music. Pemkot akan mengimbaskan kurikulum muatan lokal berbasis musik ke seluruh sekolah di Kota Ambon, tidak terbatas hanya pada sekolah percontohan.
Program ini dinilai krusial untuk membentuk karakter siswa. Wattimena percaya, anak yang belajar musik cenderung lebih sabar, teliti, dan memiliki kontrol emosi yang baik, sehingga dapat mengurangi potensi kenakalan remaja atau tawuran.
“Orang yang bermusik itu romantis dan sabar. Proses belajar alat musik membutuhkan ketelitian dan kesabaran panjang. Ini adalah investasi karakter,” jelasnya.
Bahkan, Pemkot Ambon menargetkan pemecahan rekor dunia untuk jumlah pelajar yang bermain alat musik secara serentak, dengan target minimal 5.000 hingga 8.000 peserta. Untuk mendukung hal ini, Pemkot akan menerbitkan regulasi terkait modul muatan lokal dan memberikan insentif bagi guru seni budaya serta narasumber lokal yang terlibat.
Kolaborasi Atasi Literasi dan Peringatan Disiplin
Terkait indikator literasi yang masih menjadi tantangan, khususnya di sekolah swasta dan madrasah, Wattimena menginstruksikan Dinas Pendidikan untuk berkolaborasi erat dengan Dinas Perpustakaan. Strategi peminjaman buku perpustakaan daerah akan digalakkan untuk meningkatkan budaya baca siswa.
Di akhir sambutannya, Wali Kota memberikan peringatan keras terkait disiplin kehadiran. Ia melarang kepala sekolah mewakilkan kehadiran dalam acara penting seperti Bimtek ini tanpa alasan yang jelas dan mendesak.
“Saya percaya pada kerja hati. Fokuslah pada tugas utama: memperbaiki mutu sekolah masing-masing. Mari kita jaga kepercayaan masyarakat dengan integritas dan kerja nyata,” pungkasnya.
Kegiatan Bimtek ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, hingga Jumat (25/9/2026), dengan fokus pada bedah data Rapor Pendidikan dan penyusunan rencana tindak lanjut perbaikan mutu pendidikan di setiap satuan pendidikan.(CNmy)
