AMBON, cahaya-nusantara.com

Kantor Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) Ambon bersama unsur potensi SAR lainnya berhasil menyelesaikan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terkait insiden kecelakaan kapal di perairan Kabupaten Kepulauan Aru. Sebanyak 41 penumpang sebuah speed boat yang mengalami mati mesin di Perairan Fatudjuring berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, Sabtu (10/10/2026).

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kankar) Kelas A Ambon, Muhamad Arafah, S.H., M.Si., menyatakan bahwa Operasi SAR H.1 resmi dinyatakan selesai dan ditutup setelah seluruh korban tiba dengan aman di Pelabuhan Dobo.

“Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa maupun hilang dalam kejadian ini. Seluruh 41 orang penumpang ditemukan dalam kondisi sehat dan telah diserahkan kepada pihak keluarga,” ujar Arafah dalam keterangan resminya.

Kronologi Kejadian

Insiden bermula pada Jumat (9/10/2026) pukul 11.00 WIT, ketika sebuah speed boat dengan rute Dobo menuju Kampung Ngaiguli mengalami mati mesin di tengah perjalanan. Perahu tersebut terdampar di sekitar Perairan Fatudjuring, membawa serta 41 penumpang yang terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak.

Laporan darurat diterima oleh Basarnas Ambon pada pukul 19.15 WIT dari Bapak Marku Timjuir Matakur, salah satu keluarga korban. Segera setelah menerima informasi, Pos Pencarian dan Pertolongan (Pos SAR) atau Unit Siaga Sarana (USS) Kep Aru mengkoordinasikan pengerahan tim.

Kolaborasi Tim SAR Gabungan

Dalam operasi ini, Basarnas tidak bekerja sendiri. Tim Rescue USS Kep Aru berkolaborasi erat dengan unsur potensi SAR, khususnya Polairud Kepulauan Aru. Mereka segera bergerak menuju lokasi menggunakan perahu karet (Rigid Inflatable Boat/RIB). Lokasi kejadian berada di koordinat 5°58’52.74″S, 134° 8’41.49″E, atau sekitar 15 Nautical Mile (NM) arah Barat Daya dari posisi USS Kep Aru.

Meski tinggi gelombang relatif rendah (0,5 – 1,25 meter), tim menghadapi kendala visibilitas akibat cuaca berawan tebal dan kabut yang menyelimuti perairan. Angin tenggara dengan kecepatan 5-13 knots juga turut mempengaruhi manuver perahu.

“Pukul 21.50 WIT, tim tiba di lokasi dan menemukan speed boat beserta seluruh korban. Karena keterbatasan daya angkut RIB, evakuasi dilakukan secara bertahap,” jelas Arafah.

Sebanyak 27 orang penumpang, yang meliputi kelompok rentan seperti lansia dan anak kecil, segera dievakuasi menggunakan RIB menuju Pelabuhan Dobo. Sementara itu, 14 orang lainnya tetap berada di speed boat untuk menunggu proses towing (penarikan) oleh kapal bantuan agar sampai ke daratan dengan aman.

Seluruh korban yang berusia antara 1 hingga 79 tahun tersebut kini telah diserahkan kepada keluarga. Berikut adalah daftar nama 41 korban yang berhasil diselamatkan:

  1. Mey (36 Tahun/P)
  2. Lea (19 Tahun/P)
  3. Altor (11 Tahun/L)
  4. Olif (8 Tahun/P)
  5. Ghea (7 Tahun/P)
  6. Ana (40 Tahun/P)
  7. Meri (40 Tahun/P)
  8. Adin (4 Tahun/P)
  9. Chareku (1 Tahun/P)
  10. Ros (43 Tahun/P)
  11. Alen (3 Tahun/P)
  12. Dea (30 Tahun/P)
  13. Fina (29 Tahun/P)
  14. Nimrot (37 Tahun/L)
  15. Ernes (38 Tahun/P)
  16. Ika (35 Tahun/P)
  17. Shen (8 Tahun/L)
  18. Lapri (34 Tahun/L)
  19. Susi (34 Tahun/P)
  20. Chaleku (2 Tahun/L)
  21. Jondry (1 Tahun/L)
  22. Bapa Rum (54 Tahun/L)
  23. Karmai (7 Tahun/L)
  24. Otha (23 Tahun/L)
  25. Dhece (36 Tahun/P)
  26. Marta (53 Tahun/P)
  27. Koba Layaba (42 Tahun/P)
  28. Thinus Tee (62 Tahun/L)
  29. Hendi (63 Tahun/L)
  30. Apo Nate (74 Tahun/L)
  31. Eli Kee (47 Tahun/L)
  32. Dakov (34 Tahun/L)
  33. Ngebel (33 Tahun/L)
  34. Ngebel (19 Tahun/L)
  35. Ongen (32 Tahun/L)
  36. Anis (23 Tahun/L)
  37. Apo (79 Tahun/L)
  38. Ana (32 Tahun/P)
  39. Petu (41 Tahun/L)
  40. Tenggo (52 Tahun/L)
  41. Eca (40 Tahun/P)

Imbauan Keselamatan Pelayaran

Dengan berakhirnya operasi ini, Basarnas Ambon kembali mengingatkan masyarakat dan pengguna transportasi laut tradisional maupun modern untuk selalu memprioritaskan keselamatan.

“Kami mengimbau para operator kapal dan masyarakat untuk selalu memeriksa kelayakan mesin sebelum melaut, serta memantau prakiraan cuaca dari BMKG. Kesiapan alat komunikasi dan alat keselamatan diri juga sangat penting untuk meminimalisir risiko di tengah laut,” tutup Arafah.

Keberhasilan evakuasi 41 nyawa ini menjadi bukti sinergi yang kuat antara Basarnas, Polairud, dan masyarakat dalam menjaga keselamatan pelayaran di wilayah Maluku. (CNmy)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *