AMBON,cahaya-nusantara.com

Semangat inovasi dan kepedulian terhadap persoalan global mengantarkan dua siswa SMAN 4 Ambon,Fayola Queen Risakotta dan Charisa Jeaniver Lawalata. menembus ajang internasional International Creativity and Innovation Award (ICIA) 2026. Melalui karya bertajuk AquRisk-AI (AI Based Water Quality Risk Monitoring System), keduanya berhasil melaju hingga tahap final dalam kategori Innovation Award.

Salah satu peserta, Fayola Queen Risakotta, yang diwawancarai di Ambon, Rabu (1/4/2026), mengungkapkan bahwa inovasi tersebut lahir dari keprihatinan terhadap masih banyaknya masyarakat dunia yang kesulitan mendapatkan air bersih layak konsumsi.

“Alasan kami memilih AquRisk-AI karena berbasis kecerdasan buatan dan berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar manusia, yaitu air bersih. Sistem ini dapat mengukur kekeruhan, tingkat keasaman, dan suhu air untuk menentukan apakah air tersebut layak digunakan atau tidak,” jelas Fayola.

Ia menuturkan, proses pengembangan inovasi dilakukan dalam waktu relatif singkat. Pembuatan sistem, mulai dari coding website hingga perancangan kerangka alat, hanya memakan waktu sekitar dua minggu.

“Kami butuh satu minggu untuk membuat coding website dan satu minggu lagi untuk menyusun kerangka sistemnya. Setelah itu dilakukan uji coba, pembuatan presentasi, poster, hingga video penjelasan sebelum akhirnya didaftarkan ke kompetisi,” tambahnya.

Menurut Fayola, kekuatan utama dari AquRisk-AI terletak pada manfaat globalnya. Ia berharap inovasi ini dapat digunakan secara luas untuk membantu masyarakat dalam menguji kualitas air secara praktis.

“Masih banyak orang di dunia yang kekurangan air bersih. Harapan kami, jika produk ini bisa dikenal secara global, maka bisa membantu banyak orang memastikan air yang mereka gunakan aman,” ujarnya.

Motivasi Fayola dan Charisa juga diperkuat oleh pengalaman pribadi Fayola, Ia pernah mengalami gangguan kulit akibat penggunaan air yang kurang bersih di daerah tempat tinggalnya.

“Pengalaman itu membuat saya dan teman saya semakin yakin untuk mengembangkan inovasi ini,” katanya.

Meski percaya diri mampu bersaing di tingkat internasional, Fayola mengakui masih menghadapi tantangan, khususnya dalam kemampuan bahasa Inggris.

“Karena ini kompetisi internasional, kemampuan bahasa Inggris sangat penting. Saya terus belajar untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan pemahaman,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan keduanya tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari guru, teman, hingga orang tua.

“Tanpa dukungan mereka, mungkin kami tidak sampai di titik ini. Dukungan itu yang membuat kami tetap optimis,” katanya.

Sementara itu, guru pendamping sekaligus guru Bahasa Inggris SMAN 4 Ambon, Sofia Rahanserang, menjelaskan bahwa persiapan siswa dilakukan secara kolaboratif lintas bidang.

“Peran saya memastikan kemampuan bahasa Inggris mereka siap, karena semua proses, mulai dari seleksi hingga presentasi dilakukan dalam bahasa Inggris. Namun, kami tidak bekerja sendiri. Guru informatika, biologi, fisika, dan lainnya juga terlibat,” jelas Sofia.

Ia menyebut, pencapaian tahun ini merupakan peningkatan dari tahun sebelumnya, di mana siswa hanya berada pada level Innovation Challenge.

“Tahun ini kami naik ke level Innovation Award, yang jauh lebih kompetitif. Di tahap ini, bukan hanya juri, tetapi juga pelaku industri yang menilai. Bahkan, jika proyeknya potensial, bisa dibeli dan dipatenkan,” ungkapnya.

Sofia menambahkan, proses seleksi yang dilalui sangat ketat, mulai dari pengiriman proposal, video presentasi, hingga wawancara dengan juri internasional.

“Mereka sudah melalui beberapa tahap seleksi dan pitching dengan juri dari berbagai negara. Semua dilakukan secara mandiri oleh siswa. Kami hanya mendampingi dari sisi persiapan,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan hanya membawa nama sekolah, tetapi juga Maluku dan Indonesia di kancah global.

“Harapan kami tentu ada dukungan dari pemerintah. Namun yang paling penting, anak-anak ini bisa membuktikan bahwa mereka mampu bersaing di tingkat dunia,” ujarnya.

Ajang ICIA 2026 sendiri akan mempertemukan peserta dari berbagai negara di dunia, termasuk dari kawasan Eropa, Australia, dan Asia, dalam sebuah pameran inovasi berskala internasional di Phnom Penh, Kamboja.

Di akhir wawancara, Fayola berharap langkahnya dapat menginspirasi siswa lain untuk berani berkompetisi di tingkat global.

“Kalau saya bisa, teman-teman lain juga pasti bisa. Jangan takut mencoba, karena kesempatan itu selalu ada,” pungkasnya(CNmy)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *