AMBON, cahaya-nusantara.com

Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Maluku, Ny. Nita Sadali, SP., M.H., menegaskan pentingnya etika dan kemampuan berbicara di depan umum bagi para istri Aparatur Sipil Negara (ASN), sebagai bagian dari peran strategis dalam mendukung tugas suami dan kehidupan sosial.

Hal ini disampaikan usai Workshop Public Speaking yang digelar DWP Provinsi Maluku di Grand Avira Hotel, Ambon, Selasa (28/4/2026). Kegiatan ini digelar dalam momentum peringatan Hari Kartini, dengan mengusung semangat membentuk “Kartini masa kini” yang inspiratif dan beretika.
Menurut Nita, workshop ini secara khusus diperuntukkan bagi internal DWP, tanpa melibatkan organisasi perempuan lainnya.

Tujuannya untuk membekali para anggota, terutama yang baru bergabung, agar memahami etika dasar sebagai istri ASN, mulai dari cara berbicara, berpakaian, hingga bersikap dalam berbagai forum.

“Sebagai istri ASN, banyak hal yang perlu dipahami, terutama terkait etika. Bagaimana cara berbicara, berpakaian, dan menempatkan diri dalam sebuah kegiatan formal maupun nonformal. Ini penting agar mereka siap tampil di ruang publik,” ujarnya.

Ia menyoroti fenomena menurunnya kesadaran etika di tengah perkembangan zaman, di mana nilai penghormatan terhadap yang lebih tua mulai tergerus.
Karena itu, DWP merasa perlu mengambil peran dalam menguatkan kembali nilai-nilai tersebut di lingkungan keluarga ASN.

“Kami melihat sekarang ini etika mulai disampingkan. Ini menjadi perhatian kami, sehingga pembinaan seperti ini penting untuk membentuk karakter ibu-ibu sebagai pendamping ASN,” tambahnya.

Selain penguatan etika, kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi dan konsultasi antar anggota DWP dari kabupaten/kota, termasuk terkait dinamika organisasi dan kepengurusan. Dari total 11 kabupaten/kota, sebanyak tujuh daerah hadir, sementara empat lainnya, termasuk Kota Ambon, berhalangan karena agenda lain.

Nita mengaku bersyukur atas antusiasme peserta dan menilai materi yang disampaikan sangat bermanfaat. Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dan ditularkan kembali di daerah masing-masing.

“Kami berharap apa yang didapat hari ini bisa diterapkan, bahkan dikembangkan di kabupaten/kota masing-masing, sehingga manfaatnya lebih luas,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penampilan istri ASN tidak harus mewah, namun harus disesuaikan dengan situasi dan tetap menjunjung tata krama.

“Yang penting bukan mahalnya pakaian, tapi kesesuaian dengan acara dan etika yang ditampilkan. Di situlah letak pesona seorang perempuan,” jelasnya.

Ia juga mengenang program pembinaan serupa yang pernah digelar pemerintah pusat, seperti “ladies program” bagi istri pejabat eselon II dan III, yang dinilai sangat efektif dalam membentuk kepercayaan diri dan etika publik. Namun, karena program tersebut kini tidak lagi berjalan, DWP berinisiatif menghadirkan pelatihan serupa dalam lingkup organisasi.

Di akhir pernyataannya, Nita menyampaikan harapannya agar perempuan masa kini, khususnya anggota DWP, mampu menjadi sosok inspiratif yang membawa perubahan positif di keluarga dan masyarakat.

“Satu kata untuk Kartini masa kini: inspiratif. Ke depan, kita harus terus melahirkan perempuan-perempuan yang mampu memberi dampak dan menjadi teladan bagi generasi penerus,” pungkasnya.(CNmy)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *