Ambon, cahayanusantara12.com
Pdt. Prof. Dr.
(H.C). S.D. Nuniary, M.Min, mengatakan, Pencanangan Gerakan Maluku Gemar
Membaca (GMGM) oleh Mentri Pendidikan Anes Baswesdan, di Maluku tahun 2015,
terkesan merendahkan masyarakat Provinsi Maluku. Demikian antara lain penegasan
Rektor Institut Agama dan Keagamaan Oikumene (IAKO) Indonesia Timur (Intim)
Ambon, Pdt, Prof Dr (H.C) S.D Nuniary M.Min kepada wartawan di IAKO Intim
Ambon, Jumat (7/8).
(H.C). S.D. Nuniary, M.Min, mengatakan, Pencanangan Gerakan Maluku Gemar
Membaca (GMGM) oleh Mentri Pendidikan Anes Baswesdan, di Maluku tahun 2015,
terkesan merendahkan masyarakat Provinsi Maluku. Demikian antara lain penegasan
Rektor Institut Agama dan Keagamaan Oikumene (IAKO) Indonesia Timur (Intim)
Ambon, Pdt, Prof Dr (H.C) S.D Nuniary M.Min kepada wartawan di IAKO Intim
Ambon, Jumat (7/8).
Menurutnya GMGM
yang dicanangkan oleh Mentri Pendidikan tersebut ada sisi negatif dan
positifnya, di mana untuk sisi negatifnya, dengan konsep yang dibuat tersebut
seolah-olah menyatakan kalau orang Maluku adalah PROVINSI PERTAMA DI Indonesia yang
berhasil mengentaskan buta huruf, Selain itu Maluku juga sebagai provinsi
pertama yang berhasil menyelesaikan wajar 9 tahun kemudian dilanjutkan
dengan pencanangan wajar 12 tahun.
yang dicanangkan oleh Mentri Pendidikan tersebut ada sisi negatif dan
positifnya, di mana untuk sisi negatifnya, dengan konsep yang dibuat tersebut
seolah-olah menyatakan kalau orang Maluku adalah PROVINSI PERTAMA DI Indonesia yang
berhasil mengentaskan buta huruf, Selain itu Maluku juga sebagai provinsi
pertama yang berhasil menyelesaikan wajar 9 tahun kemudian dilanjutkan
dengan pencanangan wajar 12 tahun.
Dikatakan,
seharusnya Menteri Pendidikan terlebih dahulu melakukan pendataan barulah
membuat program GMGM tersebut. Menurut Profesor yang basicnya Pendeta dan
master Ministri ini, tidak semua orang Maluku yang buta huruf, seharusnya
program tersebut dilakukan di Pulau Jawa, kalimantan, Irian, karena masih
banyak masyarakat di sana yang buta huruf. Ia menambahkan kalau konsep tersebut
seharusnya dikebiri dahulu, karena tidak disertai dengan satu penelitian lebih
awal, Nuniary bahkan lebih keras mengecam Menetri pendidikan sembari mengatakan
dari dahulu yang namanya orang Maluku itu tidak ada yang buta huruf, kecuali
suku-suku pendatang lain dari orang Maluku.
seharusnya Menteri Pendidikan terlebih dahulu melakukan pendataan barulah
membuat program GMGM tersebut. Menurut Profesor yang basicnya Pendeta dan
master Ministri ini, tidak semua orang Maluku yang buta huruf, seharusnya
program tersebut dilakukan di Pulau Jawa, kalimantan, Irian, karena masih
banyak masyarakat di sana yang buta huruf. Ia menambahkan kalau konsep tersebut
seharusnya dikebiri dahulu, karena tidak disertai dengan satu penelitian lebih
awal, Nuniary bahkan lebih keras mengecam Menetri pendidikan sembari mengatakan
dari dahulu yang namanya orang Maluku itu tidak ada yang buta huruf, kecuali
suku-suku pendatang lain dari orang Maluku.
Sebagai contoh
Nuniary menyebutkan bahwa Bapaknya saja yang hidup ratusan tahun yang lalu saja
tahu membaca. “yang namanya orang Maluku ini tidak ada yang buta Huruf, kecuali
pendatang yang bukan orang Maluku”, sambil menambahkan moyangnya Nuniary itu
saat penjajah Belanda datang di Maluku sudah tahu membaca. Oleh sebab itu
Nuniary tidak setuju jika GMGM itu digelar di Maluku seakan-akan orang Maluku itu
bodoh dan tidak tahu membaca.
Nuniary menyebutkan bahwa Bapaknya saja yang hidup ratusan tahun yang lalu saja
tahu membaca. “yang namanya orang Maluku ini tidak ada yang buta Huruf, kecuali
pendatang yang bukan orang Maluku”, sambil menambahkan moyangnya Nuniary itu
saat penjajah Belanda datang di Maluku sudah tahu membaca. Oleh sebab itu
Nuniary tidak setuju jika GMGM itu digelar di Maluku seakan-akan orang Maluku itu
bodoh dan tidak tahu membaca.
Meskipun
demikian, menurut Rektor kampus Merah Putih ini, konsep ini boleh dipakai
tetapi dengan catatan harus dikebiri lebih dulu, karena tidak disertai dengan
penelitian lebih awal. Seraya meminta maaf kepada Menteri Pendidikan, Nuniary
mengatakan seharusnya pelaksanaan program GMGM itu didahului dengan
seminar terlebih dahulu barulah dicanangkan program ini bagi orang Maluku.
demikian, menurut Rektor kampus Merah Putih ini, konsep ini boleh dipakai
tetapi dengan catatan harus dikebiri lebih dulu, karena tidak disertai dengan
penelitian lebih awal. Seraya meminta maaf kepada Menteri Pendidikan, Nuniary
mengatakan seharusnya pelaksanaan program GMGM itu didahului dengan
seminar terlebih dahulu barulah dicanangkan program ini bagi orang Maluku.
Meskipun
demikian menurutnya konsep itu sudah terlanjur dicanangkan oleh Menteri, yang
barangkali didorong oleh sebuah kepentingan, dirinya tidak mengetahuinya secara
persis, tetapi dirinya ingin tahu berapa duit yang negara ini telah diserahkan
untuk pelaksanaan program ini. “Ada berapa milyard uang yang telah disiapkan
untuk program ini di Maluku?” tanya Nuniary.
demikian menurutnya konsep itu sudah terlanjur dicanangkan oleh Menteri, yang
barangkali didorong oleh sebuah kepentingan, dirinya tidak mengetahuinya secara
persis, tetapi dirinya ingin tahu berapa duit yang negara ini telah diserahkan
untuk pelaksanaan program ini. “Ada berapa milyard uang yang telah disiapkan
untuk program ini di Maluku?” tanya Nuniary.
Kendati demikian
dari sisi positif program GMGM di Maluku menurut Nuniary6 sejak dahulu kala sampai
dengan zaman modern ini ada sumber-sumber bacaan itu ada pada Kitab-Kitab Suci,
Alkuran, Alkitab dan Kitab-Kitab yang lain. Oleh karena itu berbicara tentang
membaca kata Nuniary harus bertanya terlebih dahulu pada Kyai, Pendeta dan Imam
terlebih dahulu. Karena di dalam Kitab Ulangan dan salah satu Surat di dalam
Al-Quran sangat jelas tertulis tentang bacalah, jadi konsep tentang membaca itu
adalah sebuah konsep tua, bahkan menurutnya konsep agama bisa tumbuh dan
berkembang karena membaca dan nabi-nabi seperti Isa Almasih, Nabi Muhammad dan
nabi Musa mereka mulai dengan membaca. Jadi umat beragama adalah umat yang
gemar membaca, jadi kalau mau membuat konsep membaca haruslah bekerja sama
dengan pihak-pihak yang berkompeten.
dari sisi positif program GMGM di Maluku menurut Nuniary6 sejak dahulu kala sampai
dengan zaman modern ini ada sumber-sumber bacaan itu ada pada Kitab-Kitab Suci,
Alkuran, Alkitab dan Kitab-Kitab yang lain. Oleh karena itu berbicara tentang
membaca kata Nuniary harus bertanya terlebih dahulu pada Kyai, Pendeta dan Imam
terlebih dahulu. Karena di dalam Kitab Ulangan dan salah satu Surat di dalam
Al-Quran sangat jelas tertulis tentang bacalah, jadi konsep tentang membaca itu
adalah sebuah konsep tua, bahkan menurutnya konsep agama bisa tumbuh dan
berkembang karena membaca dan nabi-nabi seperti Isa Almasih, Nabi Muhammad dan
nabi Musa mereka mulai dengan membaca. Jadi umat beragama adalah umat yang
gemar membaca, jadi kalau mau membuat konsep membaca haruslah bekerja sama
dengan pihak-pihak yang berkompeten.
Sambil
mengungkapkan kekesalannya Nuniary mengatakan pada jaman Aristoteles dan jaman
Sokrates sudah ada kebiasaan membaca.Oleh sebab itu sejalan dengan tema sentral
Wisuda Sarjana IAKO pertama tahun 2015 yang juga digelar bersamaan dengan acara
Halal Bi Halal IAKO mengusung tema sentral “Dengan Semangat Halal Bi Halal
tahun 1436 Hijriah Kita Tingkatkan GMGM”.
mengungkapkan kekesalannya Nuniary mengatakan pada jaman Aristoteles dan jaman
Sokrates sudah ada kebiasaan membaca.Oleh sebab itu sejalan dengan tema sentral
Wisuda Sarjana IAKO pertama tahun 2015 yang juga digelar bersamaan dengan acara
Halal Bi Halal IAKO mengusung tema sentral “Dengan Semangat Halal Bi Halal
tahun 1436 Hijriah Kita Tingkatkan GMGM”.
