AMBON, cahaya-nusantara.com

Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Maluku menghidupkan kembali nilai sejarah dan budaya Benteng Nieuw Victoria melalui Festival Benteng Nieuw Victoria Tahun 2026. Festival yang mengusung tema “Merangkai Warisan Budaya Dalam Harmoni” ini menjadi ruang untuk mempertemukan pelestarian budaya, kreativitas masyarakat, dan penguatan ekonomi berbasis kebudayaan.

Festival tersebut digelar selama dua hari, 7–8 September 2026, dengan pusat kegiatan di Lapangan Merdeka Ambon. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pemajuan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sekaligus dirangkaikan dengan peringatan HUT ke-451 Kota Ambon.

Kepala Balai Pelestarian kebudayaan (BPK) wilayah XX Provinsi Maluku ,Dodi Wiranto,S.Sos.,M.Hum dalam laporannya mengatakan, festival ini lahir dari arah kebijakan Kementerian Kebudayaan yang menempatkan kebudayaan sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.

Menurutnya, warisan budaya tidak hanya perlu dilestarikan, tetapi juga harus mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat melalui berbagai sektor, seperti kuliner, kriya, fesyen, musik, hingga pariwisata berbasis budaya.

“Semangat itu pula yang mendasari Festival Benteng Nieuw Victoria Tahun 2026,” ujarnya dalam pembukaan festival.

Benteng Nieuw Victoria dipilih sebagai ikon utama karena memiliki nilai sejarah penting bagi Kota Ambon dan Maluku. Benteng yang berstatus Cagar Budaya Peringkat Nasional itu menjadi saksi perjalanan panjang Ambon sebagai pusat perdagangan, pemerintahan, sekaligus ruang perjumpaan berbagai kebudayaan di kawasan timur Indonesia.

Melalui festival ini, BPK Maluku ingin menjadikan warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat masa kini. Upaya tersebut diwujudkan dengan menghadirkan berbagai kegiatan yang melibatkan pemerintah, komunitas budaya, pelaku seni, masyarakat, hingga pelaku UMKM.

Rangkaian festival diawali dengan Karnaval Budaya yang melibatkan 10 paguyuban Nusantara serta 15 kelompok seni dan komunitas budaya di Maluku. Kegiatan ini menjadi gambaran keberagaman masyarakat yang hidup berdampingan dalam semangat persatuan.

Selain itu, festival menghadirkan Talk Show Kebudayaan yang membahas pelestarian cagar budaya dan pemajuan kebudayaan. Forum tersebut mempertemukan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, akademisi, militer, hingga praktisi budaya.

Semarak festival juga diperkuat melalui Pameran Budaya yang diikuti 15 stan dari Balai Pelestarian Kebudayaan berbagai daerah, Pemerintah Kota Ambon, serta sejumlah mitra. Pengunjung juga dapat mengenal kembali permainan tradisional Maluku, seperti Assen dan Gici-Gici Lemon Nipis, yang diperkenalkan sebagai bagian dari upaya menjaga permainan rakyat agar tetap dikenal generasi muda.

Dari sisi ekonomi, festival menyediakan ruang bagi 61 tenant UMKM untuk mempromosikan produk kuliner, kriya, dan fesyen khas Maluku. Kehadiran pelaku UMKM menjadi salah satu bentuk nyata upaya menghubungkan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Rangkaian kegiatan kemudian dilengkapi dengan Pagelaran Budaya yang menampilkan 10 kelompok seni binaan BPK Maluku bersama perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan dari berbagai daerah. Penampilan artis lokal dan bintang tamu turut memeriahkan festival sekaligus memperkuat identitas Ambon sebagai UNESCO Creative City of Music sejak 2019.

Dodi menegaskan, seluruh rangkaian kegiatan tidak dirancang semata-mata sebagai hiburan. Festival ini menjadi ruang edukasi, apresiasi, pelestarian, sekaligus kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas budaya, dan pelaku ekonomi kreatif.

Semangat tersebut dirangkum dalam pesan lokal yang menjadi bagian dari festival, yakni “Ale rasa, beta rasa, katong samua basudara.” Pesan ini menegaskan bahwa keberagaman budaya Maluku merupakan kekuatan bersama yang perlu dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan menghidupkan kembali ruang sejarah melalui aktivitas budaya dan ekonomi kreatif, Festival Benteng Nieuw Victoria 2026 diharapkan tidak hanya memperkuat kesadaran masyarakat terhadap warisan budaya, tetapi juga membuka peluang agar kebudayaan terus tumbuh dan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat Maluku.(CNmy)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *