AMBON, cahaya-nusantara.com

Majelis Lattupati bekerja sama dengan Museum Siwalima Provinsi Maluku menggelar diskusi hasil residensi kebudayaan di Belanda. Kegiatan ini mengupas keberadaan museum dan tayangan narasumber tentang perjuangan pahlawan besar asal Maluku, Thomas Mattulessy alias Pattimura.

Diskusi ini berlangsung di Auditorium Universitas Pattimura pada Jumat (20/12/2024) dan dibuka oleh Pembantu Rektor 1 Universitas Pattimura Ambon, Dr. Nur Aida Kubangun.

Hadir dalam diskusi ini pembantu rektor 1 mewakili Rektor unpatti, sekertaris latupati,Ahli waris Bpak Tomas Matulessy,Dosen dan mahasiswa unpatti jurusan sejarah.

Para peneliti antara lain Agung Sumarwan( kordinator penelitian,Charisa Nur Alam ( Peneliti dan Videografer),Mevi Mailoa ( Kasubag Siwalima dan peserta seminar tahun 1993 tentang Pattimura), Diana Irisnawati ( peneliti/kurator museum) yang mempresentasikan penelitian lewat live streaming,sementara moderator Johan Pattiasina,S.Pd.,M.A( Dosen sejarah Unpatti)

Dalam sambutannya, Dr. Kubangun menekankan pentingnya meneladani perjuangan Pattimura yang gigih melawan penjajahan Inggris dan Belanda demi kemerdekaan bangsa.

Ia menyebut perjuangan Pattimura adalah pengorbanan besar demi membebaskan rakyat dari belenggu penjajah, meski harus bertaruh nyawa.

“Semangat Pattimura, Teladan Bagi Generasi Muda”

Dr. Kubangun mengajak generasi muda untuk meneladani semangat dan keberanian Pattimura. Menurutnya, perjuangan Pattimura bukan sekadar sejarah, tetapi menjadi simbol keberanian dan pengabdian kepada tanah air yang patut diwarisi oleh anak-anak muda Maluku.

“Apa yang telah dilakukan Pattimura harus menjadi inspirasi bagi generasi muda. Jangan sampai mereka mengambil langkah yang justru merugikan diri sendiri maupun bangsa. Semangat Pattimura harus terus terpatri di hati setiap anak Maluku,” ujar Dr. Kubangun.

Lebih lanjut, Dr. Kubangun juga mengingatkan bahwa penghargaan terhadap Pattimura terlihat dari penggunaan namanya pada berbagai tempat penting seperti Universitas Pattimura, Bandara Internasional Pattimura, dan sejumlah jalan di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa Pattimura merupakan salah satu tokoh besar yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan.

Terkait polemik yang belakangan mencuat mengenai tokoh-tokoh Maluku, Dr. Kubangun menegaskan bahwa hal itu tidak seharusnya mengurangi semangat para penulis, peneliti, dan masyarakat untuk terus mengusulkan tokoh-tokoh lain asal Maluku agar mendapatkan gelar pahlawan nasional. Ia mencontohkan beberapa nama seperti M. Sangaaji dan Prof. Dr. Siwabessy yang tengah diusulkan.

“Dinas Sosial dan Pemerintah Provinsi Maluku telah bekerja keras dalam dua tahun terakhir untuk mengajukan beberapa tokoh kita menjadi pahlawan nasional. Ini harus menjadi cambuk bagi kita untuk terus menggali sejarah dan mengangkat nama tokoh-tokoh Maluku lainnya,” imbuhnya.

Dr. Kubangun mengajak semua pihak, termasuk pengamat, penulis, dan peneliti sejarah dan budaya, untuk bersama-sama mengapresiasi dan mengusulkan tokoh-tokoh asal Maluku yang belum diakui secara nasional.

Diskusi ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat kebangsaan di kalangan masyarakat Maluku. Dengan mengenang perjuangan Pattimura dan tokoh-tokoh lainnya, diharapkan generasi muda dapat memahami pentingnya menjaga nilai-nilai perjuangan dan kebanggaan akan jati diri sebagai anak bangsa.

Diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan tetapi juga upaya kolektif untuk melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya Maluku demi masa depan yang lebih baik.(CN02)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *