
AMBON,cahaya-nusantara.com
Dari timur Indonesia, langkah pasti menuju panggung global kembali ditunjukkan pelajar SMA Negeri 4 Ambon. Sekolah ini berhasil menembus babak final kategori bergengsi Innovation Award dalam ajang International Creativity and Innovation Award 2026, menandai capaian luar biasa sekaligus mempertegas posisi generasi muda Maluku di level internasional.
Keberhasilan ini bukan sekadar keikutsertaan, melainkan lonjakan prestasi. Setelah beberapa kali berpartisipasi di kategori Innovation Challenge dalam dua tahun terakhir, SMAN 4 Ambon kini resmi naik kelas dan bersaing di kategori yang lebih kompetitif, menghadapi peserta dari berbagai negara di Asia hingga Eropa.
Kepala SMAN 4 Ambon, Mezack Tentua, S.Th., M.Pd.K, menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang dilalui para siswa dengan penuh disiplin dan konsistensi. Dalam tiga tahun terakhir, sekolah ini telah berulang kali tampil di ajang internasional di berbagai negara seperti Thailand dan Vietnam, dengan torehan medali mulai dari gold, silver hingga titanium.
“Ini bukan sesuatu yang instan. Ada proses panjang yang dilalui anak-anak. Tahun ini mereka berhasil menembus Innovation Award, yang berarti mereka sudah berada di level kompetisi yang lebih tinggi,” ujarnya kepada awak media beberapa waktu lalu.
Perjalanan menuju final ICIA 2026 juga tidak mudah. Tiga tim dari SMAN 4 Ambon harus melewati seleksi nasional yang ketat, mulai dari pengiriman proposal inovasi, presentasi dalam bentuk video, hingga sesi wawancara langsung bersama dewan juri internasional.
Tahapan wawancara menjadi momen krusial yang menentukan. Pada tahap ini, para peserta diuji tidak hanya dari sisi ide, tetapi juga kedalaman pemahaman, ketajaman analisis, serta kemampuan komunikasi dalam menjelaskan inovasi mereka di hadapan juri global.
“Hanya satu tim yang akhirnya lolos ke final. Ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan di tingkat nasional,” kata Tentua.
Tim yang berhasil melaju ke final terdiri dari dua siswa, Charisa Jeaniver Lawalata dan Fayola Queen Risakotta. Keduanya mengusung inovasi berjudul “AquaRisk-AI (AI Based Water Quality Risk Monitoring System)”, sebuah sistem berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk memantau kualitas air secara real-time.
Inovasi ini hadir sebagai jawaban atas persoalan mendasar di wilayah kepulauan seperti Maluku, yang sangat bergantung pada ketersediaan air bersih. Dengan memanfaatkan teknologi AI, sistem AquaRisk-AI mampu mendeteksi perubahan parameter kualitas air seperti pH, kekeruhan, hingga potensi kandungan zat berbahaya, kemudian mengolah data tersebut menjadi peringatan dini yang akurat.
Lebih dari sekadar proyek ilmiah, inovasi ini memiliki potensi implementasi nyata. Sistem tersebut dapat digunakan oleh pemerintah maupun masyarakat untuk mengambil langkah cepat dalam mencegah krisis air bersih, sehingga memberi dampak langsung terhadap kesehatan dan keberlanjutan lingkungan.
Kedua siswa ini dijadwalkan bertolak menuju Phnom Penh, Kamboja, pada 24–26 April 2026 untuk mengikuti babak final ICIA, didampingi guru pembimbing. Perjalanan mereka akan dimulai dari Ambon menuju Jakarta, sebelum melanjutkan penerbangan internasional.
Bagi SMAN 4 Ambon, pencapaian ini menjadi simbol bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk bersaing di tingkat global. Justru dari daerah, lahir ide-ide inovatif yang relevan dan solutif terhadap persoalan nyata.
“Ini kebanggaan bagi sekolah, alumni, dan masyarakat Maluku. Kami bersyukur atas capaian ini dan berharap dukungan terus mengalir,” ungkap Tentua.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Maluku, khususnya Gubernur Hendrik Lewerissa, serta Dinas Pendidikan yang telah memberikan dukungan dalam pengembangan potensi siswa.
Dengan rekam jejak prestasi yang sudah terbangun, target yang diusung pun tidak main-main. SMAN 4 Ambon membidik hasil terbaik di ajang ini.
“Kami optimis bisa meraih gold. Anak-anak sudah siap, tinggal memberikan yang terbaik di panggung internasional,” tegasnya.
Kini, harapan itu bertumpu pada dua pelajar muda yang membawa nama Ambon dan Indonesia. Dari ruang kelas sederhana di timur negeri, mereka melangkah pasti menuju dunia membawa pesan bahwa inovasi tidak mengenal batas wilayah, dan masa depan bisa dimulai dari mana saja.(CNmy)
