Kepala Bidang Pangan Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Hans Talahatu mengatakan salah satu penyebab harga daun
singkong di Tual dan Kabupaten Maluku
Tenggara menjadi mahal adalah adalqah karena adanya rencana pemerintah mau mengolah singkong atau kasbi
menjadi beras analog sehingga daun
singkong tak boleh dipetik sebelum saatnya dipanen
ubinya untuk dijual ke pabrik pengolahan beras analog. Demikian antara lai8n penegasan Talahatu kepada
wartawan di Ambon, Jumat pekan lalu
bersamaan dengan kegiatan konferensi pers dinas Pertanian provinsi Maluku. Dikatakan,
jika singkong atau kasbi yang akan dipanen untuk dijadikan beras analog sebelum dipanen daunnya dipetik maka
kasbinya akan menjadi pahit dan akan
berpengaruh terhadap kualitas beras analog tersebut.
Oleh sebab itulah maka daun singkongnya tidak boleh dipetik sebelum kasbinya dipanen. Selanjutnya menurut Talahatu, dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan petani, di
satu sisi dan di sisi lain untuk mengurangi konsumsi beras pihaknya mencoba dengan pangan lokal dengan mengajak
warga mengkonsumsi kasbi atau singkong
akan tetapi jika kasbi di konsusi secara
tradisional saja dengan cara menggoreng kemudian dimakan lama kelamaan orang kurang berminat oleh sebab itu pihaknya
berencana untuk menjadikan beras analog
yang terbuat dari kasbi, selain itu untuk mendapatkan
kue-kue yang bagus harus menggunakan tepung-tepung. Oleh karena itu selain untuk mengolah kasbi menjadi beras
analog, tepung-tepung yang dihasilkan juga
akan diolah menjadi enbal yang dimakan
oleh masyarakat dan juga bisa diolah menjadi kue-kue untuk makan pagi dan lain-lain. Dengan demikian maka diharapkan
masyarakat berminat untuk menyuplai bahan
baku kasbi untuk diolah menjadi tepung dan
beras analog.(CN-01)
Ambon,Cahaya Nusantara