Menurutnya
dengan adanya tema ini, pihaknya ingin mengajak semua pihak untuk kembali ke
basic, dan janganlah menganggap membaca surat kabar itu sudah menjadi gemar
membaca,, bahkan ia mempertanyakan surat kabar itu memuat saja saja. Sebaliknya
ia mengatakan dengan kembali ke basic dimaksudkan adalah membaca Kitab Sucinya
masing-masing Agama dengan baik, baca sumber-sumber ilmu pengetahuan seperti
IPA, IPS, matematika, seni budaya , sejarah, antropologi, etnologi, geografi.
dengan adanya tema ini, pihaknya ingin mengajak semua pihak untuk kembali ke
basic, dan janganlah menganggap membaca surat kabar itu sudah menjadi gemar
membaca,, bahkan ia mempertanyakan surat kabar itu memuat saja saja. Sebaliknya
ia mengatakan dengan kembali ke basic dimaksudkan adalah membaca Kitab Sucinya
masing-masing Agama dengan baik, baca sumber-sumber ilmu pengetahuan seperti
IPA, IPS, matematika, seni budaya , sejarah, antropologi, etnologi, geografi.
Itulah
sumber-sumber bacaan yang mesti masyarakat harus baca, bahkan menurutnya,
membaca sebuah keadaan di Indonesia dengan berbagai perkembangan di segala
bidang harus dibaca apakah perkembangannya pas dan mengambil langkah seperti
ini apakah pas atau tidak. Oleh sebab itu pihaknya mencanangkan tema itu karena
menyadari akan pentingnya bahwa minat baca dari mahasiswa dan siswa itu rendah.
Oleh sebab itu sejak 2 Mei lalu pihaknya telah mencanangkan GMGM 1 H. Yang
artinya GMGM sehari 1 halaman.
sumber-sumber bacaan yang mesti masyarakat harus baca, bahkan menurutnya,
membaca sebuah keadaan di Indonesia dengan berbagai perkembangan di segala
bidang harus dibaca apakah perkembangannya pas dan mengambil langkah seperti
ini apakah pas atau tidak. Oleh sebab itu pihaknya mencanangkan tema itu karena
menyadari akan pentingnya bahwa minat baca dari mahasiswa dan siswa itu rendah.
Oleh sebab itu sejak 2 Mei lalu pihaknya telah mencanangkan GMGM 1 H. Yang
artinya GMGM sehari 1 halaman.
Menurutnya jika
masyarakat diajak membaca satu hari 1 halaman dari sumber-sumber ilmiah maka dapat
dipastikan dalam setahun ia dapat menghabiskan 360 halaman yang juga berarti
satu buku yang telah sudah dibaca oleh masyarakat tersebut.
masyarakat diajak membaca satu hari 1 halaman dari sumber-sumber ilmiah maka dapat
dipastikan dalam setahun ia dapat menghabiskan 360 halaman yang juga berarti
satu buku yang telah sudah dibaca oleh masyarakat tersebut.
Menurutnya GMGM
seperti ini uyang perlu digalakkan, bukan sebaliknya gemar membaca surat kabar.
Bahkan dengan lantang Nuniary mengatakan bukan membaca Ameks sesuai
dengan GMGM versi pemerintah provinsi Maluku dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
itu seraya mengatakan sumber-sumber baca yang menjadi basic itu yang harus
dibaca. Sebagai contoh Nuniary menyebutkan ada satu buku Biologi yang
dibeli di mana buku tersebut sudah berusia tua sehingga memiliki harga
puluhan juta di mana segala macam tumbuhan ada di dalam buku itu.
seperti ini uyang perlu digalakkan, bukan sebaliknya gemar membaca surat kabar.
Bahkan dengan lantang Nuniary mengatakan bukan membaca Ameks sesuai
dengan GMGM versi pemerintah provinsi Maluku dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
itu seraya mengatakan sumber-sumber baca yang menjadi basic itu yang harus
dibaca. Sebagai contoh Nuniary menyebutkan ada satu buku Biologi yang
dibeli di mana buku tersebut sudah berusia tua sehingga memiliki harga
puluhan juta di mana segala macam tumbuhan ada di dalam buku itu.
Menariknya
menurut Nuniary dengan tema Wisuda seperti di atas pihaknya mau memberitahukan kepada
masyarakat bahwa untuk menjadi orang pintar itu baca dulu Kitab Suci dan agar
menjadi orang cerdas membaca dulu Kitab Sucinya, sebab semua sumber ilmu
pengetahuan ada dalam Kitab Suci.(CN-03)
menurut Nuniary dengan tema Wisuda seperti di atas pihaknya mau memberitahukan kepada
masyarakat bahwa untuk menjadi orang pintar itu baca dulu Kitab Suci dan agar
menjadi orang cerdas membaca dulu Kitab Sucinya, sebab semua sumber ilmu
pengetahuan ada dalam Kitab Suci.(CN-03)

