
Ambon, cahaya-nusantara.com
Badan Pengurus Cabang (BPC) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Ambon masa bakti 2026–2028 resmi menjalin kerja sama dengan Happy Green Islands (HGI) melalui kegiatan seminar dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU), yang berlangsung di Sekretariat GMKI Ambon, Senin (6/4/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema “Building Environmental Awareness and Implementing Sustainable Practices with Youth Organizations” ini menjadi langkah strategis dalam mendorong keterlibatan pemuda dalam isu-isu keberlanjutan lingkungan di Kota Ambon.
Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari komunikasi resmi yang telah dibangun sebelumnya, di mana Happy Green Islands menyatakan komitmennya untuk mendukung masyarakat melalui program-program berkelanjutan, khususnya di bidang air bersih, pelestarian lingkungan, dan kesehatan masyarakat. Kolaborasi dengan GMKI Ambon dipandang sebagai langkah penting untuk memastikan bahwa intervensi yang dilakukan tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai lokal dan melibatkan partisipasi masyarakat.
Ketua Cabang GMKI Ambon, Reno L. Z. Patty, dalam sambutannya menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan sosial GMKI sebagai organisasi kader.
“Isu lingkungan hari ini bukan lagi sekadar wacana, tetapi sudah menjadi persoalan nyata yang harus dijawab secara kolektif. GMKI Ambon berkomitmen untuk hadir melalui kerja-kerja konkret, dan kolaborasi dengan Happy Green Islands menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat peran pemuda dalam mendorong perubahan,” ujar Reno.
Ia juga menekankan bahwa GMKI tidak hanya menjadi mitra seremonial, tetapi akan terlibat aktif dalam implementasi program-program yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Pernyataan Narasumber
Direktur Happy Green Islands, Kees Lafeber, menyampaikan bahwa pihaknya melihat pentingnya membangun kemitraan dengan organisasi berbasis komunitas seperti GMKI dalam menciptakan dampak jangka panjang.
“Kami percaya bahwa keberlanjutan tidak bisa dicapai sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dengan organisasi lokal yang memahami konteks masyarakat. Melalui kerja sama ini, kami ingin memperkuat program-program lingkungan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda,” jelas Lafeber.
Sementara itu, akademisi Dr. Revency V. Rugebregt dalam materinya menyoroti persoalan pengelolaan sampah sebagai tantangan utama di wilayah perkotaan, termasuk Ambon.
“Pengelolaan sampah harus dimulai dari perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat. Strategi yang dibutuhkan adalah pendekatan berbasis komunitas, di mana masyarakat didorong untuk melakukan pemilahan, pengurangan, dan pemanfaatan kembali sampah. Di sinilah peran organisasi pemuda menjadi sangat penting sebagai motor edukasi dan gerakan sosial,” ungkapnya.
Sebagai puncak kegiatan, dilakukan penandatanganan MoU dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara GMKI Cabang Ambon dan Happy Green Islands. Kesepakatan ini diharapkan menjadi dasar bagi pelaksanaan berbagai program kolaboratif yang berkelanjutan di masa mendatang.
Dengan terjalinnya kerja sama ini, GMKI Ambon dan Happy Green Islands berkomitmen untuk bersama-sama menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan lingkungan, sekaligus membangun kesadaran ekologis di kalangan generasi muda sebagai agen perubahan. (CNi)
