Ambon, cahaya-nusantara.co.id




Memasuki usianya yang
ke 35 tahun Institut Agama dan Keagamaan Oikukemene (IAKO Intim Ambon kembali
mewisudakan 67 sarjana baru dari berbagai disiplin ilmu di Institut itu yang
digelar di aula Katolik Centre Benteng Ambon, Rabu, 27/09-2017.

Dalam sambutan
tertulis Gubernur Maluku yang dibacakan oleh staf Ahli Bidang Pembangunan
Ekonomi,  Rony Taires antara lain
berharap agar dengan adanya mementum wisuda sarjana ini semakin memacu  dan memicu kreativitas  semua pihak 
dalam rangka mengembangkan  dan
pengetahuan dimiliki tersebut serta tidak mudah berpuas diri tetapi terus
mengembangkan kreatifitas, inovatif, dedikasi dan loyalitas terhadap kemajuan
ilmu pengetahuan yang telah dimiliki.

Selanjutnya
menurutnya, dengan tambahan gelar akademik yang dimiliki saat wisuda ini para
sarjana baru memiliki tambahan tanggungjawab yang lebih besar dalam rangka
pengembangan kapasitas  individu dalam
kehidupan bermasyarakat, dismping itu wisudawan telah memiliki kesempatan
untuk  dapat berkiprah dan meniti karier
serta menatap masa depan yang lebih baik dan memiliki kesempatan untuk berperan
aktif dalam pembangunan bangsa dan negara.

Kesempatan itu
gubernur mengingatkan para wisudawan serta lembaga IAKO bahkan para undangan yang hadir tentang adanya faham radikalisme yang marah berkembang belakangan
ini.

Dikatakan,  beberapa tahun ini paham radikalisme kini
kian merajalela dan tidak hanya menerpa kalangan bawah yang minim pendidikan
tetapi juga mulai merambah di kalangan intelektual di perguruan tinggi,  Akademisi, Dosen  maupun mahasiswa dan birokrasi kampus
terpapar sindrom radikalisme.

Menurut Assagaff  fenomena ini tercermin dari hasiol
penelitian  yang dilakukan oleh pusat
penelitian kemasyarakatan dan Kebudayaan Le,baga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI) yang menyebutkan bahwa radikalisme ideologi telah merambah dunia
mahasiswa.

Menariknya menurut
gubernur Assagaff pros radikalisme itu dilakukan secara tertutup melalui
kegiatan kemahasiswaan bahkan melalui pengajaran dosen. Ironisnya menurut
orang nomor satu di Maluku itu, gerakan radikalisme itu berupaya menegakan
ideologi khilafah  dengan mengganti UU
1945.

Selanjutnya mengacu
pada tema wisuda IAKO tahun ini gubernur lebih lanjut mengatakan sangatlah
relevan dengan kondisi negara Indonesia saat ini

Dikatakan sunggulah
pembusukan nasionalisme  telah dimulai di
dalam kampus dan potensi perpecahan bangsa dimulai dari sudut akademis dan
kampung ilmiah bernama kampus yang  justru
diharapkan menjadi garda depan bagi kemajuan 
bangsa.

Terkait dengan itu,
kata gubernur,  tema utama yang diangkat
pada wisuda  kali ini yakni “
Menghadirkan Negara di Dalam Pendidikan Kampus dan Menolak Segala Bentuk 
Radikalisme Yang Bertentangan 
Dengan Pancasila dan UUD 1945”.

Sementara itu
Walikota Ambon dalam sambutan tertulisnya antara lain mengatakan, tema
tersebut  tentunya memiliki makna
strategis bagi pemerintah kota Ambon dalam upaya mengeleminir berbagai ancaman
disintegrasi bangsa yang terjadi belakangan ini.


Dikatakan,  kampus sebagai lingkungan akademik, tentu
diharapkan menjadi garda terdepan dalam melawan paham radikal yang berpotensi
memcah belah kesatuan dan perstuan bangsa serta bertentangan dengan falsafah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.(
CN-02

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *