AMBON, cahaya-nusantara.com

Meski ada indikator karakter yang masih perlu di perbaiki,kepala sekolah optimis hasil 2025 semakin baik.

SMA Negeri 4 Ambon kembali menorehkan prestasi membanggakan. Untuk tahun ketiga berturut-turut, rapor pendidikan sekolah ini menunjukkan hasil keseluruhan berwarna hijau, menandakan capaian positif di berbagai komponen penilaian. Meski demikian, masih ada beberapa subindikator pada aspek karakter yang perlu ditingkatkan.

Kepala SMA Negeri 4 Ambon, Mezack Tentua, S.Th., M.Pd.K, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (12/8/2025), mengatakan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh pihak sekolah.

“Kalau hijau itu berarti berbagai instrumen penilaian rapor pendidikan memberikan indikasi baik yang harus dipertahankan dan ditingkatkan,” ujarnya.

Pelaksanaan Asesmen Nasional di SMA Negeri 4 Ambon diawali dengan tahapan simulasi pada 23–24 Juli 2025, diikuti oleh seluruh peserta. Simulasi ini memperkenalkan bentuk soal dan penyesuaian penggunaan komputer. Tahap berikutnya adalah gladi yang berlangsung pada 30–31 Juli, juga melibatkan semua peserta.

Asesmen nasional sendiri dilaksanakan pada 6–7 Agustus 2025 dengan jumlah peserta 50 siswa,45 peserta inti dan 5 cadangan. Nama nama peserta ditentukan secara acak oleh pusat melalui data Dapodik, tanpa campur tangan sekolah.

“Puji Tuhan, semua peserta hadir tanpa ada yang berhalangan, baik yang inti maupun cadangan,” kata Mezack.

Literasi dan Numerasi Hijau, Karakter Masih Perlu Ditingkatkan
Dua tahun terakhir, indikator literasi dan numerasi SMA Negeri 4 Ambon sudah hijau. Namun, pada indikator karakter, masih terdapat beberapa subindikator yang kuning.

Asesmen hari pertama memuat tes literasi dan survei lingkungan sekolah, sedangkan hari kedua berisi tes numerasi dan survei karakter. Menurut Mezack, tantangan pada survei karakter terjadi karena pemahaman siswa yang beragam terhadap pertanyaan yang diajukan.

“Kadang anak-anak belum memahami secara benar, sehingga memengaruhi hasil. Tapi untuk survei lingkungan, semuanya sudah hijau,” jelasnya.

Selanjutnya Mezack mengatakan Untuk memperbaiki indikator karakter, sekolah mengacu pada 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dan Profil Pelajar Pancasila. Kebiasaan ini meliputi bangun pagi, tidur tepat waktu, berolahraga, makan bergizi, rajin belajar, berkomunikasi dengan baik, dan berpartisipasi dalam masyarakat.

Mezack menegaskan, pembentukan karakter bukan sekadar program, tetapi harus menjadi kebiasaan yang tertanam.

“Kalau anak terbiasa bangun pagi atau makan bergizi, maka saat mengisi survei, mereka menganggap itu hal biasa,” ujarnya.

Salah satu langkah konkret yang diterapkan adalah komunikasi intens dengan orang tua, termasuk penggunaan jurnal kebiasaan. Misalnya, jurnal tidur cepat yang ditandatangani orang tua , seperti misalnya buku komunikasi anak sekolah Minggu , pengasuh dan orang tua yang tanda tangan untuk memastikan siswa tidur maksimal pukul 22.00.

Mezack mengakui tantangan terbesar saat ini adalah penggunaan gawai hingga larut malam yang mengganggu jam tidur siswa.

“Banyak orang tua pikir anaknya sudah tidur, padahal masih main HP sampai jam 2 atau 3 pagi. Ini berpengaruh pada keterlambatan datang ke sekolah,” tegasnya.

Menurutnya, peran orang tua sangat penting karena siswa lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibandingkan di sekolah.

“Di sekolah hanya tiga tahun, di rumah bersama orang tua jauh lebih lama. Jadi pendidikan karakter harus jadi tanggung jawab bersama,” tutupnya.(CN-02)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *