
AMBON, cahaya-nusantara.com
Maluku kembali menorehkan prestasi sebagai pusat perhatian akademisi nasional. Sebanyak 320 peserta dari 34 fakultas dan perguruan tinggi negeri se-Indonesia berkumpul di Presisi Polda Maluku, Jumat (6/11/2026), untuk menghadiri Pertemuan Puncak Forum Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) se-Indonesia.
Kegiatan tahunan ini mengusung tema besar “Harmony in Diversity”. Tema tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Para akademisi ingin menunjukkan bahwa keberagaman suku, budaya, dan latar belakang dari Sabang sampai Merauke justru menjadi kekuatan utama untuk memajukan pendidikan Indonesia.
Ketua Panitia, Dr. Agustinus Ufie, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa forum ini dirancang untuk menghasilkan aksi nyata, bukan hanya wacana.
“Kami ingin pertemuan ini melahirkan ide-ide konstruktif yang bisa dirasakan dampaknya, baik bagi pendidikan di Maluku maupun secara nasional,” ujar Agustinus usai kegiatan.
Salah satu bukti komitmen tersebut adalah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antarperguruan tinggi. Kerja sama ini menyasar tiga pilar utama: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan adanya MoU, dosen dan mahasiswa dari berbagai kampus kini dapat melakukan pertukaran ilmu, riset bersama, hingga turun langsung membantu masyarakat dalam satu kolaborasi terpadu.
Hadapi Era AI dengan Etika
Selain memperkuat jaringan, forum ini juga membahas tantangan paling hangat di dunia pendidikan saat ini: Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Para peserta sepakat bahwa AI membawa kemudahan luar biasa dalam proses belajar mengajar. Namun, penggunaannya tidak boleh lepas dari kendali.
“AI memang memudahkan, tetapi etika dan tanggung jawab harus tetap menjadi prioritas. Kita tidak boleh kehilangan sisi humanis dalam pendidikan,” tegas Agustinus.
Pesan ini menjadi pengingat penting bagi para pendidik untuk tetap bijak memanfaatkan teknologi tanpa mengikis nilai-nilai moral dan kearifan lokal.
Penunjukan Maluku sebagai tuan rumah pertemuan puncak tahun ini merupakan hasil dari proses panjang. Keputusan diambil setelah pertemuan sebelumnya di Riau, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan sela di Kupang.
Kehadiran para dekan, wakil dekan, dan ketua program studi dari seluruh penjuru Indonesia membuktikan antusiasme tinggi terhadap agenda strategis ini. Mereka berharap jejaring yang terbentuk di Ambon akan terus hidup dan berkembang, menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih inklusif, maju, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Dengan semangat “Harmony in Diversity”, Forum FKIP se-Indonesia di Ambon berhasil mengirimkan pesan kuat: persatuan dalam keberagaman adalah kunci emas untuk mencetak generasi pendidikan Indonesia yang unggul dan berkarakter.(CN02)
