Ambon, cahaya-nusantara.com

Situasi pasca aksi ricuh di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura (Unpatti) masih menyisakan ketegangan di ruang publik, (01/03/26). Di tengah beredarnya berbagai opini dan tudingan, Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ambon akhirnya menyampaikan pernyataan tegas dan bernada keras saat dihubungi via WhatsApp.

Ia menegaskan bahwa kampus bukan panggung sandiwara politik, bukan juga arena adu narasi tanpa dasar. Menurutnya, terlalu mudah bagi sebagian pihak untuk menunjuk jari, namun enggan menunggu proses hukum yang sah.

“Kalau ada yang merasa paling tahu siapa salah dan siapa benar sebelum proses hukum berjalan, mungkin dia lebih hebat dari penyidik. Tapi kampus ini bukan ruang untuk asumsi liar,” ujarnya dengan nada tajam.

Ketua GMKI Cabang Ambon menolak keras segala bentuk generalisasi terhadap organisasi mahasiswa. Ia mengingatkan bahwa tindakan oknum tidak serta-merta menjadi representasi lembaga. GMKI, katanya, adalah organisasi kader yang memiliki konstitusi, mekanisme etik, dan disiplin organisasi yang jelas.

“Jangan karena satu-dua orang, lalu lembaga ditarik masuk ke pusaran opini tanpa bukti. GMKI ini bukan organisasi jalanan tanpa aturan. Kami punya AD/ART, kami punya mekanisme internal, dan kami berdiri di atas nilai intelektualitas,” tegasnya.

Ia juga menyinggung fenomena “penunggang isu” yang kerap muncul dalam setiap konflik kampus. Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa ada pihak-pihak yang terlihat lebih sibuk membangun opini daripada merawat situasi agar tetap kondusif.

“Lucu kalau ada yang lebih semangat menyebar narasi dibanding menjaga perdamaian. Seolah-olah kerusuhan adalah komoditas, dan konflik adalah peluang,” katanya secara sarkastik.

Menurutnya, Unpatti adalah kampus orang basudara. Identitas itu bukan sekadar slogan seremonial, tetapi nilai yang harus dijaga dalam praktik kehidupan akademik sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa Ambon telah melalui sejarah panjang konflik, sehingga generasi mahasiswa hari ini seharusnya lebih dewasa dalam menyikapi persoalan.

“Ambon ini kota yang pernah belajar mahal tentang arti damai. Jangan ada yang coba-coba menguji ingatan kolektif itu dengan memainkan isu dan memperkeruh keadaan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pada Sabtu, 28 Februari 2026, telah dilakukan audiensi yang difasilitasi pimpinan rektorat Universitas Pattimura dan dihadiri oleh Kepolisian Daerah Maluku, Rektor Unpatti, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Wakil Ketua I Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), serta perwakilan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan GMKI.

Dari pertemuan tersebut, disepakati bahwa proses penegakan hukum atas insiden dimaksud sepenuhnya diserahkan kepada aparat penegak hukum. Semua pihak diminta menghormati mekanisme hukum yang sedang berjalan dan tidak membangun opini yang dapat memperkeruh suasana.

“Keputusan bersama sudah jelas. Proses hukum diserahkan kepada aparat. Maka semua pihak harus menghormati itu. Jangan mendahului, jangan menggiring,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa dalam situasi ini, pimpinan kampus harus bersikap tegas sekaligus akomodatif dalam mengawal penyelesaian persoalan. GMKI, kata dia, siap berdiri bersama Rektor Unpatti untuk memastikan proses berjalan secara adil dan bermartabat.

“Rektor juga harus tegas dan akomodatif. Tegas dalam menegakkan aturan kampus, dan akomodatif dalam merangkul semua pihak agar persoalan ini tidak melebar. GMKI siap bersama Rektor Unpatti dalam berproses menyelesaikan masalah ini secara bermartabat,” tegasnya.

Ketua GMKI Cabang Ambon turut menghimbau seluruh kader GMKI untuk tetap fokus pada aktivitas akademik dan menjaga nama baik organisasi. Ia meminta agar tidak ada kader yang terpancing provokasi atau ikut dalam tindakan yang bertentangan dengan hukum.

“Saya tegaskan kepada seluruh kader GMKI Cabang Ambon, jaga kampus ini. Tertibkan diri, tertibkan ruang-ruang diskusi, dan jangan terpancing oleh provokasi yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan teguran keras kepada siapa pun yang mencoba memanfaatkan kasus ini untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.

“Ini peringatan terbuka. Tidak ada seorang pun yang bisa memanfaatkan isu ini untuk agenda tersembunyi. Jangan main-main. Jangan tunggangi kasus ini demi popularitas sesaat atau kepentingan politik kecil-kecilan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa jika ada pihak yang sengaja membangun narasi tanpa dasar hukum, maka itu sama saja dengan merusak marwah kampus dan mencederai akal sehat publik.

“Kita ini mahasiswa, bukan buzzer konflik. Kalau ingin mencari panggung, cari di ruang akademik, bukan di atas bara persoalan yang belum selesai,” sindirnya.

Di akhir pernyataan, Ketua GMKI Cabang Ambon menegaskan komitmen organisasinya untuk turut menjaga stabilitas dan ketertiban di lingkungan Universitas Pattimura.

“Kami akan menjaga dan menertibkan Unpatti sebagai rumah bersama. Tidak ada ruang bagi provokasi, tidak ada ruang bagi kepentingan sempit. Semua harus kembali pada hukum, pada akal sehat, dan pada semangat persaudaraan,” pungkasnya. (CNi)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *