
AMBON, cahaya-nusantara.com
Semangat persatuan dan pembangunan masyarakat Kepulauan Babar kembali berkobar setelah Prof. J.W. Mosse, Ph.D., resmi dilantik sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perkumpulan Masyarakat Kepulauan Babar (Pemaskebar) periode 2025–2030.
Pelantikan yang berlangsung khidmat di Baileo Oikumene Ambon pada Sabtu (21/6/2025) itu turut disaksikan oleh Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Maluku, Daniel E. Indey, S.Sos., M.Si., yang mewakili Gubernur Maluku. Prosesi adat turut mengiringi pelantikan, dipimpin oleh sesepuh adat Adolf Seleky.
Dalam keterangannya kepada media, Mosse menegaskan bahwa prioritas utamanya adalah menyatukan kembali warga Kepulauan Babar yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Ia menyadari tantangan besar di balik misi tersebut.
“Kepulauan Babar sangat luas, dan masyarakatnya tersebar dari Sabang sampai Merauke. Menyatukan mereka bukan hal yang mudah, tapi dengan komitmen dan tekad bersama, saya yakin kita bisa,” ujarnya.
Potensi Diaspora dan Arah Baru Pemaskebar menurut Mosse, banyak putra-putri Babar yang kini berkiprah di berbagai bidang strategis seperti kedokteran, hukum, militer, pendidikan, dan agama. Hal ini menjadi kekuatan besar jika dikonsolidasikan secara terorganisir.
Sebagai langkah awal, Pemaskebar akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) untuk menyamakan visi dan arah perjuangan organisasi. Munas ini dinilai penting mengingat struktur organisasi Pemaskebar yang tersebar luas, mulai dari Jabodetabek hingga Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera.
“Kita ingin menjadikan Pemaskebar sebagai wadah inklusif. Tidak hanya untuk memperkuat komunitas Babar, tapi juga memberi kontribusi nyata bagi daerah-daerah tempat kita tinggal,” jelasnya.
Blok Masela: Tantangan dan Peluang Baru
Di bawah kepemimpinan Mosse, Pemaskebar juga akan mengambil peran strategis dalam isu pembangunan, terutama terkait proyek raksasa Blok Masela. Ia menyebutkan keterlibatan organisasi dalam penyusunan Amdal Blok Masela bersama Itamalada sebagai pencapaian penting.
“Syukur, Maluku Barat Daya akhirnya diakui sebagai daerah penghasil sekaligus terdampak. Ini hasil kerja keras kita bersama. SKK Migas dan Inpex sudah resmi memasukkan MBD dalam dokumen resmi,” kata Mosse.
Dengan potensi perekrutan 10.000 hingga 12.000 tenaga kerja pada 2029, ia mengingatkan pentingnya kesiapan SDM lokal, khususnya dari Kepulauan Babar. Untuk itu, program peningkatan kapasitas pemuda dan pelajar akan menjadi agenda utama dalam periode kepemimpinannya.
“Kita harus siapkan SDM kita dari sekarang. Jangan sampai kita hanya jadi penonton di tanah sendiri,” tegasnya.
Seruan Persatuan dan Rekonsiliasi Internal
Mosse juga mengapresiasi dukungan dari Gubernur Maluku, Wali Kota Ambon, serta seluruh masyarakat Babar. Ia menanggapi isu perbedaan pandangan dalam tubuh organisasi dengan bijak, dan menyambut baik kembalinya sejumlah tokoh senior yang sebelumnya sempat berseberangan.
“Perbedaan itu wajar dalam organisasi. Yang penting kita punya niat baik untuk bersama-sama membangun. Kini kita kembali bersatu,” pungkasnya.
Sementara itu, pendapat sejumlah tokoh masyarakat Babar yang enggan disebutkan namanya mengatakan dengan semangat kolaborasi dan visi yang jelas di bawah kepemimpinan Prof. J.W. Mosse diharapkan mampu membawa angin segar bagi masa depan masyarakat Kepulauan Babar, baik di tanah rantau maupun di kampung halaman tercinta, Bumi Kalwedo.(CN-02)
