Ambon,
cahaya-nusantara.co.id
Wilem Elake, orangtua atlit pelajar PPLP
dinas Pemuda dan Olahraga provinsi Maluku a.n Maikel Elake, siswa kelas 2 salah
satu SMA di kota Ambon yang diduga dikeluarkan tidak sesuai prosedur dari PPLP
Pemuda dan Olahraga provinsi di Karang Panjang Ambon meminta Pemda Maluku untuk
melakukan evaluasi terhadap kinerja dari dinas tersebut mengingat anaknya yang
selama 2 tahun dibina di PPLP Karang Panjang Ambon  sejak Januari 2018 tidak dipanggil lagi untuk
bergabung dengan teman-teman sesama atlit di tempat yang menjadi pusat latihan
para atlit pelajar se-provinsi Maluku itu.
Kepada wartawan Elake mengatakan tidak
puas dengan keputusan yang diambil oleh para pelatih dan terutama pembina di
PPLP tersebut mengingat alasan yang dikemukakan staf dinas Pemuda dan Olahraga
tersebut tidak rasional.
Menurutnya anak mereka masuk ke PPLP itu
bukan membawa dirinya sendiri atau bukan atas kemauannya dan orangtuanya akan
tetapi saat direkrut masuk ke pusat pelatihan itu dengan menggunakan SK akan
tetapi saat dipulangkan ke rumah tanpa berita apa-apa dari pihak dinas maupun
pembina atau pelatih sekalipun. Dan yang lebih aneh lagi ketika orangtua atlit
mengecek langsung ke tempat pelatihan barulah diketahui kalau anak mereka sudah
dicoret dari daftar sebagai atlit Pelajar di PPLP Maluku dengan dua alasan
yakni kurang disiplin dan tidak berprestasi. Padahal menurut Elake kedua alasan
tersebut tidak masuk diakal karena soal disiplin yang kabarnya anak mereka
setiap hari Minggu pulang ke rumah itu atas ijin dari pembina dengan alasan
untuk mencuci pakaian mengingat air bersih untuk MCK di pusat latihan itu
sangat kurang bahkan tidak ada sehingga setiap hari minggu anak mereka dan
sejumlah teman biasanya diijinkan untuk pulang “Memang katong punya anak ni
pulang-pulang itu berdasarkan lokasi PPLP itu mengalami kesulitan air”, Ujar
Elake sambil menambhkan selaku orangtua sering mengontrol anaknya di lokasi
atlit dimana anak-anak mau buang air kecil 
saja tidak ada air yang tersedia. Ironisnya selaku orangtua dalam jangka
waktu 1 atau 2 minggu sekali datang ke lokasi pembinaan itu untuk membeli air
sebagai persediaan untuk anak mereka, kata Elake menambahkan sering air galon
yang dibelikan orangtua bukan saja dipakai untuk minum melainkan juga pakai
untuk kebutuhan di WC
Sementara alasan kedua yang disampaikan
oleh pihak dinas Pemuda Olahraga, kata Elake 
yakni anak mereka tidak berprestasi. Hal ini  menurut Elake juga tidak masuk akal mengingat
barusan menjelang akhir tahun 2017 tepatnya pada HUT kota Ambon anak mereka
meraih prestasi  sebagai juara 2 dan di
awal tahun 2018 ia juga menjadi juara 1 pada kejuaraan yang digelar oleh Kodam
XVI/Pattimura.
Ia malah menambahkan untuk mencapai
prestasi di tingkat nasional tidak tercipta dengan sendirinya melainkan harus
dimulai dari tingkat daerah oleh sebab itu menurut Elake alasan yang
dikemukakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga adalah alasan yang dibuat-buat
karena sebelumnya pihaknya juga telah mengetahui adanya seorang pelatih yang
menaruh dendam kepada anak mereka yakni pelatih asal Saparua, Sdr. Ruben
Sapulette, namun sayangnya saat diminta untuk mempertemukan sang pelatih dan
orangtua siswa atau atlit untuk mengetahui kebenaran informasi,  pihak dinas Pemuda dan Olahraga mengelak
sambil mengatakan pelatih yang bersangkutan telah berhenti sebagai pelatih
karena sudah diganti dengan pelatih yang lain, kata Elake.
Sementara itu. Kepala Bidang Peningkatan
Prestasi Olahraga dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Maluku Carolus Nirahua
saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Senin, 5/2 mengatakan tidak benar
informasi yang disampaikan oleh orangtua atlit yang bersangkutan, karena
satu-satunya alasan lembaga tersebut dalam mengembalikan atlit adalah soal
prestasi. Oleh sebab itu sambil menunjukkan daftar atlit berprestasi kepada
wartawan, Nirahua mengatakan selama dua tahun atlit tersebut tidak mengukir
sebuah prestasi di tingkat nasional, bahkan menurutnya saat Kepala Dinas Pemuda
dan Olahraga Provinsi Maluku memnyaksikan event nasional yang ber;langsung di
Papua tahun lalu, ternyata Maikel Elake kalah bersaing dengan seorang utusan
dari PPLP Pupua yang memiliki postor tubuh sangat kecil dibandingkan dengan
tubuh besar dan kekar milik Elake.
Oleh sebab itu menurut Nirahua  dipulangkannya Maikel Elake sudah sesuai
prosedur mengingat di lembaga pelatihan yang dibinanya itu bukan merupakan
sebuah asrama bebas yang hanya menampung siswa yang tidur dan makan minum
secara bebas tanpa mengukir prestasi.
Selain itu keputusan memulangkan Maikel
Elake sudah dibahas secara resmi dalam dewan pembina dan para pelatih yang
menginginkan PPLP Maluku harus meraih prestasi, lagi pula ada komitmen atau aturan dimana setiap atlit yang
tidak memiliki prestasi akan dipulangkan kepada orangtuanya dan hal itu
berlangsung selama dua tahun seorang atlit berada di lembaga pembinaan prestasi
siswa Maluku tersebut.
Nirahua juga membantah jika dikatakan kekurangan air di tempat itu
mengingat selain di asrama, kantor di mana dirinya bekerja juga menyediakan air
jika para atlit kekurangan air di asrama mereka.(CN-02)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *