
AMBON, cahaya-nusantara.com
Bupati Buru Selatan La Hamidi mendorong penguatan ketahanan pangan melalui percepatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan hilirisasi ubi kayu. Pemerintah daerah juga memastikan hotong tetap dikembangkan sebagai pangan lokal yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Buru Selatan.
Dorongan tersebut disampaikan La Hamidi usai menghadiri pelantikan pengurus DPW dan DPD PAN se-Provinsi Maluku di Hotel Santika Premiere Ambon. Menurutnya, sejumlah program pangan saat ini terus diproses untuk mendukung kebutuhan masyarakat sekaligus mengembangkan potensi pangan lokal di daerah.
Untuk program MBG, La Hamidi menyebut saat ini baru tiga dapur yang beroperasi di Buru Selatan. Sementara dapur lainnya, khususnya yang berada di wilayah 3T, akan dibangun sesuai petunjuk teknis terbaru.
“Terkait MBG, untuk sementara di Buru Selatan baru tiga dapur yang beroperasi,” ujar La Hamidi.
Ia menjelaskan, titik pembangunan dapur 3T telah ditentukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Dengan telah terbitnya petunjuk teknis terbaru, proses pembangunan dapur tersebut selanjutnya akan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain MBG, Pemerintah Kabupaten Buru Selatan juga tengah mendorong hilirisasi ubi kayu. La Hamidi mengatakan proses tersebut sedang berjalan dan pemerintah daerah memilih untuk tidak banyak berbicara sebelum tahapan yang dilakukan menunjukkan hasil.
“Doakan saja, beta belum mau bicara lebih jauh. Tapi sementara sekarang beta sudah berproses,” katanya.
Menurut La Hamidi, hilirisasi ubi kayu menjadi salah satu peluang yang perlu disiapkan Buru Selatan. Apalagi, Kementerian Pertanian juga mendorong program hilirisasi komoditas tersebut pada 2027.
“Katong lagi berproses untuk mendorong program hilirisasi ubi kayu di Kabupaten Buru Selatan,” ujarnya.
La Hamidi menegaskan Buru Selatan berupaya menjemput peluang tersebut lebih awal. Pengembangan hilirisasi diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai komoditas, tetapi juga memperkuat sektor pangan daerah.
Di tengah upaya tersebut, budidaya hotong tetap menjadi perhatian pemerintah daerah. La Hamidi memastikan tanaman pangan lokal itu tetap dikembangkan, terutama di wilayah yang masyarakatnya telah membudidayakan hotong secara turun-temurun.
“Hotong tetap jalan. Katong akan dorong dia sebagai makanan lokal yang punya nilai sejarah,” kata La Hamidi.
Ia menyebut hotong memiliki ciri khas tersendiri dan selama ini menjadi bagian dari konsumsi masyarakat lokal Buru Selatan. Karena itu, pengembangannya akan disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan wilayah masing-masing.
Saat ini, kata La Hamidi, hotong baru dibudidayakan di tiga desa di Kabupaten Buru Selatan. Pemerintah daerah akan terus mendorong pengembangannya sebagai bagian dari upaya menjaga pangan lokal dan memperkuat ketahanan pangan daerah.(CNmy)
