
AMBON, cahaya-nusantara.com
Semangat kreativitas generasi muda Maluku kembali mendapat ruang untuk berkembang. UPTD Taman Budaya Provinsi Maluku menggelar Workshop Seni Rupa dan Kriya Tingkat SMA/SMK/SLB Tahun 2026 yang berlangsung di Galeri Lia-Lia, Taman Budaya Provinsi Maluku, Karang Panjang, Ambon, pada 8–12 Juni 2026. Sebanyak 30 pelajar dari 20 sekolah di Maluku ambil bagian dalam kegiatan bertema “Harmoni Talenta Beta” tersebut.
Workshop yang berlangsung selama lima hari ini menjadi wadah bagi para pelajar untuk mengasah kemampuan, memperluas wawasan seni, sekaligus mengekspresikan ide dan kreativitas mereka melalui berbagai karya seni rupa dan kriya.

Workshop ini secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Dr. Sarlota Singerin, S.Pd., M.Pd.dan ditandai dengan pencoretan garis pada papan gambar bersama salah satu peserta, guru pendamping, dan kepala sekolah. Momen simbolis tersebut menggambarkan dimulainya perjalanan kreatif para peserta dalam mengeksplorasi bakat dan potensi seni yang mereka miliki.
Dalam sambutannya, Singerin memberikan apresiasi kepada Taman Budaya Maluku yang tetap konsisten menjalankan program pembinaan seni dan budaya meski di tengah tantangan keterbatasan fiskal daerah. Menurutnya, keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi penghalang untuk terus menghadirkan ruang-ruang kreatif bagi generasi muda.
“Tidak ada uang bukan berarti tidak ada kegiatan. Taman Budaya terus menunjukkan bahwa kehidupan seni dan budaya tetap berjalan. Terima kasih kepada seluruh panitia dan pihak yang terus bekerja menghadirkan ruang kreatif bagi generasi muda Maluku,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan memberikan perhatian besar terhadap pengembangan seni dan budaya sebagai bagian penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Dukungan tersebut diwujudkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik Bantuan penyelenggaran (BOP) Taman Budaya yang diarahkan untuk menemukan, membina, dan mempublikasikan talenta-talenta seni dari berbagai daerah, termasuk Maluku.
Menurut Singerin, potensi seni yang dimiliki generasi muda Maluku sangat besar, namun belum seluruhnya teridentifikasi dan terfasilitasi. Dari sekitar 98 ribu siswa yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota, jumlah yang aktif mengikuti kegiatan seni masih relatif kecil. Karena itu, dibutuhkan sinergi antara sekolah, pemerintah daerah, dan Taman Budaya untuk menjaring lebih banyak talenta muda yang selama ini belum tersentuh pembinaan.
Ia juga menekankan pentingnya memberikan kebebasan dan ruang berekspresi kepada peserta didik. Kreativitas, menurutnya, tumbuh dari keberanian untuk mencoba, berinovasi, dan menuangkan gagasan menjadi karya nyata.
“Tidak ada ide yang terlalu kecil untuk diwujudkan menjadi karya yang bernilai besar. Anak-anak harus diberi kesempatan bereksplorasi agar bakat dan kreativitas mereka dapat tumbuh dengan baik,” katanya.
Lebih jauh, Singerin mengajak para pelajar menjadikan kekayaan budaya dan keindahan alam Maluku sebagai sumber inspirasi utama dalam berkarya. Nilai-nilai lokal yang diwariskan leluhur dinilai memiliki kekuatan artistik yang mampu melahirkan karya-karya berkualitas dan relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas daerah.
“Kita ingin anak-anak Maluku bangga mengangkat budaya dan lingkungan mereka sendiri dalam karya seni. Itulah kekayaan yang harus terus dijaga dan dikembangkan,” ujarnya.
Selain menghasilkan karya seni, proses berkarya juga dinilai memiliki peran penting dalam pembentukan karakter. Melalui seni rupa dan kriya, peserta belajar tentang disiplin, ketekunan, kesabaran, kreativitas, hingga kemampuan memecahkan masalah yang akan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kesempatan itu juga , Singerin mendorong agar karya-karya terbaik yang dihasilkan peserta nantinya dapat didaftarkan untuk memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Langkah itu dianggap penting sebagai bentuk perlindungan sekaligus penghargaan terhadap hasil kreativitas para pelajar.

Sementara itu, Kepala Seksi Penyajian Apresiatif Seni dan Budaya UPTD Taman Budaya Provinsi Maluku yang juga Ketua Panitia Pelaksana, Prihe S. Letlora, S.S., M.Hum, menjelaskan bahwa workshop ini merupakan bagian dari program pembinaan dan manajemen talenta seni budaya bagi generasi muda Maluku.
Menurutnya, seni rupa dan kriya tidak hanya sebatas aktivitas menggambar, melukis, memahat, atau membuat kerajinan tangan, tetapi juga menjadi media bagi peserta untuk menyampaikan gagasan, identitas budaya, serta cara pandang mereka terhadap kehidupan.
“Melalui workshop ini peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga pendampingan untuk mengembangkan potensi diri, membangun portofolio karya, memperluas jejaring kreatif, dan meningkatkan kepercayaan diri sebagai calon seniman masa depan,” katanya.
Tema “Harmoni Talenta Beta”, lanjut Prihe, lahir dari keyakinan bahwa setiap anak Maluku memiliki bakat yang unik dan berharga. Talenta tersebut perlu dikenali, diasah, dan diberi ruang untuk berkembang sehingga mampu melahirkan karya yang tidak hanya membanggakan diri sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat dan daerah.

Untuk mendukung proses pembelajaran, workshop menghadirkan tiga narasumber berpengalaman, yakni Helmi Ishak Johanes dan Klemens Sarimanela pada bidang Seni Rupa, serta Minondhy Kastanya pada bidang Kriya. Selama lima hari pelaksanaan, para peserta akan mendapatkan materi, praktik, serta pendampingan langsung dalam proses penciptaan karya.
Sebagai puncak kegiatan, seluruh hasil karya peserta akan dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa dan Kriya Pelajar yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026. Pameran tersebut menjadi ruang apresiasi sekaligus panggung bagi para pelajar untuk menampilkan hasil kreativitas dan kemampuan yang telah mereka kembangkan selama mengikuti workshop.
Kegiatan Workshop ini terselenggara melalui dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Taman Budaya Tahun 2026, yang menjadi wujud nyata komitmen pemerintah dalam memperkuat peran taman budaya sebagai pusat pembinaan, pengembangan talenta, dan apresiasi seni budaya.
Prihe mengatakan Melalui workshop ini, diharapkan lahir generasi muda Maluku yang kreatif, produktif, inovatif, serta mampu menjadikan seni sebagai sarana pengembangan diri dan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah sekaligus pelestarian budaya Maluku.
(CNmy)
