Ambon, Cahayanusantara12.com

Banyak rumah makan di kota Ambon yang tidak bisa
melakukan pelayanan yang baik kepada konsumen yang menggunakan jasanya dengan
cara makan di rumah-rumah makan tersebut, kendatipun ada begitu banyak yang
lebih mengedepankan pelayanan ketimbang keuntungan yang diraup. Bahkan banyak
dari para pengusaha warung-warung makan di kota Ambon cenderung menjadikan
konsumen yang makan di warungnya sebagai raja. Karena mereka beranggapan jika konsumen
merasakan suasana makan di warungnya nyaman maka mereka akan datang di kemudian
hari. Hal ini berbeda jauh dari apa yang ditampilkan oleh pengelola warung makan
Supira Semarang yang terletak di jalan Kopra tepatnya di belakang toko Naga
Kuning. Rupanya warung nasi Supira Semarang itu  yang sebelumnya pernah
dipuji masyarakat saat ini ibarat jauh panggang dari api, artinya pelayanan yang
ditampilkan oleh karyawan di warung nasi tersebut tidak mencerminkan nama
besarnya, saat ini mereka lebih banyak mementingkan unsur pemasukan atau
larisnya makanan dari warung tersebut ketimbang menghargai konsumen yang sedang
makan. Hal ini terlihat jelas saat Rabu, 2 Maret kemarin ada empat wartawan
yang makan di warung tersebut akan tetapi sikap mereka sangat arogan dan tanpa
beretika. Bagitu ada orang lain yang masuk hendak makan maka tanpa
memperhatikan keempat tiga dari empat orang itu sementara makan akan sebaliknya
dengan sikap yang sangat kasar mengangkat piring makan dan gelas teh es yang
ada di depan keempat orang tersebut dan dua di antara mereka satu wanita dan satumnya
lagi pria dengan kasar meminta keempat orang wartawan tersebut untuk segera
meninggalkan warung nasi karena ada orang lain lagi yang hendak makan,
sementara makan dan minuman tiga dari keempat orang tersebut belum habis di
piring dan gelas mereka. Sikap kasar dan arogan tersebut kemudian ditanggapi
oleh keempat orang wartawan tersebut sehingga sempat terjadi keributan. Menariknya
Setelah terjadi keributan sertamerta kedua pelayan tidak mau menerima uang dari keempat wartawan yang hendak membayar makan dan minum
mereka, barangkali sebagai kompensasi agar keributan tersebut jangan
dilanjutkan, akan tetapi merasa dilecehkan keempat wartawan yang tidak
menyebutkan identitas tersebut juga ngotot untuk uang yang telah diserahkan
sebagai pembayaran ongkos makan dan minum harus diterima dan hanya boleh
dikembalikan sisa dari harga menu tersebut. Sayangnya setelah diminta bertemu
dengan pimpinan atau pengelola warung makan pelayan pria yang tidak diketahui
namanya mengatakan pimpinannya sedang berangkat. Selanjutnya keributan tersebut
sempat mengundang perhatian para tamu yang lain sehingga ada yang sampai secara
spontan melerai kejadian tersebut. Menariknya lagi setiap orang yang makan di
warung itu tidak diberikan Bill saat hendak membayar makan dan minumnya.
Tindakan pelayan warung tersebut jelas-jelas sangat merugikan pemerintah kota
Ambon yang telah menetapkan penggunaan bill bagi setiap orang yang makan atau
minum di warung dan kedai serta rumah-rumah makan di kota Ambon. Oleh sebab itu
dinas Pendapatan Kota Ambon diminta menindak tegas wajib pajak seperti Warung
nasi Supira Semarang yang tidak mengindahkan Perda Kota Ambon dan bersikap
hanya mencari keuntungan semata tanpa memiliki etika bisnis yang santun.(CN-01)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *