
AMBON, cahaya-nusantara.com
Upaya pelestarian budaya di Maluku mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah 20 Provinsi Maluku, Kementerian Kebudayaan menggelar pelatihan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) bertema “SDM Unggul, Budaya Lestari”, yang berlangsung di Natsepa Resort & Conference, Kabupaten Maluku Tengah, Selasa (17/6/2025).

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan, Fryda Lucyana,S.H.,L.Lm Dalam sambutannya, Fryda menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak akan maksimal tanpa aparatur yang tangguh dan profesional, khususnya para Juru Pelihara (Jupel) situs budaya di daerah.
“Di tengah kompetisi global, SDM adalah fondasi utama. Pelatihan ini bukan hanya teknis, melainkan strategi nasional untuk memastikan warisan budaya kita tetap hidup dan terlindungi,” ujar Fryda penuh semangat.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya integritas dalam kerja-kerja pelestarian.
“Pengalaman bisa dibangun, kecakapan bisa dilatih, tapi kejujuran itu harga mati,” tambahnya, mengutip pesan moral dari Bung Hatta.
Fryda menyoroti kekayaan budaya Maluku sebagai wilayah yang sarat nilai historis dari peninggalan kolonial seperti benteng benteng tua, hingga tradisi hidup masyarakat yang pernah menjadi nadi perdagangan rempah dunia.
“Maluku adalah memori kolektif bangsa. ASN di bidang kebudayaan harus menjadi penjaga nilai-nilai ini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPK Wilayah 20 Maluku, Dody Wiranto, S.S. M.Hum menyebut pelatihan ini sebagai momentum penting, terlebih setelah para Jupel resmi diangkat melalui SK. Mereka kini memiliki tanggung jawab formal untuk menjaga dan melindungi warisan budaya di daerah masing-masing.
“Kehadiran Ibu Irjen adalah dukungan moral yang luar biasa bagi kami di daerah. Ini memberikan energi positif untuk terus membenahi sistem pelestarian budaya berbasis SDM yang kuat,” kata Dody.
Menurutnya, pelatihan ini juga bagian dari persiapan BPK menuju status Zona Integritas Wilayah Bebas Korupsi (ZI-WBK), sejalan dengan semangat reformasi birokrasi.
Selama kegiatan, para peserta dibekali materi strategis dari tiga narasumber yang membahas pelestarian cagar budaya, konservasi berkelanjutan, serta penguatan kinerja aparatur budaya.

Peserta berasal dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Maluku. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan dalam pelestarian budaya di lapangan.
“Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti sebagai seremonial. Harapan kami, semangat ini menyebar, menjadi kesadaran bersama bahwa budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, tapi identitas hidup yang harus dijaga dan diwariskan,” pungkas Dody.(CN-02)
